OPINI : Industri Amonia dan Transisi Energi

Amonia (NH3) menjadi salah satu dari tiga ratusan jenis komoditas yang paling banyak diperdagangkan di pasar global.

Wihana Kirana Jaya

12 Feb 2024 - 07.45
A-
A+
OPINI : Industri Amonia dan Transisi Energi

Ilustrasi industri amonia./Istimewa

Amonia (NH3) merupakan salah satu dari tiga ratusan jenis komoditas yang paling banyak diperdagangkan di pasar global. Produk petrokimia ini berperan vital dalam pertanian dan rantai pasok pangan global.

Sejalan dengan transisi energi/ekonomi hijau dan target-target SDGs menjelang 2030, industri amonia bertransisi (bahkan bertransformasi ) dari amonia tinggi emisi atau ‘grey ammonia’ ke amonia rendah emisi, baik ‘blue ammonia’ maupun ‘green ammonia’.

‘Blue ammonia’ dihasilkan dari proses konvensional, akan tetapi menggunakan carbon capture and storage (CCS). Sementara untuk pembuatan green ammonia, unsur H diambil dari air (melalui elektrolisis) dan unsur N dipisahkan dari udara. Proses produksinya menggunakan listrik berbasis energi baru/terbarukan (EBT), yakni tenaga air, tenaga surya, dan tenaga bayu.

Struktur industri pupuk (berbasis) amonia cenderung monopolistic atau oligopolistic karena tingginya ‘barrier to entry’ bagi pemain atau produsen baru. Investasinya membutuhkan ‘capital expenditure’ (capex) besar, yakni untuk membangun pabrik dengan kapasitas relatif besar beserta depot penyimpanan dalam kawasan yang cukup luas, dan bahkan infrastruktur seperti jalan akses, dermaga beserta armada kapal logistik untuk pengiriman ke destinasi ekspor atau jejaring distribusi.

Namun, kendati nilai investasinya tidak main-main, sejauh ini para pemain amonia cenderung meraih profit besar karena relatif kuatnya permintaan ekspor. PT PI (Pupuk Indonesia) misalnya mencatatkan profit Rp18, 1 triliun pada 2022.

Total kapasitas amonia terpasang di Indonesia saat ini sekitar 8 juta metrik ton. Sekitar 90% pasokan didominasi oleh produsen pupuk pelat merah, yakni Pupuk Indonesia, sedangkan selebihnya oleh pemain swasta nasional seperti PT Kaltim Parna Industri (PT KPI) yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur.

Pendapatan para produsen amonia nasional terutama berasal dari ekspor. Tahun 2022, Indonesia menjadi top exporter amonia ketiga setelah Trinidad dan Saudi Arabia. Volume ekspor amonia Trinidad sebesar 3,58 juta ton, Saudi Arabia 2,73 ton, dan Indonesia 1,87 juta ton. Khusus untuk nilai ekspor anhydrous ammonia, tahun 2022, Indonesia bahkan di posisi kedua dengan nilai ekspor US$1,71 miliar di bawah Trinidad sebesar US$3,68 miliar.

Beberapa tahun terakhir pasar pupuk dan pangan global diwarnai oleh berbagai dinamika yang mendisrupsi rantai pasok, sejak pandemi Covid-19, invasi Rusia ke Ukraina, hingga perang Israel -Hamas. Seirama dengan gejolak harga gas pada 2022, harga urea dan ammonia juga melejit tinggi pasca-invasi Rusia.

Harga urea pernah mencapai rekor tertinggi sejak invasi, yakni pada level US$1.050/ton (urea) pada 2022, dan demikian pula harga anhydrous ammonia US$1.635/ton (Juni 2022). Kendati berfluktuasi, tren harga urea dan amonia tahun 2023 dan 2024 menurun.

Menjelang akhir Januari 2024, harga amonia US$0,59/kilogram (global), US$0,73/kilogram (‘North America’), dan US$0,53/kilogram (Asia). Menurut ‘Business Analytiq’ , secara umum ‘outlook’ harga amonia internasional hingga akhir 2024 akan berada sedikit di bawah level Januari 2024.

Namun, terdapat satu dinamika yang perlu dicermati tahun 2025, yakni rencana India untuk ‘self sufficiency’ pupuk. India bakal menghentikan impor pupuk secara total pada 2025, setelah beroperasinya 5 unit pabrik urea baru dua tahun terakhir ini dengan total kapasitas 6,35 juta metrik ton per tahun.

