OPINI : Ancaman Pelemahan Rupiah

Kondisi perekonomian nasional sedang tidak baik-baik saja. Di tengah ancaman inflasi dan kenaikan harga pangan, Indonesia saat ini mengalami proses pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah dilaporkan tembus angka psikologis Rp16.000 per dolar AS.

Bagong Suyanto

18 Apr 2024 - 06.11
A-
A+
OPINI : Ancaman Pelemahan Rupiah

Kondisi perekonomian nasional sedang tidak baik-baik saja. Di tengah ancaman inflasi dan kenaikan harga pangan, Indonesia saat ini mengalami proses pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah dilaporkan tembus angka psikologis Rp16.000 per dolar AS.

Kendati pelemahan nilai tukar rupiah diklaim masih terkendali dan tidak terlalu membahayakan seperti mata uang negara-negara lain, bagi Indonesia implikasi kenaikan nilai tukar dollar AS bagaimana pun sangatlah beresiko. Pelemahan rupiah yang menembus level psikologis bisa memicu sentimen negatif yang bakal kian menekan rupiah.

Keputusan Bank Sentral AS, The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25%--5,50%, mau tidak mau memang menimbulkan imbas terhadap kondisi perekonomian negara-negara lain hampir di seluruh dunia. Tingginya bunga acuan The Fed bukan hanya memaksa Bank Indonesia (BI) harus ikut mempertahankan suku bunga acuan di level yang tinggi, tetapi juga membuat posisi rupiah mengalami tekanan yang luar biasa.

Upaya mengatasi pelemahan rupiah, seringkali menimbulkan dilema. Di satu sisi, untuk mencegah agar dana tidak lari ke luar negeri, BI harus tetap mempertahankan suku bunga yang tinggi. Tetapi, di sisi lain, ketika BI mempertahankan suku bunga tinggi, maka pergerakan sektor riil bisa dipastikan akan mengalami stagnasi, bahkan kemunduran. Dalam kondisi perekonomian yang sedang sulit, tidak mungkin pelaku usaha berani mengambil pinjaman ke bank karena kewajiban membayar suku bunga yang tinggi serta tidak sebanding dengan keuntungan yang bakal diperoleh.


PELEMAHAN RUPIAH

Kondisi perekonomian Indonesia di atas kertas akan lebih cepat pulih dan tidak mengalami tekanan yang kronis jika nilai tukar rupiah kuat. Tetapi, pengalaman selama ini telah banyak menunjukkan bahwa tidak mudah bagi pemerintah untuk dapat meningkatkan nilai tukar rupiah. Dibandingkan Singapura dan Malayia, misalnya, kondisi perekonomian Indonesia relatif kalah, sehingga nilai tukar rupiah tidak sebaik mata uang ringgit maupun dolar Singapura.

Meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak nilai tukar rupiah, tetapi hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Di pasar global, nilai tukar rupiah seringkali mengalami tekanan kuat. Nilai tukar rupiah di pasar global umumnya rendah. Supremasi dollar AS umumnya sangat kuat dan menekan rupiah, karena mata uang AS memang mata uang yang selalu dibutuhkan untuk perdagangan global. Sejumlah resiko yang harus dihadapi Indonesia ketika kita terus-menerus mengalami pelemahan rupiah adalah:

Pertama, pelemahan rupiah jika tidak segera ditangani niscaya akan beresiko menyebabkan industri manufaktur mengalami tekanan yang berat. Industri manufaktur besar kemungkinan akan menurunkan dan bahkan menghentikan volume produksi jika nilai tukar rupiah tak kunjung membaik.

Selama ini, industri manufaktur umumnya masih memiliki ketergantungan yang tinggi pada impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal. Menurut data, 80 persen total impor nasional umumnya masih didominasi bahan baku, bahan penolong serta barang modal industri, sehingga ketika rupiah melemah, maka biaya non produksi otomatis akan melonjak.

