Pancaran Terang dari Blok Mahakam, Lapangan Migas Tua Andalan

Kendati banyak pihak yang sempat menyangsikan keberlanjutan Mahakam karena tingkat penurunan produksi migas yang masih tinggi serta banyaknya kegiatan yang tidak mencapai ekspektasi, nyatanya Pertamina tak pernah benar-benar 'angkat tangan'.

Ibeth Nurbaiti

7 Agt 2023 - 18.00
A-
A+
Pancaran Terang dari Blok Mahakam, Lapangan Migas Tua Andalan

PT Pertamina Hulu Mahakam kembali mencatatkan rekor baru keberhasilan pengeboran sumur gas TN-Q468 di Lapangan Tunu, Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur. Bisnis-PHM

Bisnis, JAKARTA — Terletak di area Delta Sungai Mahakam Kalimantan Timur, Blok Mahakam menjadi salah satu penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia, dengan jumlah cadangan ketika pertama kali ditemukan di era 70-an sekitar 1,68 miliar barel minyak dan 21,2 triliun kubik gas alam.

Pada saat berpindah tangan ke PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Mahakam pada awal 2018, cadangan migas Blok Mahakam bahkan diproyeksikan masih sangat besar, yakni 57 juta barel minyak (MMbo), 45 juta barel kondesat, dan 4,9 triliun standar kaki kubik (Tscf) gas.

Padahal, Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation sebagai kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Blok Mahakam sejak 6 Maret 1967—31 Desember 2017 disebut-sebut telah menyedot 19,7 Tscf gas dan 1,1 triliun barel minyak dari ladang migas raksasa itu.

Baca juga: Perburuan Tiada Henti di Lapangan MNK Demi Target 1 Juta Barel

Dalam sejarahnya, produksi migas di Blok Mahakam pernah mencapai puncaknya pada 1977, yakni untuk minyak sekitar 230.000 barel per hari (bopd) dan gas 2.800 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). 

Namun setelah beroperasi lebih dari 50 tahun, produksi migas di blok yang masuk kategori tua dan berada di fase IV ini terus menurun secara alamiah bahkan berkurang drastis, meskipun jumlahnya masih sangat signifikan bagi Indonesia.

Dengan laju penurunan produksi alamiah yang diperkirakan sekitar 30 persen per tahun, produksi minyak bahkan berpotensi anjlok hingga di bawah 20.000 bopd dan gas di bawah 400 MMscfd.

Baca juga: Buah Manis Lelang Aset Migas Jumbo, Investasi Awal US$22,85 Juta

Kendati banyak pihak yang sempat menyangsikan keberlanjutan Mahakam karena tingkat penurunan produksi migas yang masih tinggi serta banyaknya kegiatan yang tidak mencapai ekspektasi, nyatanya Pertamina tak pernah benar-benar 'angkat tangan'.


Dengan segala daya dan upaya, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus melakukan optimasi pekerjaan untuk mempertahankan level produksi, meskipun di sisi lain harus bertahan dalam kondisi krisis dengan lapangan-lapangan yang sudah berumur.

Tak sia-sia, perlahan tapi pasti kinerja produksi di blok migas tua itu kian meningkat. Mengutip data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), produksi Blok Mahakam sudah mulai menunjukkan perbaikan untuk minyak dan kondesat pada 2018 meskipun masih terseok-seok untuk gas.

Pada 2016, produksi minyak Blok Mahakam mencapai 53.000 bopd dan gas 1.640 MMscfd. Kemudian pada 2017, produksi minyak sebesar 52.000 bopd dan gas 1.360 MMscfd. Selanjutnya, pada 2018 produksi gas Blok Mahakam sebesar 1.207 MMscfd, sedangkan produksi minyak dan kondensat sebesar 36.168 bopd.

Baca juga: Kinerja Lemah Blok Mahakam Mulai Bertenaga

Per 31 Desember 2020, realisasi produksi migas PHM tercatat masih di atas target, dengan produksi migas sebesar 26.363 bopd atau 102 persen dari WP&B revisi sebesar 25.722 bopd, sedangkan produksi gas (wellhead) mencapai 606 MMscfd atau 103 persen dibandingkan dengan WP&B revisi sebesar 588 MMscfd. 

