Paradoks Kampanye Perubahan Iklim yang Rugikan Negara Miskin

Negara kaya semakin kaya dari emisi yang diproduksinya. Sementara itu, korporasi melakukan kampanye perubahan iklim yang menyesatkan dan menikmati setiap dolar dari konsumen yang sedang berupaya membuat bumi lebih hijau.

Nindya Aldila
Aug 3, 2022 - 11:15 AM
A-
A+
Paradoks Kampanye Perubahan Iklim yang Rugikan Negara Miskin

Ilustrasi emisi yang dihasilkan oleh industri (Dok. Canva)

Bisnis, JAKARTA – Negara kaya telah merugikan negara miskin hingga triliunan dolar AS akibat produksi emisinya, sebuah kontradiksi dari kampanye perubahan iklim yang mereka gaungkan.

Pada saat yang sama, banyak perusahaan mulai dari merek fast fashion hingga minyak dan gas (migas) melabeli produk dan proses bisnisnya sebagai sustainable atau berkelanjutan. Mereka menikmati setiap dolar yang didapat dari kantong konsumen melalui kampanye perubahan iklim yang menyesatkan.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan dari Dartmouth College, salah satu anggota kumpulan universitas elit Ivy League, mengungkap bahwa ada hubungan secara langsung pemanasan global suatu negara terhadap kerugian dan kerusakan ekonomi negara lainnya.  

Studi ini menemukan bahwa dua ekonomi terbesar di dunia, yakni Amerika Serikat dan China bertanggung jawab terhadap kerugian pendapatan global masing-masing lebih dari US$1,8 triliun sepanjang periode 25 tahun sejak 1990.

Editor: Nindya Aldila
company-logo

Lanjutkan Membaca

Paradoks Kampanye Perubahan Iklim yang Rugikan Negara Miskin

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