India sejauh ini secara keseluruhan menjadi importir terbesar pupuk dunia, sekitar 10 juta ton per tahun. Jika India menghentikan impor pupuk secara total, maka potensi terjadinya excess supply pada pasar pupuk global perlu diwaspadai. Sebab, hal ini akan meningkatkan kompetisi antar negara eksportir pupuk dan tertekannya harga pupuk global, khususnya ammonia.

EKOSISTEM INDUSTRI

Merespons transisi energi dan ‘mainstreaming’ ekonomi hijau, dan pemain swasta nasional seperti PT KPI telah menyiapkan strategi, langkah antisipatif, dan rencana bisnis dengan membangun ekosistem industri amonia hijau. Dengan konsep ekosistem, maka setiap anggota komunitas wajib menjaga keberlangsungan ekosistem tersebut, karena masing-masing hidup dari sumber daya yang sama.

Strategi yang ditempuh adalah dengan menyinkronkan perencanaan ekspansi investasi pembangunan pabrik amonia hijau dengan konstruksi PLTA sungai Kayan yang direncanakan mulai beroperasi 2027 dengan kapasitas 9.000 MW. PLTA sungai Kayan ini akan memasok kebutuhan listrik kawasan industri hijau KIPI (Kawasan Industrial Park Indonesia) di Kalimantan Utara.

Pelabuhan yang ‘eco-friendly’ juga sedang dibangun dan akan terus dikembangkan untuk mendukung KIPI tersebut. Dengan demikian PLTA sungai Kayan dan pelabuhan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem industri hijau KIPI.

Pabrik green ammonia PT KPI akan dibangun di KIPI seluas 7 hektare dengan menggandeng mitranya, PT Leeman International Industry (LII), dan membentuk joint venture, PT Green Ammonia Indonesia (GAI), dengan komposisi saham 51% (PT KPI) dan 49% (PT LII).

Pabrik yang akan dibangun berkapasitas 300 metric ton per day (mtpd) atau sekitar 108.000 metrik ton per tahun (tahap awal) dengan estimasi Capex sebesar US$300 juta.

Capex tersebut untuk biaya EPC (engineering, procurement, and construction) unit Electrolyzer, Air Separation Unit , dan Ammonia Synthesis Loop. Pabrik ‘green ammonia’ ini direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2027/2028 simultan dengan beroperasinya PLTA sungai Kayan.

Proyek ini tentu saja didahului dengan perencanaan yang matang, yakni studi kelayakan yang komprehensif, akurat, dan detail. Dari perspektif teori biaya transaksi, perencanaan yang matang tersebut akan meminimalisasi biaya transaksi, yang dapat berupa pembengkakan biaya proyek (cost overrun).

Ekosistem ‘green ammonia’ yang melibatkan green hydrogen dan listrik EBT merupakan bagian dari ekosistem industri hijau tersebut. Hal ini dapat menjadi satu case study dan referensi yang baik bagaimana merespons transisi energi dan transisi ke industri hijau secara ‘cost effective’.

Bagaimana dengan korporasi pupuk raksasa seperti Pupuk Indonesia? PT Pupuk Kaltim (PKT) , sebagai satu anak usaha Pupuk Indonesia juga tengah mengkaji rancangan fasilitas produksi green ammonia berkapasitas 1 juta metrik ton/tahun. Kajian dilakukan bekerja sama dengan Copenhagen Atomics, Topsoe, Alfa Laval, dan Aalborg CSP.

Investasi yang akan digelontorkan PKT cukup besar, yakni US$4 miliar. Dalam masa transisi kemungkinan baik blue ammonia maupun green ammonia, dua-duanya akan diproduksi jelang 2030. Pasalnya, ‘blue ammonia’ dapat diproduksi dari unit-unit pabrik PKT yang sudah ada, hanya perlu dilengkapi dengan fasilitas CCS.

Sebagai catatan penutup, kecenderungan lebih tingginya harga blue/green ammonia dibandingkan ‘grey ammonia’, secara prinsip bukan semata merupakan persoalan nilai tambah (value added), melainkan tanggung jawab moral secara universal dan inklusif terhadap perubahan iklim global. Justru nantinya, harga blue/green ammonia diharapkan tidak jauh beda dari amonia konvensional.

Penulis Winaha Kirana Jaya adalah guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Dia juga merupakan Staf Khusus untuk Urusan Ekonomi dan Investasi Transportasi kepada Menteri Perhubungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.