OPINI : Prospek Keuangan Berkelanjutann

Dukungan kredit dari bank BUMN sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan berwawasan lingkungan dan penyaluran kredit UMKM.

Setyo Wijayanto

7 Nov 2023 - 07.16
A-
A+
OPINI : Prospek Keuangan Berkelanjutann

Bisnis, JAKARTA – Lima tahun setelah ­di­terbitkannya POJK No.51/POJK.03/2017 tentang Ke­uangan Ber­kelanjutan, terdapat 9 seri obligasi korporasi jenis green bond dan sustainability bond telah diterbitkan oleh tiga Bank BUMN.

PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) telah menerbitkan 2 seri green bond senilai Rp5,00 triliun pada 2022. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) sebagai pionir penerbitan sustainability bond telah menerbitkan senilai US$500,00 juta pada 2019 dan 3 seri green bond senilai Rp5,00 triliun.

Selanjutnya, PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) telah menerbitkan sustainability bond senilai US$300,00 juta pada 2021 yang dilanjutkan dengan penerbitan 2 seri green bond senilai Rp5,00 triliun pada 2023. Secara kumulatif, terdapat 9 seri obligasi korporasi jenis green bond dan sustainability bond yang telah diterbitkan oleh ketiga Bank BUMN.

Penerbitan sustainability bond tersebut mengacu kepada Sustainability Bond Framework kedua bank tersebut yang berpedoman kepada market standards yakni Sustainability Bond Guideline dan Asean Sustainability Bond Standards.

Realisasi dana sustainability bond BBRI untuk kategori Socio-Economic Advancement and Empowerment yang mencapai US$269,00 juta atau 52,80 persen berdampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja baru berjumlah 43.383, penerima bantuan kredit super mikro kredit usaha rakyat (KUR) mencapai 335.139 unit, dan UMKM penerima bantuan kredit modal kerja (KMK) berjumlah 5.400 unit.

Di sisi lain, kategori Clean Transportation meliputi pembangunan rel sepanjang 45 km, jumlah penumpang per tahun mencapai 84,5 juta, dan pengurangan jumlah karbon per tahun sekitar 8.590 tCO212.

Sementara itu, realisasi sustainability bond BMRI senilai US$132 juta atau 44,00 persen dari total penerbitan untuk kategori renewable energy berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik tenaga air I dan II. 

Secara kumulatif, terdapat 696 MW kapasitas terpasang yang mampu menghasilkan energi per tahun sekitar 4,83 juta MWh, penurunan emisi rumah kaca sebesar 3,63 juta tCO2e dengan jumlah rumah tangga yang dilayani mencapai 783.611 unit.

Penerbitan green bond dan sustainability bond di atas juga meningkatkan kontribusi pembiayaan kegiatan usaha berwawasan lingkungan (KUBL) terhadap total kredit bank kepada pihak ketiga. Jumlah portofolio KUBL dari ketiga bank BUMN tersebut sekitar Rp1,106.52 triliun atau tumbuh 11,58 persen di tahun 2022.

Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit sebesar 11,35 persen YoY. Hal ini menunjukkan partisipasi aktif ketiga Bank BUMN tersebut dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

Sejalan dengan kenaikan tersebut, porsi pembiayaan KUBL terhadap total kredit bank meningkat. Pada 2022, kontribusi pembiayaan ini mencapai 17,23 persen dibandingkan 2021 sebesar 17,19 persen, dan pada 2020 sebesar 15,70 persen.

Porsi lebih besar BBRI dalam pembiayaan KUBL sejalan dengan fokus binis pada penyaluran kredit untuk segmen UMKM yang termasuk dalam kategori KUBL. Kredit UMKM ini mencapai Rp616,07 triliun atau 88,67 persen dari total pembiayaan KUBL di tahun 2022. 

Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi kredit UMKM BBNI dan BMRI masing-masing sebesar 67,33 persen dan 51,27 persen dari total pembiayaan KUBL senilai Rp182,93 triliun dan Rp228,76 triliun.

Kenaikan pembiayaan KUBL tersebut mampu diimbangi dengan pengelolaan aset produktif dengan baik ditandai dengan perbaikan rasio non performing loan (NPL)-gross. Rasio NPL gross BMRI sebesar 1,88 persen di tahun 2022 atau lebih baik dibandingkan BBNI (2,81 persen) dan BBRI (2,82 persen) serta rata-rata industri perbankan (2,44 persen).

Meski demikian, penulis berpendapat rasio NPL lebih baik juga dipublikasikan spesifik untuk pembiayaan KUBL dalam rangka transparansi serta peningkatan nilai bank kepada pemegang saham dan stakeholders.

Penulis optimis prospek keuangan berkelanjutan akan makin meningkat ke depan. Di pasar perdana, minat investor terhadap produk investasi keuangan berkelanjutan yang selaras dengan aspek environmental, social and governance (ESG) sangat tinggi mendukung sisi pendanaan pembiayaan KUBL.

Penerbitan sustainability bond BMRI mengalami oversubscribed lebih dari 8,3x dibandingkan rencana penerbitan senilai US$300 juta. Selain itu, penerbitan green bond BBNI, BBRI dan BMRI masing-masing mengalami oversubscribed sebesar 4x, 4,4 kali, dan 3,74x dibandingkan rencana penerbitan yang sama sebesar Rp5,00 triliun.

Secara nominal, penerbitan green bond di pasar perdana oleh BBRI hingga Juli 2024 diperkirakan mencapai Rp10,00 triliun melalui skema Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan. 

BMRI juga diharapkan menerbitkan green bond senilai Rp5,00 triliun melalui skema yang sama hingga Juli 2025 dan sustainability bond sebagai bagian dari Euro Medium Term Notes (EMTN) Programme tahun 2019 senilai US$2,00 miliar atau menerbitkan EMTN baru.

Pemenuhan kebutuhan pendanaan tersebut sangat penting untuk mendukung perkiraan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2024. Dukungan kredit dari bank BUMN sangat penting untuk keberlanjutan pembangunan berwawasan lingkungan dan penyaluran kredit UMKM.

Sejalan dengan target porsi kredit UMKM sebesar 30 persen dari total kredit bank pada 2024 yang ditetapkan oleh Pemerintah, Bank Indonesia telah menyempurnakan ketentuan insentif Giro Wajib Minimum kepada bank penyalur KUR dan kredit/pembiayaan hijau yang berlaku sejak 1 April 2023 dan diatur dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 1 Tahun 2023.

 

*Penulis adalah Pengamat Keuangan dan Pasar Modal. Eks Head of Research & Strategy Treasury and Capital Markert CIMB Niaga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.