OPINI : Kenaikan Biaya Logistik Memicu Inflasi Global

Berdasarkan data United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), tekanan terhadap inflasi global makin tinggi mengingat pengiriman barang dari pantai barat AS juga naik 160% meskipun jalur pelayarannya tidak melalui terusan Suez

Muhammad Syarkawi Rauf

16 Feb 2024 - 07.05
A-
A+
OPINI : Kenaikan Biaya Logistik Memicu Inflasi Global

Perang Palestina melawan Israel yang menyeret Yaman dan Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya mengganggu alur pelayaran kargo internasional yang melewati laut Merah. Perusahaan-perusahaan pelayaran utama global, seperti Maersk dan CMA CGM mengalihkan rute pelayarannya dari laut Merah ke Afrika Selatan (Afsel).

Saat ini, sekitar 80% perdagangan dunia menggunakan transportasi laut. Di mana pelayaran melalui terusan Suez yang menghubungkan laut Mediterania dengan laut Merah mencapai sekitar 15% dari total perdagangan global pada 2023.

Namun, perdagangan melalui terusan Suez dalam 2 bulan terakhir, sejak Desember 2023 turun sekitar 40% (UNCTAD, 2024).

Sementara pengapalan barang dari Asia ke Eropa mencapai sekitar 40% melalui terusan Suez. Di mana rute pelayaran alternatif melalui Afsel berdampak pada semakin lamanya lead time (lamanya waktu pelayaran) dan peningkatan biaya bahan bakar sekitar US$1 juta atau setara dengan 920.000 euro.

Jalur pelayaran melalui terusan Suez berperan penting dalam pengapalan minyak dan liquified natural gas (LNG) yang dapat mencapai sekitar 20% dari total pengangkutan minyak dunia dan 25% untuk LNG.

Di mana Qatar mengekspor LNG sekitar 20 juta meter kubik ke Eropa, setara 16% dari total impor LNG zona Euro yang pengirimannya dilakukan melalui terusan Suez.

Secara konseptual, inflasi bersumber dari dua sisi, yaitu cost push inflation atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dan demand pull inflation atau inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan barang tanpa diimbangi oleh pasokan barang yang cukup.

Saat ini, tekanan inflasi global bersumber dari gangguan pada rantai pasok global yang disebabkan oleh perang Timteng, khususnya negara-negara Asia dan Eropa yang mayoritas perdagangannya melalui terusan Suez. Peningkatan biaya logistik dari Asia ke Eropa menyebabkan kenaikan harga barang-barang di Eropa.

Sementara itu, dampaknya bagi negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia tecermin pada kenaikan biaya pengapalan lebih dari US$6.000, naik tiga kali lipat dibandingkan dengan Desember 2023, sebelum serangan AS dan sekutunya ke Yaman.

Biaya pengapalan barang meningkat dua kali lipat, yaitu lebih besar 122% dari Shanghai ke berbagai tujuan ekspor sejak Desember 2023. Pengapalan barang dari Shanghai ke Eropa naik lebih dari tiga kali lipat, sekitar 256%.

Berdasarkan data United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), tekanan terhadap inflasi global makin tinggi mengingat pengiriman barang dari pantai barat AS juga naik 160% meskipun jalur pelayarannya tidak melalui terusan Suez (UNCTAD, 2024).

Perang Timteng mengganggu rantai distribusi dan perdagangan China dengan Eropa yang mencapai sekitar 90% dari total perdagangan zona Euro.

Impor zona Euro dari China mencapai 626 miliar euro tahun 2022. Sementara ekspor zona euro ke China mencapai US$230 miliar (EuroStat, 2023).

Perang Timteng menyebabkan perpindahan angkutan kargo dari sea freight (pengangkutan menggunakan kapal laut) ke air freight (pengangkutan menggunakan kargo udara).



Di mana, penggunaan kargo udara akan menaikkan biaya logistik beberapa kali lipat yang akhirnya ditransfer ke konsumen dalam bentuk harga barang yang tinggi.

ANTISIPASI INFLASI

Kenaikan biaya logistik dan panjangnya lead time mengganggu ketepatan penyediaan barang yang akan menaikkan harga barang-barang di pasar.

Hasil simulasi International Monetary Fund (IMF), sekitar 40% kenaikan inflasi di zona euro didorong oleh kenaikan harga barang-barang impor yang disebabkan oleh meningkatnya ongkos logistik.

Gangguan terhadap rantai pasok global mendongkrak harga barang secara global, termasuk harga minyak dunia yang meningkatkan risiko inflasi global. Hal ini membuat arah pergerakan suku bunga global menjadi tidak menentu. Paling tidak, The Fed berpotensi menunda menurunkan suku bunga acuan hingga semester kedua 2024.

Lalu, policy response dari pelaku usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor yang rute pelayarannya melalui terusan Suez adalah mengatur ulang waktu pemesanan karena lead time yang makin panjang. Terjadinya penyesuaian harga di dalam negeri mengingat ongkos logistik yang naik lebih dari dua kali lipat.

Dari sisi respons kebijakan otoritas moneter Emerging Market Economies (EMEs), khususnya Bank Indonesia (BI) adalah tetap konsisten pada kerangka kebijakan Inflation Targeting (IT) dengan target inflasi 2,5% plus minus 1% sehingga BI harus berhati-hati melonggarkan kebijakan moneternya melalui penurunan suku bunga acuan.

Selain itu, adanya prosiklisitas dalam perekonomian global, khususnya perekonomian AS dengan EMEs, membuat kebijakan moneter BI akan bersifat pasif, yaitu menunggu The Fed menurunkan bunga acuan Federal Fund Rate (FFR). Menurunkan suku bunga acuan BI terlalu cepat dapat mengganggu kestabilan inflasi dan nilai tukar rupiah per dolar AS.

Kesimpulannya, pelaku usaha dan konsumen masih harus bersabar melakukan ekspansi dengan pembiayaan bank karena biaya dana masih bertahan tinggi.

Hal ini, sejalan dengan majalah ekonomi terpopuler, The Economist terbitan 10—16 Desember 2022, yang berbasis di Inggris, bahwa era suku bunga tinggi masih berlanjut hingga beberapa waktu ke depan.

*) Muhammad Syarkawi Rauf merupakan Tenaga Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.