Nyali Besar Industri Komponen Bangunan Jelang Tahun Politik

Industri komponen bangunan berani memasang target pertumbuhan sangat agresif tahun ini. Mereka berencana memacu produksi dan penjualan pada 2022, mengingat pada 2023 Indonesia sudah memasuki tahun politik menuju Pemilihan Presiden 2024. Apa katalis yang bisa mendorong pencapaian ambisi sektor ini?

Wike D. Herlinda
Feb 22, 2022 - 6:00 AM
A-
A+
Nyali Besar Industri Komponen Bangunan Jelang Tahun Politik

Bisnis, JAKARTA — Awan cerah mulai berarak menaungi segelintir lini industri komponen bangunan. Hal itu terefleksi dari target ambisius yang berani dipatok pemerintah untuk subsektor ini, sejalan dengan mulai bergairahnya aneka proyek infrastruktur dan residensial pada 2022. 

Kementerian Perindustrian, dalam hal ini, membidik pertumbuhan industri komponen bangunan—termasuk semen, keramik, dan produk pengolahan bahan—di level 5,1 persen pada tahun ini.

Target tersebut jelas meroket dari realisasi pertumbuhan pada 2021 yang hanya sanggup menyentuh 0,89 persen, alias meleset jauh dari target awal sebesar 2,79 persen. 

(BACA JUGA: Ekspor Semen Tertahan Harga Khusus Batu Bara)

Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam Kementerian Perindustrian Wiwik Pudjiastuti menjelaskan anjloknya realisasi pertumbuhan industri komponen bangunan pada 2021 lebih banyak dipicu oleh pembatasan mobilitas yang ketat.

"[Untuk itu], proyeksi pertumbuhan [industri komponen bangunan] 2022 [ditetapkan] sebesar 5,1 persen, meski tantangan pandemi belum berakhir," kata Wiwik kepada Bisnis, baru-baru ini.

(BACA JUGA: Mengalirkan Lagi Luapan Kontribusi Manufaktur ke PDB)

Target agresif tersebut turut mempertimbangkan faktor perluasan program vaksinasi Covid-19 dosis kedua dan dosis ketiga (booster), yang diharapkan mampu mengatasi pandemi di dalam negeri dan mengakselerasi pemulihan ekonomi.

Khusus untuk industri komponen bangunan subsektor semen, kata Wiwik, pertumbuhan tahun ini bahkan dipatok sebesar 5,4 persen dengan ditopang oleh kebangkitan proyek konstruksi dan pembangunan infrastruktur pemerintah.

(BACA JUGA: Siasat Emiten Alat Berat Berkelit dari Tekanan Harga Material)

Asa tersebut selaras dengan hasil riset dari Building Construction Information (BCI) Asia, yang memaparkan bahwa pembangunan konstruksi di Indonesia pada 2022 diprediksi meningkat pesat. 

Ilustrasi proyek konstruksi./dok. Kementerian PUPR

Berdasarkan hasil riset yang dirilis akhir 2021 itu, nilai proyek gedung pada 2022 diperkirakan Rp157,47 triliun dengan ditopang oleh pertumbuhan sektor perumahan dan industri. Khusus untuk kategori industri, nilainya ditaksasi menembus Rp37 triliun.

Sementara itu, proyek infrastruktur masih akan menjadi tulang punggung utama pasar konstruksi yang nilainya diestimasikan menyentuh Rp107,15 triliun.

Di sisi lain, pangsa pasar residensial juga diperkirakan mencapai Rp54,24 triliun dan gerai ritel sebesar Rp17,17 triliun. Adapun, proyek perkantoran menunjukkan sedikit tren peningkatan menjadi Rp15,14 triliun dan kategori perhotelan sebesar Rp7,79 triliun.  

Di balik potensi-potensi pasar tersebut, bagaimanapun, Wiwik tetap tidak menampik bahwa industri komponen bangunan juga masih ditantang kendala rencana penerapan pelarangan truk over dimension and overload (ODOL) yang akan mulai diberlakukan awal 2023.

