OPINI : Menanti Dampak Positif Transformasi Pelabuhan Benoa Bali

Kualitas turis yang ke Bali via kapal pesiar dapat dijamin merupakan wisatawan kelas menengah atas.

Bagus Kusuma Wijaya

13 Nov 2023 - 07.11
A-
A+
OPINI : Menanti Dampak Positif Transformasi Pelabuhan Benoa Bali

Salah satu kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Benoa, Bali, Jumat (9/10/2015)/Bisnis-Feri Kristianto

Bisnis, JAKARTA – Kualitas turis ke Bali via kapal pesiar dapat dijamin merupakan wisatawan kelas menengah atas, yang selaras dengan upaya pemda mendatangkan pelancong berkualitas dan menghormati budaya setempat.

Pelabuhan Benoa di Bali pada akhir Oktober 2023 kedatangan kapal pesiar Celebrity Solstice yang membawa 2.776 orang penumpang dan 1.168 orang kru kapal. Ini merupakan kapal terbesar yang pernah singgah di pelabuhan dengan panjang dermaga sandar 500 meter milik PT Pelindo.

Seiring kedatangan kapal tersebut, manajemen Pelindo baru-baru ini menegaskan jika rampung seluruhnya pada 2025, Pelabuhan Benoa dapat menampung 3 kapal sandar bersamaan, yang terdiri dari : 1 kapal mega size (3.500 penumpang), 1 large size (2.500 penumpang) yang sandar bersamaan di dermaga timur, serta 1 kapal mid size (1.500 penumpang) sandar di dermaga selatan).

Bisa dibayangkan jika rencana itu terwujud, maka akan ada sebanyak 3 unit kapal pesiar sandar bersama. Artinya akan ada sekitar 7.500 orang wisman bersamaan yang dapat datang bersamaan ke Bali.

Proyek tersebut sebenarnya merupakan bagian dari transformasi Pelabuhan Benoa sebagai sebagai Bali Maritime Tourism Hub (BMTH). BMTH merupakan salah satu proyek strategis nasional yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden No. 109/2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden No. 3/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Proyek pengerjaan BMTH tengah dikebut untuk mencapai target rampung lebih cepat pada akhir tahun ini. Saat ini di Benoa terdapat pelabuhan ikan, terminal curah cair dan LNG (Liquified Natural Gas), marina untuk yacht, serta dermaga dan terminal untuk penumpang kapal wisata. Seluruh infrastruktur tersebut dalam tahap proses penyelesaian.

Tentu akan menarik sekali bila semua proyek tersebut rampung dan berhasil mendatangkan sejumlah kapal pesiar secara bersamaan, karena akan memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian daerah.

Status BMTH menjadi harapan baru bagi upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan melalui Pelabuhan Benoa. Dengan status BMTH, rencananya kapasitas daya tampung di terminal penumpang bisa mencapai 3.000 orang dari sebelumnya hanya 1.000 orang. Kini, Benoa juga telah memiliki kedalaman kolam labuh hingga 12 meter yang artinya dapat menampung kapal-kapal jumbo seperti Celebrity Solstice agar tidak kandas saat bersandar.

Meskipun proyek tersebut belum rampung, kedatangan kapal Celebrity Solstice dengan bobot puluhan ribu tonase (GT) telah menandai kesiapan pelabuhan di Kota Denpasar untuk menjadi tujuan bagi kapal-kapal berukuran jumbo. Kehadiran kapal berukuran jumbo memang sudah sangat dinantikan oleh destinasi wisata, pascapandemi Covid-19 membuat perekonomian daerah ini lumpuh.

Sebagai destinasi wisata, Bali sebenarnya merupakan pulau yang rentan dengan gangguan bencana alam. Selama ini, sebagai destinasi wisata, Bali terlalu bergantung dengan satu pintu kedatangan yakni Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Ketergantungan ini tidak salah karena, daya tampung bandara tersebut mencapai 24 juta orang per tahun.

Pelajaran dari erupsi Gunung Agung pada 2017 yang membuat pintu kedatangan dan keberangkatan bandara ditutup sebagai bukti nyata. Akibat penutupan bandara hanya dalam hitungan hari, aktivitas pariwisata lumpuh. Arus perpindahan transportasi wisatawan semua dilakukan melalui jalur darat dan laut karena dianggap lebih aman.



Situasi tersebut membutuhkan mitigasi yang baik agar jika terjadi bencana alam, perekonomian daerah bisa tetap berjalan. Dengan tingkat pertumbuhan berkisar 5%—6% per tahun, butuh antisipasi gangguan tidak saja dari faktor keamanan tetapi juga bencana alam. Hanya saja, ketergantungan terhadap bandara sebagai pintu kedatangan sangat besar dan harus diantisipasi bila suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan.