Sepanjang 2001, PHM juga berhasil menjaga produksi migas Blok Mahakam, melebihi target yang direncanakan secara tahunan. Tren peningkatan produksi ini memberikan keyakinan akan terus membaiknya kinerja WK Mahakam, terlebih dengan ditemukannya sejumlah cadangan baru migas di ladang migas tersebut.

Dengan penemuan baru (discovery) gas dan kondensat di sumur eksplorasi Adiwarna-1x pada Juni 2023 setelah sebelumnya berhasil menemukan migas di sumur eksplorasi Manpatu-1X pada 2022, setidaknya telah membuktikan bahwa PHM—sebagai salah satu anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)—juga bisa diandalkan untuk mengelola lapangan migas di Tanah Air, bahkan untuk WK tua sekalipun.

Baca juga: Napas Panjang Blok Masela di Tangan Inpex-Pertamina-Petronas

Sebagai gambaran, cadangan migas baru di Manpatu-1x ditemukan setelah lebih kurang 10 tahun nyaris tidak ada penemuan cadangan migas yang signifikan di WK Mahakam.

Seperti yang pernah diungkapkan Direktur Utama PHI, John Anis, penemuan gas dari sumur eksplorasi Adiwarna-1x tersebut menjadi salah satu pencapaian strategi perusahaan guna mendukung target produksi migas nasional 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari pada 2030.

“Kami mempunyai beberapa strategi utama untuk memaksimalkan pengelolaan aset hulu migas, antara lain berupa kegiatan eksplorasi yang agresif untuk mencari sumber daya baru dengan play concept baru serta optimasi baseline dan development untuk meningkatkan produksi,” kata John, belum lama ini.

Adapun, eksplorasi masif dan agresif memang menjadi salah satu cara PHM untuk menemukan sumber daya baru apalagi di WK dengan kondisi cadangan yang makin menipis karena sumur-sumur migas Kalimantan sudah dieksploitasi sejak awal 1970an.

Terbaru, PHM kembali mencatatkan rekor baru keberhasilan pengeboran sumur gas TN-Q468 di Lapangan Tunu. General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menjelaskan bahwa selain menghasilkan kinerja yang lebih cepat dan selamat, penerapan pengeboran dengan desain extended light architecture mampu menghemat biaya pengeboran hingga US$1,8 juta.

PENGEBORAN MASIF

Adapun, pemerintah melalui SKK Migas terus mendorong kegiatan pengeboran sumur eksplorasi yang lebih masif. Pada tahun ini, program pengeboran sumur eksplorasi ditargetkan sebanyak 57 sumur atau meningkat 90 persen dibandingkan dengan realisasi 2022 yang sebanyak 30 sumur.

Masifnya program pengeboran sumur eksplorasi tersebut, kata Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Benny Lubiantara, sebagai upaya untuk mendukung target pemerintah dalam meningkatkan produksi migas nasional secara berkelanjutan sehingga target besar 2023 bisa tercapai.

Baca juga: Wilayah Kerja Eksplorasi Migas di Aceh Kian Dilirik

Tak bisa dimungkiri, sejumlah tantangan tidak berhenti mengadang industri hulu migas di Tanah Air. Kondisi lapangan yang sudah memasuki fase penurunan produksi alamiah yang serius turut andil menyebabkan target lifting terus turun dari tahun ke tahun.

Ditambah lagi, dengan minimnya lapangan migas yang bisa dimonetisasi membuat sejumlah lapangan gas dengan skala cukup besar diketahui tidak dapat dikembangkan. Hal itu pula yang dalam berbagai kesempatan selalu disuarakan oleh Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas).

Tanpa kegiatan pengeboran yang masif dan agresif, mustahil target besar lifting pada 2030 akan tercapai, apalagi hingga kini belum ada penemuan lapangan migas kelas kakap untuk menambah cadangan migas nasional.


Namun, dengan kian benderangnya pancaran dari Blok Mahakam di Kalimantan Timur dengan berbagai keberhasilan yang ada, setidaknya memberikan optimisme baru untuk WK-WK migas lainnya yang sudah memasuki fase penurunan produksi secara alamiah.

Terlebih, pemerintah juga berkomitmen melakukan berbagai perbaikan syarat dan ketentuan terkait dengan pengelolaan WK migas, termasuk dengan menyiapkan sejumlah pemanis yang diharapkan dapat menarik investor untuk masuk ke sektor hulu migas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.