"Penerapan Zero ODOL pada 2023 akan meningkatkan biaya logistik. Di industri semen juga ada tantangan harga batu bara yang belum kembali ke tingkat normal," kata Wiwik.

Menyitir data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2021 subsektor konstruksi sebagai penopang industri komponen bangunan, tercatat tumbuh 2,81 persen secara year on year (YoY). Per kuartal IV/2021 saja, sektor tersebut tumbuh 3,91 persen YoY. 

BERKAH INSENTIF

Selaras dengan target ambisius pemerintah, salah satu lini industri komponen bangunan—yaitu baja ringan—turut optimistis utilisasi produksi tahun ini bakal makin menguat berkat insentif perpanjangan diskon pajak pertambahan nilai (PPN) di sektor perumahan.

Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) mencatat rata-rata utilitas kapasitas produksi masih berada di angka 40 persen dengan total kapasitas produksi profil baja ringan sebanyak 800.000 ton. Dengan demikian, perkiraan produksi profil baja ringan sepanjang tahun lalu mencapai 320.000 ton.
 
 Ketua Umum ARFI Nicolas Kesuma mengatakan angka tersebut mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen dari 2020, saat realisasi produksi anjlok cukup dalam. 

Tahun ini, dengan gencarnya program vaksinasi dan insentif fiskal di sektor perumahan dari pemerintah, produksi baja ringan diharapkan bisa terkerek hingga 15 persen.

"Target kami minimum 15 persen karena vaksinasi sudah hampir 100 persen. Ketika masyarakat 100 persen tervaksinasi, kami harapkan industri akan tumbuh," ujarnya.

Nicolas tetap meyakini ada dampak berganda yang mengalir ke industri baja ringan dari perpanjangan insentif diskon PPN di sektor properti tahun ini, meski daya beli masyarakat terhadap perumahan belum sepenuhnya pulih.

Toh, perpanjangan PPN ditanggung pemerintah (DTP) tersebut ditempuh guna merangsang animo masyarakat dalam membeli hunian. 

Menurut catatan Kementerian Keuangan, realisasi serapan insentif PPN DTP perumahan merupakan yang paling rendah di klaster insentif dunia usaha, yakni sebesar Rp0,79 triliun.

Anggaran yang masuk dalam dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tersebut tercatat dimanfaatkan oleh 941 pengembang.

"Secara efek domino, [perpanjangan PPN DTP properti] pasti memberikan dampak positif ke industri baja ringan, tetapi balik lagi masyarakat prioritas [belanjanya] ke mana," ujar Nicolas.

Dengan adanya perbaikan kondisi usaha di dalam negeri, Nicolas berharap dapat mengerek utilitas kapasitas produksi sebesar 15 persen hingga 20 persen dari yang saat ini di bawah 50 persen.

Direktur Industri Logam pada Kementerian Perindustrian, Dini Hanggandari (kesatu dari kanan) bersama jajaran direksi dan tamu undangan melakukan tinjauan pabrik PT Tata Metal Lestari usai diresmikan pada Rabu (9/10/2019)./Antara-Pradita Kurniawan Syah

Dari sisi produsen baja ringan, PT Tata Metal Lestari berharap bergeliatnya pasar dalam negeri dapat mendorong utilitas perseroan hingga 100 persen, setelah anjlok ke level 60 persen akibat gelombang varian Delta pada 2021. 

Wakil Presiden Tata Metal Stephanus Koeswandi mengatakan pengusaha memiliki asa yang tinggi untuk mengerek produksi dan penjualan pada 2022, mengingat pada 2023 Indonesia sudah memasuki tahun politik menuju Pemilihan Presiden 2024.

