OPINI: Tetap Waspada Tekanan Ekonomi

Pemerintah mengeklaim pemulihan ekonomi nasional berjalan baik yang tecermin dari kinerja moncer sejumlah indikator produksi dan konsumsi. Kita boleh saja gembira dengan capaian tersebut. Namun, kita tak boleh lekas jemawa dan mengendurkan kewaspadaan.

Redaksi

28 Sep 2022 - 08.33
A-
A+
OPINI: Tetap Waspada Tekanan Ekonomi

Ekonomi Indonesia sedang dinaungi optimisme. Kendati ketidakpastian global tengah meninggi dan kenaikan inflasi membayangi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini justru diramal solid.

Tak cuma klaim pemerintah, proyeksi pertumbuhan solid ekonomi nasional pada 2022 juga datang dari lembaga-lembaga kredibel dunia.

Asian Development Bank mengerek proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, dari 5,2% menjadi 5,4%. Adapun International Monetary Fund dan World Bank masing-masing memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3% dan 5,1%, tak terpaut jauh dari target Pemerintah Indonesia sebesar 5,2%.

Pemerintah mengeklaim pemulihan ekonomi nasional berjalan baik yang tecermin dari kinerja moncer sejumlah indikator produksi dan konsumsi.

Indeks penjualan ritel Agustus 2022 diperkirakan tumbuh 5,4%. Cukup kuat untuk turut menopang pemulihan ekonomi. Demikian pula dari sektor industri, di mana Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus 2022 berada di zona ekspansi, yakni mencapai 51,7, atau lebih tinggi ketimbang Juli yang sebesar 51,3.

Data tak kalah bagus juga terlihat dari kinerja perdagangan nasional. Neraca perdagangan pada Agustus melanjutkan tren surplus, yakni mencapai US$5,76 miliar. Alhasil, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pun diprakirakan membaik sejalan dengan kinerja ekspor yang kuat.

Adapun Bank Indonesia (BI)sebelumnya juga menyatakan bahwa likuiditas perbankan dan perekonomian terjaga. Hal itu tecermin dari kemampuan per-bankan dalam menyalurkan kredit yang masih tinggi. Buktinya, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) per Agustus solid di level 26,52%.

Demikian pula dengan likuiditas perekonomian yang longgar. Uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2), masing-masing tumbuh 13,7% dan 9,5% secara tahunan.

Bantalan sosial yang dikucurkan pemerintah pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agaknya juga efektif menopang daya beli masyarakat sejauh ini. Apalagi, Presiden Joko Widodo menyatakan penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) BBM telah mencapai 95,9%.

Kita boleh saja gembira dengan capaian tersebut. Namun, kita tak boleh lekas jemawa dan mengendurkan kewaspadaan. Sebab, situasi 2023 bisa jadi amat berbeda. Faktor eksternal terutama dari global masih amat dominan, utamanya dipicu konflik geopolitik yang berujung pada lonjakan harga pangan dan energi.

Tak pelak, risiko lonjakan inflasi pun belum sirna. Jika tak itu terjadi, dampaknya akan memukul daya beli masyarakat. Daya beli yang menurun akan menggoyang konsumsi, yang bakal memengaruhi produksi barang dan jasa dan bermuara pada kontraksi ekonomi. Terlebih, tahun depan sejumlah insentif fiskal bagi dunia usaha bakal dipangkas.

Situasi menjadi lebih menantang lantaran dampak pengetatan kebijakan moneter melalui penaikan suku bunga acuan, diprediksi bakal terasa di awal tahun depan. Maklum, transmisi kenaikan suku bunga acuan ke suku bunga kredit perbankan, lazimnya memang berjeda bebe-rapa bulan.

Terakhir kali BI menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), pada 22 September lalu, yakni sebesar 50 bps menjadi 4,25%.

Artinya, kenaikan suku bunga kredit sudah di depan mata. Dampaknya, permintaan kredit, baik konsumer maupun dari dunia usaha untuk keperluan ekspansi, mungkin seret.

Pemerintah semestinya telah memiliki strategi untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Penambahan bantalan sosial bisa jadi masih diperlukan demi menjaga konsumsi masyarakat.

Upaya lainnya untuk meno-pang pertumbuhan ekonomi ke depan adalah dengan terus mengoptimalkan ekspor, di mana hingga kini Indonesia masih diliputi berkah kenaikan harga komoditas. Demikian pula dengan upaya memacu investasi yang tak boleh kendur. Toh sejauh ini, realisasi investasi berada dalam tren yang positif.

Tantangan ekonomi ke depan mungkin belum mengendur, tetapi dengan antisipasi yang baik impaknya diharapkan dapat diminimalkan. Jangan sampai capaian positif yang sudah ditorehkan sejauh ini, kembali loyo karena antisipasi yang lemah dan tidak terukur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.