OPINI : LIBOR, SOFR & Keuangan Syariah

London Interbank Offered Rate (LIBOR) secara resmi berakhir 30 Juni 2023. Berbagai acuan baru muncul dan dikembangkan oleh regulator keuangan dunia.

Redaksi

30 Jun 2023 - 08.23
A-
A+
OPINI : LIBOR, SOFR & Keuangan Syariah

London Interbank Offered Rate (LIBOR) secara resmi berakhir 30 Juni 2023. Berbagai acuan baru muncul dan dikembangkan oleh regulator keuangan dunia. Pertanyaan paling penting adalah apa yang akan menjadi acuan pasca-LIBOR? Bagi industri keuangan syariah, pertanyaan paling mendasar yaitu perlu tidaknya industri ini mengembangkan acuan yang bebas dari elemen bunga. Tantangan terbesar adalah memastikan acceptability yang luas dan metodologi pembentukan rate yang juga bebas manipulasi.

Kenapa harus LIBOR? LIBOR dibentuk pada awal 1980-an oleh beberapa bank besar di London, Inggris, sebagai acuan dalam pemberian pinjaman antar bank. Dalam prosesnya, 15—20 bank menyampaikan suku bunga pinjaman antarbank yang mereka kenakan pada hari tersebut sebagai basis. Inter-Continental Exchance (ICE) kemudian menentukan rata-rata tertimbang quotation ini dan terbentuklah LIBOR.

Secara perlahan, LIBOR menjadi benchmark rate untuk semua produk, termasuk commercial loan, personal, KPR dan seterusnya. Biasanya quotation yang diberikan berupa LIBOR+x%. Artinya, LIBOR sebagai basis harga ditambah premium tertentu yang dikenakan oleh bank.

Dari segi kepraktisan, jelas bank sangat terbantu dengan adanya benchmark rate tersebut. Pertama, bank tidak perlu susah-susah menentukan base pricing sendiri karena sudah ada satu acuan yang dimengerti oleh mitra pembiayaan dan juga nasabah mereka. Kedua adalah acceptability, di mana bisa dikatakan seluruh instrumen keuangan dunia mengacu kepada rate ini, baik perbankan, pasar modal, dan lainnya.

Selama hampir 40 tahun, lembaga keuangan mengacu kepada LIBOR, serta beberapa benchmark lain yang mungkin dipakai dalam konteks lokal atau regional. Sebagai contoh, di Indonesia ada JIBOR dan Singapura menggunakan SIBOR. Keunggulan LIBOR adalah global acceptability, di mana LIBOR disajikan dalam berbagai mata uang utama dunia, hingga akhirnya terjadi skandal tahun 2012.

Sketsa wajah penulis Head of Macroeconomic & Financial Research BSI Kahfi Reza ./BISNIS

Namun, takhta benchmark global LIBOR tersebut harus hilang ketika mulai terbukti adanya manipulasi dalam formulasinya. Dalam skandal LIBOR rigging yang terungkap tahun 2012, traders dari 20 bank terbesar di London terbukti menentukan rate untuk kepentingan mereka sendiri, khususnya dalam mengamankan eksposur produk derivatives mereka.

Meskipun bank-bank ini didenda sampai US$9 miliar sejak 2012, LIBOR tetap berlaku sampai tersedianya alternatif lain. Dalam periode transisi ini, serta dipicu oleh krisis 2008, bank sentral di berbagai negara mulai mengkaji benchmark yang tidak bisa diatur oleh pihak bank kontributor.

Dari sini kemudian muncul berbagai acuan baru. Yang utama adalah Secured Overnight Financing Rate (SOFR), kemudian juga ada Sterling Overnight Index Average (Sonia) yang diterbitkan Bank of England, serta Euro Short-Term Rate (ESTR) dari European Central Bank.

Perbedaan mendasar antara LIBOR dan benchmark lainnya ini adalah metodologi. LIBOR ditentukan dari suku bunga yang akan dikenakan atau forward looking. Adapun SOFR dihitung berdasarkan rate historis transaksi harian di markets atau backward looking.

KEUANGAN SYARIAH

Saat ini, secara global industri keuangan syariah masih banyak yang menggunakan LIBOR atau acuan lainnya. Fitch Ratings mengungkapkan “70% of Fitch-rated Islamic banks use sharia-compliant derivatives (tahawwut), such as profit rate swaps and currency forward contracts, that are often linked to LIBOR.

Sketsa wajah penulis Head of BSI Institute, Office of Chief Economist Bank Syariah Indonesia Luqyan Tamanni./BISNIS

Berakhirnya LIBOR seharusnya disikapi dengan dikembangkannya acuan berbasis transaksi yang sesuai prinsip syariah. Bagaimanapun, untuk investor dan pelaku pasar, kadar acuan merupakan dasar dalam pengambilan keputusan keuangan. Bahkan pada instrumen investasi syariah seperti sukuk, benchmark rate sangat penting untuk memastikan imbal hasil yang diberikan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Oleh karena itu, inisiatif Islamic Development Bank dan 15 bank syariah global yang telah mengembangkan Islamic Interbank Benchmark Rate (IIBR) perlu diapresiasi. Secara metodologi, IIBR masih sama seperti LIBOR, di mana 15 bank kontributor menyerahkan quotation rate yang mereka akan kenakan kepada Thomson Reuters, yang kemudian mengelola penerbitan IIBR di jam 11.00 waktu Mekah setiap harinya.

Untuk saat ini, industri keuangan syariah nasional masih memilih SOFR dalam transaksi antarbank-nya, khususnya transaksi dalam US$. Faktor utama dalam memilih acuan adalah preferensi dari counterparty. Ini mungkin alasan kenapa acuan yang berbasis transaksi syariah seperti IIBR belum digunakan secara luas. Metodologi IIBR yang sama seperti LIBOR juga menjadi concern. Acuan baru seperti SOFR dan IndONIA menggunakan pendekatan backward looking atau data historis sebagai basis penentuan.

Namun, terlepas apakah SOFR atau IIBR yang dipilih pelaku pasar, yang terpenting adalah terus mengupayakan agar pricing instrumen syariah makin adil dan transparan. Dengan harapan keuangan syariah makin diterima masyarakat.

*Penulis pertama Head of BSI Institute, Office of Chief Economist, Bank Syariah Indonesia Luqyan Tamanni

*Penulis kedua Head of Macroeconomic & Financial Research, Office of Chief Economist, Bank Syariah Indonesia Kahfi Reza


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.