Artinya, kondisi permintaan pada tahun depan berisiko tidak pasti seiring dengan potensi melembamnya sejumlah proyek infrastrutkur pemerintah pada tahun politik. Dengan demikian, harapan untuk memacu pendapatan bakal dimaksimalkan pada tahun ini. 

Untuk 2022, perbaikan pasar dalam negeri diharap dapat terjadi sebelum pemerintah memberlakukan kenaikan PPN sebesar 11 persen pada April.

Guna menggapai asa tersebut, Stephanus berharap Kementerian Perindustrian segera menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk sejumlah produk baja hilir, seperti Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) dan baja ringan.

Hal itu mengingat serbuan barang impor mulai kembali marak pada tahun lalu. Dari data BPS, importasi bahan baku baja ringan kembali naik dari 2019 sebesar 890.000 ton, kemudian turun pada 2020 menjadi 461.000 ton, dan mulai meningkat kembali di akhir 2021 menjadi 675.000 ton.

"SNI yang belum diwajibkan, bisa segera diwajibkan supaya kami bisa membendung market yang sudah tidak banyak ini, kami bisa bendung dari gempuran impor yang mulai meningkat," ujar Stephanus.

Sekadar catatan, Tata Metal menargetkan kenaikan produksi hingga 50 persen dari 150.000 ton pada tahun lalu menjadi 225.000 ton pada 2022.  

Stephanus menjabarkan target tersebut akan dicapai dengan memaksimalkan permintaan yang muncul dari perpanjangan PPN DTP sektor properti hingga September serta potensi serapan yang cukup besar dari banyaknya permintaan panel surya di industri properti.

"Trennya pengembang banyak kembali ke landed house dibandingkan dengan pembangunan apartemen. Kami melihat ada potensi yang cukup besar untuk landed house," kata Stephanus. 

KACA LEMBARAN

Tidak hanya industri baja ringan, para produsen kaca lembaran juga mengharapkan tuah dari perpanjangan insentif fiskal yang diberikan pemerintah pada tahun ini. 

Produsen kaca lembaran PT Asahimas Flat Glass Tbk. (AMFG), misalnya, optimistis ekstensi PPN DTP sektor perumahan serta relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan roda empat bakal menjadi katalis pendorong pertumbuhan industri kaca lembaran.  

Sepanjang 2021, perseroan mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 10 persen YoY menjadi 600.000 ton. 

Untuk tahun ini, meski tak menyebut proyeksi pertumbuhan, Sekretaris Perusahaan Asahimas Flat Glass Christoforus meyakini pemulihan ekonomi dapat terus mendukung pertumbuhan pasar kaca lembaran dan produksi pengaman otomotif dari anak usaha Asahimas, yaitu PT Auto Glass Indonesia (AGI). 

"Kebijakan pajak pada sektor properti dan otomotif membuat sektor riil kembali bergairah, termasuk penjualan kaca lembaran dan kaca otomotif perseroan yang pangsa pasarnya adalah sektor properti dan otomotif," kata Christoforus kepada Bisnis.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan perusahaan berlum merencanakan ekspansi kapasitas produksi pada tahun ini dan memilih untuk terus memaksimalkan fasilitas pabrikan yang ada.

Efek penurunan tarif gas berdampak positif bagi kinerja pabrikan kaca lembaran selama pandemi Covid-19. /ANTARA 

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan meyakini efek berganda dari berbagai stimulus fiskal pemerintah akan signifikan mengatrol kinerja industri kaca lembaran, mengingat serapannya yang tinggi ke sektor properti.

"Kebijakan perpanjangan PPN DTP untuk properti pasti berdampak positif terhadap industri kaca lembaran, mengingat sektor properti menyerap 70 persen produk kaca lembaran," kata Yustinus.  
 
 Selain kaca, Yustinus meyakini katalis ini juga akan dinikmati industri pendukung properti lainnya seperti semen dan keramik.

Kapasitas terpasang industri kaca lembaran nasional sebesar 1,35 juta ton per tahun. Pada tahun lalu, produksi berhasil tumbuh 12,8 persen menjadi 1,24 juta ton. 

