OPINI: Menguatkan Karakter Bank Syariah

Eksistensi bank syariah di Indonesia sudah cukup mengakar di masyarakat. Jika dihitung dari sejak berdirinya bank syariah sudah berusia 32 tahun

AM Hasan Ali

29 Feb 2024 - 09.10
A-
A+
OPINI: Menguatkan Karakter Bank Syariah

Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bisnis, JAKARTA – Eksistensi bank syariah di Indonesia sudah cukup mengakar di masyarakat. Jika dihitung dari sejak berdirinya bank syariah kali pertama pada tahun 1991, sampai saat ini bank syariah sudah berusia 32 tahun.

Masa yang cukup panjang untuk membangun sekaligus menguatkan branding karakter dari bank syariah di masyarakat. Dari sisi DNA, karakter yang ada pada bank syariah mempunyai perbedaan yang mendasar dengan karakter yang dimiliki oleh bank konvensional.

Bank syariah dibangun atas dasar ketundukkan pada prinsip syariah (sharia comply) yang bersumber pada ajaran Islam. Sedangkan bank konvensional dibangun atas dasar kebutuhan bisnis yang tidak harus tunduk dengan ketentuan pada prinsip syariah, sebagaimana yang harus ada pada bank syariah.

Misal, adanya larangan praktik riba (bunga) bagi bank syariah merupakan bagian dari prinsip syariah yang harus dijalankan oleh bank syariah. Larangan bunga merupakan implementasi dari QS. Al-Baqarah [2]: 275.

Pada awal perkembanganya, bank syariah di Indonesia dikenal juga dengan istilah bank tanpa bunga atau bank dengan bunga nol persen. Sebagai gantinya, karena bank syariah tidak boleh mempraktikkan bunga, maka bank syariah dapat mengembangkan produk jasa keuangan berbasis transaksi jual-beli, bagi hasil, sewa menyewa ataupun produk jasa keuangan lainnya yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.


FUNGSI BANK

Walaupun demikian, dari sisi fungsi yang diemban oleh bank syariah dan bank konvensional memiliki kesamaan, yakni sama-sama sebagai lembaga keuangan yang menjalankan fungsi intermediary, menjembatani antara pihak yang surplus dana dengan pihak yang minus dana. Di sinilah terlihat makna dasar dari bank syariah sebagai bagian dari lembaga keuangan yang fungsi dasarnya melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana. Sehingga secara sederhana, aktivitas yang dijalankan oleh bank, baik bank syariah ataupun bank konvensional, tidak terlepas dari kegiatan penghimpunan (funding) dan penyaluran dana (financing).

Bank syariah ataupun bank konvensional, tatkala berhubungan dengan pihak yang surplus dana, akan memaksimalkan aktivitas funding, yakni mengaktivasi fungsi penghimpunan dana. Pihak bank akan mengerahkan segenap cara agar dapat melakukan penghimpunan dana masyarakat melalui instrumen yang sah sesuai dengan ketentuan otoritas, seperti tabungan, deposito ataupun giro. 

Operator di industri perbankan akan berlomba-lomba menawarkan produk penghimpunan dananya ke pihak yang surplus dana. Bank melalui tim marketingnya yang biasa dijuluki dengan bagian account officer-nya akan merayu kepada pihak yang surplus dana agar mau menempatkan dananya di banknya. Penempatan dana oleh pihak yang surplus dana ini tentunya diikuti dengan janji pihak bank akan memberikan imbalan, baik dalam bentuk bagi hasil atau bonus kalau di bank syariah, atau imbalan dalam bentuk bunga simpanan jika di bank konvensional.

Di sisi yang lain, jika berhubungan dengan pihak yang minus dana, baik bank syariah ataupun bank konvensional akan menjalankan fungsi financing, yakni fungsi penyaluran dana kepada pihak yang membutuhkannya. Bagian marketing bank akan hunting orang-orang yang membutuhkan dana, dengan menawarkan produk kredit kalau di bank konvensional atau pembiayaan jika di bank syariah. 