Kedua, pelemahan rupiah yang berkepanjangan niscaya akan mempengaruhi inflasi. Pertumbuhan penjualan atau konsumsi pasar bisa dipastikan akan melambat, sementara harga barang-barang di pasar akan cenderung naik, sehingga ujung-ujungnya akan mempengaruhi inflasi.

Ketika harga komoditas yang ditawarkan naik, karena sebagian besar bahan bakunya diperoleh dari impor, maka secara langsung daya beli masyarakat akan berkurang. Di tanah air, tidak sedikit industri makanan, minuman, tekstil dan industri farmasi yang tergantung pada bahan baku impor, sehingga masyarakat pun harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli dan mengkonsumsi berbagai produk yang mereka butuhkan. Persoalannya adalah penghasilan masyarakat sendiri secara riil tidak bertambah, sehingga dengan penghasilan yang sama sesungguhnya nilai tukarnya turun. Inilah yang menyebabkan inflasi menjadi meningkat.

Ketiga, pelemahan rupiah bisa dipastikan akan menyebabkan beban utang meningkat. Selama ini kita tahu beban utang yang ditanggung pemerintah maupun swasta terus meningkat. BI mengumumkan utang luar negeri Indonesia per November 2023 mencapai US$ 400,9 miliar atau sekitar Rp 6.235,95 triliun. Jumlah utang ini melonjak 2,0 persen year-on-year (yoy). Sementara dibandingkan posisi Oktober 2023, jumlahnya juga lebih tinggi 0,7% (yoy).

Kewajiban pemerintah membayar cicilan dan beban utang luar negeri dalam bentuk dollar AS, tentu menjadi lebih berat ketika nilai tukar rupiah turun. Bukan tidak mungkin meningkatnya kewajiban membayar utang luar negeri akan menguras devisa dan membuat posisi APBN menjadi lebih sulit.


PERAN MASYARAKAT

Untuk mencegah agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu lama, BI sudah barang tentu akan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah, dan memperkuat pengelolaan penawaran dan permintaan voluta asing. Belajar dari pengalaman di masa lalu, ketika nilai tukar rupiah turun hingga melebihi Rp. 16.000, maka tidaklah mudah untuk dapat bangkit kembali. Di tahun 1998, Indonesia telah mengalami masa-masa buruk krisis moneter ketika nilai tukar rupiah anjlok.

Untuk mendongkrak kembali nilai tukar rupiah, saat ini tidak mungkin hanya mengandalkan pada langkah-langkah dan kebijakan yang dikeluarkan BI. Ketika supply dollar AS berkurang, mau tidak mau nilai tukar rupiah pasti akan turun. Selama ini, sebagai negara sedang berkembang Indonesia cenderung mudah terdepresiasi dengan pengaruh mata uang asing yang terus menekan. Di sisi lain turunnya kinerja ekspor juga makin mendorong nilai tukar rupiah turun.

Untuk lebih memperkuat daya ungkit nilai tukar rupiah, mau tidak mau pemerintah harus melibatkan peran serta masyarakat. Di sini pemerintah bukan hanya harus mensosialisasikan kepada masyarakat agar mereka lebih memilih membeli produk dalam negeri, dan tidak memilih produk impor, yang tak kalah penting masyarakat juga diajak untuk tidak menghambur-hamburkan pengeluaran untuk belanja di luar negeri. Pilihan objek dan daerah tujuan wisata, sejauh memungkinkan harus dianjurkan lebih banyak ke dalam negeri. Kebiasaan masyarakat kelas menengah ke atas yang mengisi hari libur untuk berwisata ke luar negeri perlu dikurangi.

Meski nilai rupiah terpuruk, seyogianya masyarakat tidak terpancing untuk menimbun dollar AS. Membeli berbagai produk investasi dalam negeri dan tetap menabung dalam bentuk rupiah harus menjadi kesadaran dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Jangan sampai terjadi, justru ketika rupiah terpuruk, masyarakat justru memanfaatkan situasi lemahnya rupiah untuk kepentingan dirinya sendiri. Mungkinkah hal ini kita lakukan?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.