Rasio penyerapan ke pasar domestik naik 10,2 persen menjadi 63,5 persen, sedangkan komposisi ekspor turun terpengaruh kelangkaan kontainer dan mahalnya biaya pengapalan.

Pada 2019 atau sebelum pandemi, produksi mencapai 1,12 juta ton dengan utilitas 83 persen. Pada 2020, produksi turun tipis menjadi 1,10 juta ton, dengan utilitas produksi hanya turun 2 persen saja. 

Harga gas bumi tertentu sebesar US$6 per MMBTU dinilai menjadi salah satu penopang industri pada 2020.

Yustinus pun meyakini perpanjangan insentif tersebut dapat mendukung proyeksi pertumbuhan produksi kaca lembaran tahun ini yang dipatok 5 persen YoY.

"Kenaikan 5 persen sudah sangat bagus mengingat baseline 2021 yang sudah baik, sebagai modal untuk bisa meningkat lagi," katanya.

Selain perpanjangan insentif fiskal, Yustinus pun meminta pemerintah untuk memperluas kebijakan-kebijakan yang mendukung iklim usaha kondusif, seperti memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib. 

Selain itu juga mengimplementasikan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.7/2021 tentang Pencatatan Sumber Daya Material dan Peralatan Konstruksi. Hal itu untuk mengoptimalkan penggunaan produk dalam negeri dalam proyek-proyek pemerintah.

Proses pembuatan botol kaca. Kepmen ESDM No. 89/2020 mengamanatkan adanya penurunan harga gas ke level US6 per mmBTU pada medio 2020. - .o/i.com

Sementara itu, produsen kaca PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA) membidik pertumbuhan penjualan 8 persen sepanjang tahun ini, setelah mencatatkan kenaikan 20 persen pada tahun lalu.

Direktur Mulia Industrindo Henry Bun mengatakan kaca pengaman untuk otomotif mencatatkan pertumbuhan nilai penjualan terbesar pada tahun lalu sebesar 48 persen, diikuti kaca botol sebesar 20 persen, dan blok kaca untuk properti sebesar 10 persen. 

Sementara itu, penjualan kaca lembaran tidak berubah dari posisi 2020.

Masifnya peningkatan penjualan kendaraan roda empat tahun lalu menjadi motor utama pertumbuhan penjualan kaca pengaman.

"Secara keseluruhan nilai penjualan dalam Rupiah naik 20 persen dibanding tahun 2020," kata Henry kepada Bisnis.

Pada tahun ini, penjualan kaca botol juga diproyeksi tumbuh 8 persen, kaca blok tumbuh 6 persen, dan kaca pengaman otomotif tumbuh 20 persen.

Dia juga menggarisbawahi pada tahun lalu utilitas  kapasitas produksi kaca perseroan berada pada angka maksimal. 

Adapun, kapasitas produksi kaca lembaran MLIA sebesar 620.500 ton per tahun, diikuti botol kemasan 220.825 ton per tahun, blok kaca 96.725 ton per tahun, dan kaca pengaman otomotif 195.000 ton per tahun.

Meski memproyeksikan pertumbuhan produksi dengan kapasitas yang terpakai maksimal, Henry mengatakan perseroan belum akan menambah fasilitas produksi pada tahun ini.

TERTEKAN IMPOR

Bagaimanapun, tidak semua lini industri komponen bangunan menghadapi jalan mulus untuk bertumbuh pesat pada 2022. Sebagian sektor, seperti baja lapis aluminium seng (BjLAS) masih dihantui isu serbuan impor untuk dapat membangkitkan produksi dan penjualan tahun ini.

Ketua Klaster BjLAS Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Henry Setiawan mengatakan impor produk BjLAS sepanjang tahun lalu naik di atas 40 persen, di atas total kenaikan impor produk baja sekitar 20 persen.

