PAMERAN, Membangun Makna di Sudut Ruang dan Luang

Pameran ini dinamakan Kaul dan Luang berdasarkan pola kerja masing-masing seniman dalam mengeksplorasi media dan ruang.

Saeno
11 Jul 2021 - 10.33
A-
A+
PAMERAN, Membangun Makna di Sudut Ruang dan Luang

IIustrasi - Dok. Selasar Sunaryo Art Space

Bisnis, JAKARTA - Benda-benda tak terpakai bisa jadi dianggap sudah tak bermakna. Tapi, di dunia seni, tak ada benda yang sungguh-sungguh tak terpakai. 

Reinterpretasi makna soal benda bekas dan soal keberfungsian sebuah benda mengantar publik pada beragam kemungkinan yang selama ini tidak terbayangkan. 

Benda-benda seperti belahan kaca, potongan kawat, kain, sarang tawon, dan berbagai macam benda lainnya terangkai dalam bagiannya masing-masing di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat. Benda-benda itu terbentuk menjadi sebuah bentuk pada bagiannya masing-masing.

Belahan kaca, kawat, kain, bahkan hingga sarang tawon yang terangkai pada setiap bagian masing-masing itu memberikan imaji karya.

Ini adalah satu dari beberapa karya yang dihadirkan dalam dwi pameran bertajuk Kaul dan Luang. Berlangsung dari 4 Juni hingga 4 Juli 2021, pameran tersebut melibatkan dua seniman muda, yaitu Luqi Lukman dan Maruto di Ruang Sayap dan Ruang B Selasar Sunaryo Art Space.

Luqi menuturkan karya yang dipresentasikan tentang pertemuan antar perilaku, benda, ruang, dan ingatan. Pertemuan-pertemuan diwakili oleh perpindahan, penambahan, dan pengurangan terhadap konfigurasi benda yang terdiri atas grafis, blok, warna, motif, dan perlakuan yang dapat diibaratkan sebagai kata atau tanda.

Ide-ide karya yang dipresentasikan tersebut didapatnya dari kegiatan sehari-hari seperti merasa, melihat, mendengar, menyentuh, bicara dan pembicaraan, menyimpan, mengumpulkan, dan mengulang.

“Hampir semua benda atau material yang dia gunakan merupakan temuan atau sisa-sisa dari kegiatan keseharian seperti membersihkan, mencuci, memotong, menekuk, “melubangi, menghancurkan, merapikan, membeli dan mengembalikan,” katanya kepada Bisnis.

Di bagian yang lain, sebuah kursi yang terbentuk dari sisa-sisa barang bangunan, dengan sebuah lubang untuk memperoleh listrik berdiri di sudut ruangan. Bukan sebuah kursi yang ideal, namun penuh dengan guna.

Lebih dari itu, keberadaan kursi di sudut ruangan itu memberikan makna banyak hal, salah satunya adalah mengisi ruang-ruang sudut ruangan yang luang.

Presentasi itu adalah hasil karya dari seniman Maruto berjudul Luang yang dapat terlihat dari akun Instagram Selasarsunaryo.

Maruto mengungkapkan dalam pameran yang berjudul Luang, dirinya membahas tentang memaknai ulang jejak keseharian manusia yang tidak disengaja, pekerjaan iseng, keotentikan cara pekerja bangunan.

Melalui karya-karyanya ini, dia menuturkan, setiap seniman selalu memiliki progres dalam kekaryaanya, semakin dipikirkan dan semakin dikerjakan terus akan menemukan sesuatu yang baru.

“Dan pameran kali ini bagi saya menjadi semacam pit stop sebelum menuju ke tahap yang selanjutnya, sekiranya ada perlu para penikmat karya untuk mengetahui perkembangan dari tahap ke tahap,” katanya.

Untuk pameran Luang, dia banyak terinspirasi dari pekerjaan di proyek-proyek bangunan juga digabungkan dengan beberapa pertanyaan dari proses seni grafis sewaktu kuliah. Perilaku pekerja di proyek bangunan dalam mengakali alat dengan material seadanya, menegosiasi waktu tenaga dan pikiran.

Heru Hikayat, Kurator Pemangku Selasar Sunaryo Art Space, mengungkapkan dua pameran ini dinamakan Kaul dan Luang berdasarkan pola kerja masing-masing seniman dalam mengeksplorasi media dan ruang.

Pameran tersebut mendapatkan jumlah pengunjung yang normal pada awal pameran. “Pembatasan dilakukan per satuan waktu skala ruangan. Dengan pembatasan demikian, jumlah total pengunjung masih bisa di atas 100 orang per hari,” katanya.

(Yudi Supriyanto, Dika Irawan)
Editor: Saeno

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.