Pariwisata Pulih, Waktunya Genjot Wisatawan

Pulihnya sektor pariwisata berkontribusi signifikan terhadap kinerja perekonomian sepanjang 2023. Pekerjaan rumah berikutnya, mempertahankan dan meningkatkan pariwisata agar dapat menjadi kontributor signifikan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Redaksi

7 Feb 2024 - 01.47
A-
A+
Pariwisata Pulih, Waktunya Genjot Wisatawan

Wisatawan menikmati pemandangan matahari terbit dari Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah./JIBI-Rachman

Bisnis, JAKARTA - Aktivitas pariwisata bergeliat sepanjang 2023, terbukti, lapangan usaha terkait sektor ini mencatatkan pertumbuhan paling signifikan. Oleh sebab itu, upaya penguatan destinasi wisata hingga ke desa wisata wajib terus dilanjutkan.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2023 lapangan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh paling tinggi sebesar 13,96% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Disusul lapangan usaha akomodasi & makan minum yang tumbuh 10,01% secara tahunan (YoY). Dua lapangan usaha ini berkaitan erat dengan aktivitas pariwisata.

Plt. Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa seluruh lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan yang positif pada 2023.

Dia mengatakan, sektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang 2023, diantaranya lapangan usaha transportasi & pergudangan, akomodasi & makan minum, serta jasa lainnya.

Ketiga lapangan usaha tersebut masing-masingnya mencatatkan pertumbuhans sebesar 13,96%, 10,01%, dan 10,52%, dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya.

“Ini didorong antara lain oleh faktor peningkatan mobilitas masyarakat, penyelenggaraan event internasional seperti Piala Dunia U-17, KTT Asean 2023, Formula E, MotoGP Mandalika, juga aktivitas persiapan Pemilu 2024,” katanya dalam konferensi pers, Senin (5/2/2024).

Sejumlah event internasional ini turut membantu pertumbuhan minat wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Adapun, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 mencapai 5,05% secara kumulatif. Realisasi tersebut lebih rendah dibanding capaian 2022 yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,31%.

Promosi Minim

Di sisi lain, Indonesia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satu kendalanya adalah terbatasnya dana untuk mempromosikan sektor ini.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Industri Pariwisata (Gipi) Hariyadi Sukamdani menilai, wacana pemerintah membentuk Indonesia Tourism Fund atau dana abadi pariwisata tidak cukup maksimal untuk mempromosikan sektor parekraf dalam negeri.

Menurut informasi yang diterima Hariyadi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kememparekraf), salah satu dana abadi pariwisata akan diambil dari dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Artinya, anggaran tersebut terbatas hanya untuk event bertema lingkungan. Sumber lainnya yakni dari dana BUMN.

“Kalau diambil [dari] BUMN kan pasti ini masih ngurusin urusan dia sendiri. Misalnya kayak Mandalika, tekornya banyak tuh, kan masih nutupin [kerugian],” kata Hariyadi di sela-sela agenda Rakernas Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Rabu (31/1/2024).

Baca Juga : Wow! MotoGP, Piala Dunia U-17 & KTT Asean Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI 2023 

Alih-alih mengambil anggaran dari BPDLH dan BUMN, Hariyadi mengusulkan untuk membentuk Badan Layanan Umum (BLU) Pariwisata agar dana yang diperoleh lebih maksimal dalam mempromosikan sektor parekraf.

Di sisi lain, dia pesimistis dana abadi pariwisata dapat dieksekusi dalam waktu dekat, mengingat masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan segera berakhir tahun ini. Pun dapat dieksekusi, dana tersebut kemungkinan hanya dimanfaatkan untuk menyelamatkan event yang sudah ada.

“Jadi enggak bisa maksimal,” ujarnya.

Tercatat anggaran Kemenparerkaf dialokasikan sebesar Rp3,38 miliar untuk 2023. Sementara untuk 2024, Kemenparekraf mendapat anggaran Rp3,4 miliar. Hariyadi menilai, dana tersebut sangat kecil untuk melakukan kegiatan promosi parekraf.

Idealnya, kata dia, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp6 triliun untuk mempromosikan sektor parekraf. Dana tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk kegiatan promosi, seperti subsidi tiket paket wisata.