Dengan kapasitas produksi BjLAS nasional sebesar 1,5 juta ton per tahun, produsen dalam negeri seharusnya sudah bisa menutup 90 persen kebutuhan domestik. 

Namun, serbuan produk impor menurunkan utilitas produksi industri hingga sekitar 40 persen saja. Artinya, produksi BjLAS secara nasional pada tahun lalu berada pada kisaran 600.000 ton.

"Sekarang utilitas kami di bawah 50 persen, makanya kami sangat berharap pemerintah bisa mendukung kami [dengan mengendalikan impor]," kata Henry kepada Bisnis.

Pada tahun ini, Henry berharap utilitas kapasitas produksi dapat naik menjadi di atas 50 persen sehingga volume produksi dapat melampaui 750.000 ton.  

Dengan kondisi derasnya produk impor, Henry yang juga menjabat Presiden Direktur PT Sunrise Steel tidak menargetkan pertumbuhan produksi perseroan terlalu tinggi pada tahun ini.

Tahun lalu, realisasi produksi Sunrise Steel diperkirakan mencapai 200.000 ton atau 50 persen dari total kapasitas produksi 400.000 ton. Pada 2022, industriawan membidik pertumbuhan produksi hingga 250.000 ton.

"Kami tidak dalam posisi bisa berharap terlalu besar kecuali ada pengendalian impor yang signifikan. Daya beli katakanlah sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada masalah, asalkan impornya dikendalikan," kata Henry. 


Sebelumnya, produksi dan penjualan industri komponen bangunan subsektor semen juga masih ditantang kendala penguatan harga batu bara. 

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan, meski industri semen dan pupuk sudah mendapatkan harga khusus batu bara sebesar US$90 per metrik ton, belum semua pabrikan menikmati kebijakan tersebut.

"Realisasi ekspor cukup memprihatinkan dengan adanya harga batu bara yang sangat tinggi yakni naik lebih dari dua kali lipat sehingga pada Januari ekspor turun drastis," kata Widodo.
  
 Dengan konsumsi dalam negeri sebesar 5,28 juta ton pada tahun lalu, total penjualan semen menjadi 5,94 juta ton atau meningkat 2 persen secara YoY. 

Pada akhir bulan lalu, Kementerian Perindustrian mencatat beberapa pabrikan yang telah mendapat harga khusus batu bara antara lain Semen Padang, Semen Tonasa, Solusi Bangun Indonesia, Semen Gresik, dan Semen Bosowa.

Sementara itu, pabrikan yang belum mendapatkan harga sesuai skema tersebut antara lain Indocement Tunggal Prakasa, Cemindo Gemilang, Sinar Tambang Artha Lestari, Semen Imasco Asiatic, Semen Jawa, dan Juishin.

Kebijakan itu sebelumnya tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.206/2021 tentang harga jual batu bara untuk pemenuhan bahan baku industri semen dan pupuk, berlaku sejak 1 November 2021 hingga 31 Maret 2022.

Widodo berharap pada bulan ini ekspor dapat kembali terkerek dengan pemerataan harga khusus tersebut.

Di sisi lain, kinerja industri semen pada 2022 masih dibayang-bayangi hambatan seperti oversuplai yang berkelanjutan meski sudah ada komitmen dari pemerintah untuk moratorium pabrik baru. 

ASI mencatat utilitas kapasitas produksi sepanjang 2021 masih berkisar 67 persen dengan kelebihan kapasitas sekitar 38 juta ton.

Tantangan lain yakni rencana pemerintah menerapkan Zero ODOL pada awal 2023 yang akan mengerek biaya logistik.

"Masalah ODOL akan meningkatkan biaya transportasi atau logistik baik untuk angkutan maupun bahan baku," ujar Widodo. (Reni Lestari)

Editor: Wike Dita Herlinda
company-logo

Lanjutkan Membaca

Nyali Besar Industri Komponen Bangunan Jelang Tahun Politik

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