Tentunya dalam proses penyaluran dana ini, pihak bank tidak ingin merugi, namun sebaliknya ingin memperoleh keuntungan. Karena ada beban cost of fund yang ditanggung oleh pihak bank kepada pihak yang surplus dana, maka pihak bank akan menetapkan biaya dana juga kepada pihak yang minus dana, berupa bunga pinjaman kalau di bank konvensional dan margin ataupun bagi hasil jika di bank syariah.


Karakter Bank Syariah

Bank syariah menjelma menjadi salah satu lembaga keuangan terlebih dulu melalui proses ijtihad yang dilakukan oleh ulama kontemporer (khalaf). Mengapa bank syariah terwujud dari hasil ijtihad? Karena eksistensi bank syariah merupakan bagian dari ‘sesuatu yang baru’, yang pada era Nabi Muhammad Saw belum ada. Sesuatu yang baru kalau dalam bahasa agama biasa disebut dengan bid’ah. Semoga Bank syariah merupakan bagian dari bid’ah hasanah, sesuatu yang baru yang memberikan dampak positif bagi kemaslahatan umat manusia. 

Sekiranya bank syariah sudah ada sejak eranya Nabi Muhammad Saw, tentunya ulama kontemporer tidak lagi bersusah-payah merumuskan bangunan bank syariah. Umat Islam tinggal meneruskan apa yang sudah dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. Namun faktanya, tidak demikian. Faktanya, bank syariah merupakan fenomena baru di era kontemporer yang kelahirannya telah didahului oleh keberadaan bank konvensional.

Pada kondisi seperti ini, ulama kontemporer merasa mempunyai tanggung jawab untuk melakukan ijtihad dengan membuat rumusan bangunan bank syariah. Tentunya tugas yang sangat berat bagi ulama kontemporer untuk berijtihad membangun konsep bank syariah. Sebagai bagian dari wilayah ijtihad, hasil yang dibangun tentunya masih mempunyai sifat dzonni, bukan qoth’i. Proses ijtihad tersebut merupakan ikhtiar bagi ulama kontemporer untuk mendekatkan jarak dalam berislam secara kaffah. Bisa jadi hasil ijtihadnya bernilai kaffah 100% atau bisa jadi kurang, karena hanya Allah Swt yang mengetahui hakekat kualitas keberislaman bagi seorang salik.

Karakter bank syariah mengadopsi dari praktek muamalah yang telah diteladankan oleh Nabi Muhammad Saw. Seperti telah diketahui secara masyhur, sosok Muhammad Saw, selain sebagai Nabi dan Rasul, beliau adalah pelaku bisnis yang sukses di masa mudanya. Model bisnis yang pernah dijalankan secara personal oleh Muhammad Saw dapat menjadi referensi dalam membangun konsep bank syariah. Selain itu, tentunya norma hukum ekonomi syariah yang termaktub dalam Kitab Suci al-Qur’an menjadi dasar dalam merumuskan konsep bank syariah. Di antara hal yang prinsip dalam doktrin hukum ekonomi syariah adalah praktik larangan riba yang konstektualisasinya berwujud dalam praktik larangan bunga bank.

Berhubung riba (baca: bunga) dilarang dalam praktik di bank syariah, sebagai solusinya bank syariah dapat mendesaign produknya berbasis jual-beli (al-ba’i). Sehingga saat ini ditemukan banyak varian produk di bank syariah yang dasarnya jual beli, misalnya murabahah, salam dan istishna’. Ada hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, mengapa di bank syariah mensupport untuk memperbanyak realisasi transaksi jual-beli. 

Karena dengan memperbanyak transaksi yang berbasis jual-beli dapat menggerakkan sektor riil. Ada keseimbangan pergerakan antara sektor moneter dengan sektor riil. Saat ini, berdasarkan data statistik yang dilansir oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2023, total piutang murabahah industri bank syariah di Indonesia sebesar 246.958 miliar, ada kenaikan 16.695 Miliar, jika dibanding periode yang sama pada bulan November 2022 (YoY).

Model murabahah yang dikembangkan di bank syariah, dari sisi penghitungannya ‘agak mirip’ dengan model kredit yang diberikan oleh bank konvensional. Kalau di murabahah ada istilah pokok hutang plus margin, sedang kalau dengan model kredit di bank konvensional mengadopsi istilah pokok hutang plus bunga. 

Bedanya, kalau dalam praktik murabahah di bank syariah mengharuskan adanya barang yang ditransaksikan untuk diperjualbelikan. Sedangkan kalau dengan model kredit di bank konvensional basisnya pinjam meminjam uang, sehingga yang diterima oleh nasabah adalah uang pinjaman dari bank yang pokok pinjamannya harus dikembalikan bersama bunga yang sudah ditetapkan terlebih dulu oleh pihak bank konvensional.

Namun dalam praktik murabahah di bank syariah ada sedikit inovasi dengan memasukkan prinsip ‘wakalah’ di dalamnya, yakni memberikan mandat kepada nasabah debitur untuk mewakili pihak bank dalam proses pengadaan barang. Sehingga praktis yang diterima oleh nasabah bukanlah barang, namun sejumlah uang untuk membeli barang yang diinginkannya. Model murabahah seperti ini mendapatkan toleransi untuk dipraktikkan karena dianggap lebih efektif dan efisien, karena terhindar isu double tax dalam transaksi jual-beli. Namun demikian, hemat kami praktik murabahah bil wakalah yang dijalankan di bank syariah perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian (ihtiyath atau prudential) tingkat tinggi, karena ada risiko side streaming di dalamnya.


Selain model murabahah, yang juga dapat diidentifikasi menjadi karakter bank syariah adalah pengembangan skema bagi hasil melalui model mudharabah ataupun musyarakah. Praktik bagi hasil ini semula menjadi trending topik saat awal kali memperkenalkan bank syariah di Indonesia pada era pertama tahun 1990-an. Bank syariah saat itu lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan istilah bank bagi hasil. 

Model bagi hasil ini mengadopsi praktik yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw di masa mudanya, saat menjalin kerja sama usaha bersama Siti Khadijah sebelum menjadi suami-istri. Dalam praktik mudharabah ini, Siti Khadijah berposisi sebagai pemilik modal (shahib al-mal), sedangkan Muhammad Saw sebagai pengelola dana (mudharib).

Bahkan, jika ditelusuri melalui kajian hadits Nabi, praktik bagi hasil dengan model mudharabah sudah menjadi tradisi masyarakat Arab awal Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani menyatakan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib, yang juga pamannya Rasulullah Saw, pernah melakukan kerja sama bagi hasil dalam bentuk praktik mudharabah dengan sahabat lainnya dengan menetapkan syarat.

Dalam hadits tersebut, ada tiga syarat yang ditetapkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib selaku pemilik modal terhadap modal atau barang dagangannya, yakni tidak boleh mengarungi lautan, tidak boleh menuruni lembah, dan tidak boleh membeli hewan ternak. Tiga syarat yang ditetapkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib tersebut berdasarkan logika risiko bisnis yang melingkupinya.

Saat ini praktik mudharabah di bank syariah selain dipakai sebagai dasar dalam proses penghimpunan dana (funding), juga dipakai dalam bentuk pembiayaan yang dikucurkan kepada nasabah debitur bank syariah. Berdasarkan data statistik OJK per November 2023, total pembiayaan bagi hasil, baik pembiayaan mudharabah ataupun musyarakah yang disalurkan oleh bank umum syariah sebesar 285.290 miliar, ada kenaikan sebesar 50.111 miliar jika dibandingkan dengan capaian di bulan November 2022 (YoY).

