OPINI : Opsi KA Semi Cepat Terbaik

Mimpi mem­­punyai ke­­reta api bullet-train sekelas Shinkansen milik Jepang atau TGV milik Prancis agaknya masih jauh di angan

Effnu Subiyanto

4 Nov 2023 - 06.25
A-
A+
OPINI : Opsi KA Semi Cepat Terbaik

Seorang penumpang memasuki rangkaian Kereta Cepat WHOOSH Indonesia di Stasiun Tegalluar, Jawa Barat pada Senin (9/10/2023)./Bisnis-Lorenzo

Mimpi mem­­punyai ke­­reta api bullet-train sekelas Shinkansen milik Jepang atau TGV milik Prancis agaknya masih jauh di angan.

Kabar angin bahwa rute KA Jakarta-Surabaya akan dibuatkan kereta cepat seperti KCJB masih perlu pertimbangan mendalam. KCJB yang sudah berganti nama WHOOSH (Waktu Hemat Operasi Optimal Sistem Hebat) resmi operasional sejak 2 Oktober 2023 memang lompatan teknologi untuk Indonesia, namun sisi pendanaan jelas sekali menjadi tantangan terdalam.

Rute Jakarta-Surabaya memang sangat berat karena sangat panjang dan tentu saja linier dengan potensi dan risiko keselamatan. Jalur ini memiliki 1.223 perlintasan KA resmi sementara yang tidak resmi mencapai 3419 perlintasan. Jumlah flyover dan underpass ada 349 lokasi. Kemenhub menghabiskan banyak dana untuk infrastruktur, maintenance and operation (IMO) pada titik itu dan jumlahnya Rp1,3 triliun (2018), Rp1,1 triliun (2019) dan Rp1,5 triliun (2020).

Ini hanya untuk pemeliharaan palang pintu/perlintasan sebidang karena tingginya angka kecelakaan di titik itu. Pada 2018 ada 395 kecelakaan dengan korban 245 baik luka dan meninggal.

Pada 2019 terdapat 260 kecelakaan kereta dengan korban 76 orang tewas. Tidak terbayang jika jalur ini ditingkatkan fungsinya untuk kereta cepat sekelas WHOOSH dengan kecepatan 350 km/jam, kita tidak bisa membayangkan kengerian yang akan terjadi.

Repotnya sudah jalur pendek, namun harga investasinya demikian mahal. Biaya investasi WHOOSH adalah US$9,2 miliar atau Rp132,44 triliun, artinya biaya per km mencapai US$64,65 juta. Nilai fantastis proyek kereta cepat Indonesia ini mengalahkan Iran (US$12,73 juta per kilometer, Arab Saudi (US$17,34 juta/km), Turki (US$59,21 juta/km), dan Kenya (US$11,56 juta/km).

Jika jarak Surabaya-Jakarta adalah 748 km, artinya akan memerlukan biaya investasi US$48,3 miliar atau Rp739,89 triliun.

Sebetulnya pada 2015 BPPT dan JICA sudah menyelesaikan kajian modernisasi kereta Surabaya-Jakarta dengan tiga opsi yang ditawarkan. Opsi itu adalah menggunakan jalur yang ada, membuat jalur baru dan mengubah jalur melalui Solo. Dari tiga opsi itu, membuat jalur baru yang paling memungkinkan secara ekonomi dan pertimbangan risiko.

Dana Rp60 triliun dari Jepang dengan tenor 40 tahun dengan masa tenggang 10 tahun dan bunga utang 0,5% tampak sangat menarik. Bandingkan dengan bunga biaya investasi WHOOSH yang mencapai 3,4%.

Tawaran JICA ini sebetulnya menarik, mempertimbangkan Jepang berpengalaman dalam hal teknologi kereta api. Pembangunan rel baru juga bertahap sehingga tidak menyedot APBN, dilaksanakan dua tahap, yaitu Jakarta-Semarang dengan rel baru, dan Semarang-Surabaya dengan rel lama.

Waktu tempuh akan dipercepat dari 9 jam menjadi 5 sampai 5,5 jam, kecepatan rata-rata 145 km/jam dengan tiga pemberhentian di Jakarta, Semarang dan Surabaya. Dus total biaya Rp157,75 triliun untuk mendapatkan proyek ini, dan seharusnya jauh lebih murah dibandingkan nilai proyek WHOOSH Rp132,44 triliun hanya untuk 142 km.

Harus Bijak

Proyek WHOOSH sudah terlanjur dan tidak bisa disesali, jika misinya untuk membuktikan Indonesia bisa memiliki teknologi kereta cepat, artinya misi accomplished dan tercapai. Generasi penerus negeri kini akan mengambil alih pemanfaatannya, apakah bisa menguntungkan atau tidak. Inilah pentingnya langkah bijak yang harus dimiliki pemerintah dalam merencanakan proyek serupa Surabaya-Jakarta.

Kompetisi utama jalur ini adalah moda pesawat terbang dengan lama terbang satu jam. Ditambah persiapan sebelum terbang satu jam, di dalam pesawat prior-depart 1 jam, setelah landing sampai keluar pesawat 1 jam, berjalan keluar mencari transportasi lanjutan 1 jam, maka total persiapan 5 jam dari keluar rumah sampai tiba di tujuan Jakarta saat menggunakan moda udara.

Untuk itu, pemilihan jenis kereta semi cepat dengan waktu tempuh 5 jam adalah pilihan paling bijak. Menjadi opsi pembanding terbaik untuk pengguna, tidak dramatikal “menantang” moda udara namun menawarkan pilihan yang berbeda.

Pandangan penulis, pembangunan proyek serupa WHOOSH yaitu kereta semi cepat adalah yang paling memungkinkan dari segi biaya dan sikap sosial masyarakat kita. Rakyat sebetulnya bermimpi memiliki Shinkansen atau TGV, namun belajar dari biaya mahal WHOOSH, agaknya mimpi itu harus diatur ulang secara bijak.

Penting sekali bahwa pengaturan biaya proyek harus direncanakan dengan baik, tidak emosional asal membuat proyek karena sudah geregetan kelamaan, hasilnya adalah cacat dan penyesalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.