Sebagai gambaran porsi kedatangan turis asing dari pintu Pelabuhan Benoa masih sangat kecil. Data BPS pada 2019, turis asing ke Bali sebanyak 6,23 juta orang. Pelabuhan Benoa menyumbang hanya 35.667 orang (0,56%), sedangkan Bandara Ngurah Rai mencapai 6,22 juta orang (99,5%). Dominasi tersebut pada satu sisi baik untuk mendongkrak kedatangan turis ke daerah ini. Hanya saja, kapasitas daya tampung bandara sudah mendekati titik tertinggi.

Sebaliknya, Pelabuhan Benoa masih memiliki kapasitas sangat besar yang belum dioptimalkan. Kehadiran kapal-kapal berukuran jumbo itu tentu akan membantu kuantitas wisman karena sekali bersandar membawa ribuan orang.

Kehadiran kapal pesiar jumbo akan memberikan efek multiplier sangat besar. Dampak langsungnya seperti pengeluaran penumpang, awak kapal, hingga perusahaan kapal pesiar itu sendiri. Setiap penumpang kapal pesiar sudah pasti akan berbelanja di sektor transportasi dari pelabuhan ke objek wisata hingga restoran dan atraksi budaya.

Untuk kapal pesiar, seperti biaya agen, pengisian bahan bakar serta bahan baku makanan selama perjalanan. Dampak itu akan dirasakan ketika kapal bersandar. Dampak lainnya yang sudah dirasakan Bali perputaran ekonomi dari pembangunan Pelabuhan Benoa. Ditaksir nilai investasi untuk pengembangan BMTH Benoa saat ini mencapai Rp5,6 triliun.

Pelabuhan Benoa memang belum akan sebesar pelabuhan pesiar di negara-negara seperti Pelabuhan Miami di Amerika Serikat dengan pergerakan 4 juta penumpang per tahun. Pelabuhan Miami ini juga memiliki dampak hingga US$43 miliar per tahun dan menghasilkan 330.000 lapangan pekerjaan bagi wilayah di sekitarnya. Namun, tidak ada salahnya jika Bali mulai menjadikan Pelabuhan Benoa sebagai asset penting bagi daerah.

Apalagi data global dari Business Research & Economic Advisors (BREA)—satu lembaga riset di New Jersey, menyebutkan tingkat pengeluaran penumpang kapal pesiar mencapai US$21 miliar selama transit dan sandar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 29% disumbangkan oleh pengeluaran penumpang, sedangkan sisanya oleh awak kapal. Sementara pengeluaran terbesar adalah untuk kebutuhan kapal pesiar itu sendiri yang mencapai US$49,6 miliar atau 69% dari total pengeluaran.

Kehadiran Pelabuhan Benoa dengan transformasinya diharapkan bisa menangkap secuil peluang tersebut. Potensinya sangat besar karena Bali sebenarnya merupakan salah satu jalur perlintasan bagi kapal pesiar dari Australia menuju Singapura maupun Malaysia.

Australia merupakan pasar terbesar bagi Bali dan wisatawan dari negara itu sudah menganggap daerah ini sebagai rumah kedua. Ada sebanyak 1,2 juta orang penumpang kapal pesiar di Australia (BREA, 2019 Global Economic Impact Study).

Survei Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali mencatat sekitar 70,6% wisatawan mancanegara yang datang ke Bali ingin menikmati kesenian, kebudayaan dan kuliner di daerah ini yang dikenal unik. Atraksi kesenian Bali seperti tari kecak, tari pendet dan jenis seni lainnya menjadi primadona wisman yang datang ke Bali. Kebudayaan asli Bali seperti arsitektur bangunan, tata kehidupan masyarakat adat yang mampu dipertahankan di era modernisasi juga menjadi daya tarik utama lainnya.

Survei tersebut berkebalikan dengan fakta bahwa tidak semua wisatawan yang datang ke Bali memperhatikan budaya lokal. Sudah menjadi persoalan umum dan sering viral terkait kualitas turis asing yang datang ke Bali. Banyak yang ternyaya suka membikin onar hingga enggan menghormati budaya lokal dan menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mampu mengarahkan para turis asing ini.

Di sinilah peran Pelabuhan Benoa dalam menyokong program pemerintah daerah. Kualitas wisatawan asing yang berangkat ke Bali menggunakan kapal pesiar dapat dijamin merupakan wisatawan kelas menengah atas. Kehadiran wisatawan jenis ini akan sinkron dengan upaya pemerintah untuk mendatangkan wisatawan berkualitas dan menghormati budaya setempat.

Untuk menuju tahapan itu, yang sangat ditunggu saat ini adalah selesainya infrastruktur pendukung di Pelabuhan Benoa. Kelengkapan infrastruktur akan menjadikan fasilitas ini sebagai salah satu harapan dan menjadi gantungan perekonomian Bali yang baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.