Lebih jauh lagi, dalam membangun karakter bank syariah, selain model murabahah dan bagi hasil seperti mudharabah ataupun musyarakah, aslinya dapat juga merujuk pada praktik muamalah yang sering dijumpai pada kajian kitab fiqh muamalah, seperti model ijarah, rahn, wakalah, hawalah, dll. Praktik dan model muamalah yang termaktub dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, serta hasil ijtihad para ulama ini, bisa menjadi dasar dalam membangun karakter bank syariah. Inovasi produk yang dikembangkan oleh bank syariah tidak bisa terlepas dari model-model muamalah yang sudah diwariskan sejak masa awal Islam hingga era ulama kontemporer.


Leader atau Follower

Namun dalam perkembangannya, bank syariah di Indonesia dituntut untuk bersaing memberikan layanan terbaik kepada nasabahnya. Persiangan tersebut tidak hanya antar bank syariah. Namun, bank syariah juga dituntut untuk bersaing dengan produk dan layanan yang dimiliki oleh bank konvensional. Indikasinya terlihat melalui proses merger tiga bank syariah plat merah, yakni Bank Syariah Mandiri (BSM), BRI Syariah dan BNI Syariah, menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Salah satu alasan mengapa perlu adanya BSI tersebut selain karena pemegang saham, dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian BUMN, ingin melakukan efisiensi, juga dikarenakan alasan agar ada bank syariah yang asetnya besar bisa relatif bersaing dengan bank-bank konvensional kelas kakap, seperti BRI, BNI, Bank Mandiri, dan BCA.

Tatkala bank syariah dituntut juga bersaing dengan bank konvensional secara tidak langsung akan berdampak pada positioning bank syariah itu sendiri. Di industri perbankan nasional, bisa jadi saat ini bank syariah posisinya sebagai follower (baca: makmum), mengikuti atas apa yang selama ini dikembangkan oleh bank konvensional. Tidak jarang bank syariah ‘mengintip’ inovasi produk dan jasa yang dimiliki oleh bank konvensional. 

Kondisi seperti ini dianggap cukup wajar karena pangsa pasar bank syariah dan bank konvensional relatif tidak jauh beda. Selama ini pangsa pasar di industri perbankan nasional diperebutkan oleh bank syariah dan bank konvensional. Bagi nasabah yang rasional mungkin akan berfikir logis, manfaat apa saja yang bisa dinikmati tetkala menjalin hubungan dengan industri perbankan.

Dari sisi persaingan, kadang bank syariah masih dianggap kalah satu langkah dengan apa yang dimiliki oleh bank konvensional. Misal, tetkala Yusuf Hamka menyoal dengan pernyataan kalau bank syariah lebih mahal dibanding dengan bank konvensional. Mungkin ini menjadi tantangan tersendiri bagi bank syariah untuk bisa lebih bersaing dengan bank konvensional. 

Nyatanya saat ini market leader di industri perbankan syariah di Indonesia, yakni BSI, positioning-nya masih pada bank BUKU III. Tidak terlalu leluasa jika BSI dipaksakan untuk bersaing dengan bank konvensional BUKU IV, semisal BRI, BNI, Bank Mandiri dan BCA. Sehingga apa yang disampaikan oleh Yusuf Hamka ada benarnya, karena bank konvensional kelas kakap tadi itu bisa jadi sudah pada level yang lebih efisien dibanding BSI. Agar lebih fair persaingannya, BSI harus naik kelas terlebih dulu menjadi bank BUKU IV. Salah satu strategi yang dapat diambil untuk menaikkan kelas BSI dari BUKU III menjadi BUKU IV adalah dengan melakukan penambahan modal inti.

Aslinya, jika bank syariah dapat menguatkan karakternya dengan bertumpu pada prinsip dasar dan nilai pembeda yang dimilikinya, akan dapat keluar dari bayang-bayang untuk mengikuti apa yang dimiliki oleh bank konvensional. Bank syariah harus membangun karakternya sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.