Obral Saham IPO di Pasar Modal

Sejumlah emiten baru mengeluarkan strategi jitu berupa obral harga saham perdananya untuk masuk ke pasar modal. Simak penjelasannya.

Pandu Gumilar
Nov 21, 2021 - 4:52 AM
A-
A+
Obral Saham IPO di Pasar Modal

Sejumlah emiten baru mengeluarkan strategi jitu berupa obral harga saham perdananya untuk masuk ke pasar modal. (Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Bisnis, JAKARTA— Sejumlah emiten baru memilih obral saham saat melakukan IPO untuk menarik minat publik.

Menjelang akhir tahun, sejumlah perusahaan siap melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di antaranya PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel dengan target dana hingga Rp18 triliun.

Lalu, PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk. (DEPO) dengan bidikan dana hingga Rp493,56 miliar. Serta PT Avia Avian Tbk. (AVIA) yang menargetkan Rp5,76 triliun. Khusus untuk AVIA saat ini masih berada dalam fase bookbuilding.

Akan tetapi bagi kedua lainnya, harga final penawaran telah ditetapkan. Dimana harga cenderung mendekati batas bawah. Yaitu Rp800 untuk MTEL dengan rentang harga sebelumnya Rp775 per saham hingga Rp975 per saham.

Adapun, DEPO menetapkan harga final sebesar Rp482 dari posisi sebelumnya di kisaran Rp426—Rp525. Menanggapi tren ini, Kepala Perdagangan Saham MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menilai hal itu wajar sebagai bagian dari strategi dari emiten dalam menarik investor.

“Kecil kemungkinan penetapan harga IPO di batas tengah ke bawah adalah agar investor lebih berminat untuk menyerap IPO tersebut karena valuasi yang lebih murah,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Frankie menambahkan kedua emiten yang mematok batas harga antara bawah hingga tengah pasti memiliki perhitungan internal. Dia pun meyakini penetapan harga itu sudah sesuai dengan kebutuhan pendanaan emiten.

Menurutnya, mayoritas dana yang terhimpun melalui IPO seperti Mitratel dan DEPO nantinya dialokasikan untuk memperluas skala bisnis.

“Sebenarnya untuk perusahaan yang hendak melantai di Bursa dalam waktu dekat ini semuanya memiliki sektor bisnis dan daya tarik masing-masing,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Riset Pasar Infovesta Utama Wawan Hendrayana meyakini jika penawaran yang mendekati batas bawah adalah strategi dari masing-masing emiten untuk mengoptimalkan antara kebutuhan internal dengan minat investor.

Dia juga percaya jika likuiditas di pasar masih baik sehingga kecil kemungkinan investor tidak mampu menyerap.

“Investor tidak kekurangan likuiditas, dana pihak ketiga bank masih besar,” ungkapnya kepada Bisnis.

Dia menganggap minat investor terhadap saham IPO masih tinggi. Pasalnya, dia menilai pergerakan saham IPO dalam jangka pendek di tahun ini sangat baik. Adapun dari 40 emiten yang sudah tercatat hanya ada 1 saham yang pada hari pertama negatif.

Hal ini menunjukan minat inevstasi yang besar dari investor. Dia pun mengingatkan dalam jangka panjang harga saham akan selaku mencerminkan kinerja fundamentalnya.

Maka itu, dia berpendapat tidak seharusnya calon emiten menunda agenda IPO karena tren belakangan ini. “Saya kira tidak perlu ada pengunduran, justru semua IPO tahun ini terserap dengan baik karena dana nganggur masyarakat sedang tinggi,” imbuhnya.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan tidak selalu saham anyar harus dipatok pada rentang harga tertinggi. Menurutnya, yang terpenting adalah harga dapat mencerminkan valuasi.

“Kalau harga dibuat ketinggian tidak menarik meskipun valuasinya bagus. Tetapi jika sesuai akan mengundang minat untuk menyerap minat pasar,” katanya kepada Bisnis.

Maximilianus menambahkan ada dua hal yang paling sulit bagi emiten IPO saat ini. Pertama, menjaga ekspektasi harga dengan fundamental. Kedua, menjaga ekspektasi pelaku pasar. Pasalnya, setiap investor berharap harga saham baru terus naik.

Kendati pasar diwarnai aksi IPO hingga jelang tahun berakhir, selama calon emiten memiliki prospek bisnis yang cemerlang dalam jangka panjang, kapitalisasi pasar yang baik dan ekosistem bisnis yang matang pasti investor akan menyerap.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan sampai saat ini, indikator pasar modal Indonesia masih dalam zona positif. Berkaca dari jumlah perusahaan tercatat yang melakukan penggalangan dana di pasar modal.

Penggalangan dana juga ditopang oleh pertumbuhan jumlah investor maupun IHSG yang mengalami perkembangan relatif baik dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, Nyoman melihat stabilitas ekonomi masih tetap terjaga dan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut.

Begitu juga sentimen positif pada perkembangan ekonomi global maupun domestik, serta dukungan regulator-regulator terkait, menimbulkan kepercayaan dan optimisme bagi para pelaku pasar modal.

“Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan penting bagi pasar dalam merespons seluruh aktivitas yang ada di pasar modal termasuk fundraising,” katanya

Menurutnya, Peraturan OJK dan Bursa yang berlaku saat ini juga masih relevan untuk mengakomodasi perusahaan dari berbagai sektor. Dengan berbagai terobosan yang dilakukan Bursa, dia berharap dapat memberikan nilai strategis bagi perusahaan yang akan melakukan penggalangan dana di pasar modal Indonesia. Selain itu, kondisi ini tentunya diharapkan juga dapat menarik potensi masuknya pendanaan dari investor global.

 

Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar