OPINI : Gotong Royong Melawan Kemiskinan

Kemiskinan bukan sekadar angka statistik yang dingin; ia adalah wajah nyata dari ketidakadilan sosial yang membelenggu jutaan jiwa dalam lingkaran setan ketidakberdayaan dan keputusasaan.

Jerry Marmen

28 Feb 2024 - 07.18
A-
A+
OPINI : Gotong Royong Melawan Kemiskinan

Kemiskinan bukan sekadar angka statistik yang dingin; ia adalah wajah nyata dari ketidakadilan sosial yang membelenggu jutaan jiwa dalam lingkaran setan ketidakberdayaan dan keputusasaan.

Fenomena kemiskinan, sebagai salah satu tantangan terbesar umat manusia, mengundang pertanyaan kritis tentang efektivitas pendekatan pengentasan kemiskinan yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia.

Menghadapi kompleksitas permasalahan ini, tiga aspek kunci—reforma agraria, reforma kapital, dan reforma sumber daya insani—perlu dijadikan sebagai tiga pilar utama dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Pertama, reforma agraria, dalam esensinya, bukan hanya tentang redistribusi lahan tetapi merupakan langkah awal yang krusial menuju pencapaian keadilan sosial dan ekonomi. Sejarah telah menunjukkan bahwa ketimpangan akses terhadap sumber daya alam, khususnya tanah, berakar pada kemiskinan di berbagai negara.

Reforma agraria yang efektif harus melampaui pemberian hak milik tanah; ia harus melibatkan dukungan infrastruktur, akses pasar, serta pengetahuan dan teknologi pertanian modern, sehingga memberdayakan petani kecil untuk berkembang dalam ekonomi global yang kompetitif.

Dalam konteks Indonesia, reforma agraria harus dianggap sebagai upaya strategis untuk mengatasi berbagai bentuk kemiskinan, baik natural maupun struktural. Ini membutuhkan komitmen jangka panjang dari semua pihak dan pemahaman bahwa tanah, sebagai sumber daya alam yang terbatas, harus dikelola dengan adil dan bertanggung jawab.

Kedua, reforma kapital merupakan sebuah strategi krusial dalam upaya melawan dan mengentaskan kemiskinan, yang mencakup lebih dari sekadar penyediaan modal finansial. Dalam ekonomi modern yang makin kompleks, akses terhadap kapital intelektual, termasuk pendidikan, pelatihan, dan transfer pengetahuan, juga menjadi penting.

Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta inisiatif kewirausahaan memerlukan dukungan dari sistem perbankan dan keuangan yang inklusif, yang dapat menjangkau hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Reforma kapital ditujukan untuk mengatasi paradoks aksesibilitas modal, di mana kelompok yang paling memerlukan sering kali merupakan yang paling sulit untuk mendapatkan akses.

Implementasi reforma kapital harus mencakup lima aspek. Pertama, perluasan akses ke produk keuangan yang dirancang khusus untuk kelompok marginal. Kedua, pengembangan program pendidikan keuangan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Ketiga, peningkatan kapasitas lembaga keuangan mikro dan koperasi sebagai saluran distribusi modal yang lebih dekat dengan masyarakat. Keempat, fasilitasi kemitraan antara UMKM dengan perusahaan besar dan lembaga keuangan, untuk memperluas jaringan dan meningkatkan akses ke pasar. Kelima, insentif bagi inovasi dan start-up melalui skema pembiayaan yang lebih fleksibel dan mendukung risiko usaha baru.

Waktu yang ideal untuk mengimplementasikan Reforma kapital adalah ketika ekonomi mengalami pertumbuhan dan stabilitas, sehingga dapat mendukung ekspansi usaha dan penyerapan modal secara optimal. Namun, dalam situasi krisis atau perlambatan ekonomi, Reforma kapital juga menjadi kritikal sebagai mekanisme pemulihan ekonomi untuk mendorong kegiatan usaha dan menjaga kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, reforma kualitas sumber daya insani (human capital reformation), yang meliputi aspek pendidikan dan kesehatan, merupakan pilar penting dalam strategi pengentasan kemiskinan yang komprehensif. Sebagai investasi jangka panjang, pendidikan berkualitas tinggi yang merata dan terjangkau mempersiapkan generasi mendatang dengan keahlian dan pengetahuan yang diperlukan untuk berkontribusi produktif dalam ekonomi.

Pemangku kepentingan yang harus berperan dan berkontribusi dalam reforma ini meliputi pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, organisasi kesehatan, serta masyarakat sipil. Pemerintah harus memimpin dengan menyediakan kebijakan yang mendukung, pendanaan yang memadai, dan infrastruktur yang diperlukan.

Sementara itu, sektor swasta dan lembaga pendidikan dapat berkontribusi melalui inovasi dalam pengajaran dan pembelajaran, serta penyediaan beasiswa dan program pelatihan kerja. Organisasi kesehatan dan masyarakat sipil dapat membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan kesehatan masyarakat dan menyediakan layanan yang dapat diakses oleh semua.

Waktu yang paling tepat dan ideal untuk mengimplementasikan Reforma sumber daya insani adalah sekarang. Dengan tantangan global yang berkembang pesat, seperti revolusi industri 4.0 dan perubahan iklim, Indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusianya untuk dapat beradaptasi dan berinovasi. Dalam konteks Indonesia, dengan keragaman sosial, ekonomi, dan budayanya yang luas, pengentasan kemiskinan memerlukan sinergi kuat antara reforma agraria, kapital, dan sumber daya insani.

Ketiga pilar tersebut alangkah efektif apabila dikerjakan oleh badan khusus yang permanen, sebut saja Badan Penanggulangan Kemiskinan. Lembaga yang tidak bersifat ad hoc ini akan menargetkan tidak hanya peningkatan ekonomi tetapi juga pemberdayaan komunitas dan individu, menciptakan fondasi untuk masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.