Baca Juga : Memacu Penyelesaian Jalan Tol Trans-Sumatra Tahap 1 Jelang Jokowi Lengser 

“Jadi dananya [promosi] khusus gitu loh, kalau kita kan campur sama operasionalnya Kemenparekraf, jadi nggak bisa maksimal,” ujarnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno sebelumnya menargetkan dana abadi pariwisata sudah mulai beroperasi pada pertengahan 2024. Hadirnya dana abadi pariwisata ini, salah satunya untuk mendukung kegiatan-kegiatan di sektor parerkaf termasuk MotoGP.

Selain itu, pemerintah tak perlu kebingungan soal pendanaan yang akan mendukung mention branding, promosi pariwisata, dan juga penyelenggaraan kegiatan.

Terkait besaran dana, Sandi menuturkan bahwa pada tahap awal akan ada sekitar Rp1 triliun hingga Rp2 triliun. Jumlah tersebut diperkirakan terus ditambah sesuai dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB). Mengingat, kontribusi sektor pariwisata terhadap devisa diperkirakan sebesar Rp200 triliun pada 2024.

Genjot Desa Wisata

Lebih jauh, Sandiaga mengeklaim sebanyak 65 desa wisata telah mendapatkan manfaat program Kampanye Sadar Wisata (KSW) 5.0 sepanjang 2022-2023.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan KSW merupakan hasil kolaborasi dengan Bank Dunia. Adapun, sebanyak 65 desa wisata yang sebelumnya telah mendapat pelatihan dan pendampingan secara penuh.

"Kampanye sadar wisata 5.0 ini merupakan upaya kami untuk membawa sebuah perubahan positif demi mewujudkan desa wisata yang berkualitas," katanya.

Dia menambahkan seluruhnya telah mengikuti tahap sosialisasi, pelatihan, pembuatan proposal, serta pendampingan. Mulai dari pengembangan dan inovasi produk, peningkatan kapasitas bidang kewirausahaan, dan lainnya.

Baca Juga : Kemenparekraf Genjot Kualitas 65 Desa Wisata 

Sandiaga berharap bahwa kampanye Desa Wisata 5.0 ini akan membangun ketangguhan dan ketahanan dari unit terkecil dari desa wisata. Desa wisata dengan para penggerak di dalamnya bersama masyarakat telah terbukti menjadi lilin yang menerangi kebangkitan pariwisata dan ekonomi kreatif tanah air.

Selain 65 desa wisata penerima manfaat KSW lengkap sejak 2022, lanjutnya, pada 2023 program ini juga telah menyentuh 90 desa wisata lainnya dari 6 DPP yakni Borobudur Yogyakarta Prambanan, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, dan Wakatobi.

Sandiaga berharap, meski program ini telah memasuki tahap akhir, tetapi dampak positifnya dapat terus berlanjut melalui berbagai bentuk inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Terlebih Bank Dunia akan kembali memberikan dukungan tambahan pendanaan untuk kelanjutan program ini di tahun depan.

Dia telah memberikan arahan kepada Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf untuk melanjutkan kerja sama ini dan ditingkatkan lagi dengan semangat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui kepariwisataan.

"Mudah-mudahan ini akan membuka peluang usaha dan tentunya menciptakan lapangan kerja dan memperkuat perekonomian kita," ujarnya.

Pemandangan sunrise dari Desa Wisata Karangrejo, Borobudur. /jadesta.com

Sebagai bagian dari kolaborasi, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turut berkontribusi menciptakan nilai dan manfaat bagi masyarakat melalui program Desa Bakti BCA. Saat ini terdapat 26 desa yang mendapat binaan secara intensif dari BCA di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. 

Adapun, 12 desa diantaranya merupakan binaan hasil kolaborasi antara BCA dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Sejumlah Desa Bakti BCA telah menerima berbagai penghargaan berskala nasional maupun internasional. Terbaru, Desa Wisata Taro dan Desa Wisata Hijau Bilebante berhasil meraih penghargaan Best Tourism Village kategori Update Programme dari UNWTO (United Nations World Tourism Organization) di tahun 2023.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan sektor pariwisata merupakan pilar penting dalam pembangunan ekonomi yang dapat mendorong pembangunan daerah dan memperluas lapangan pekerjaan. 

"BCA meyakini bahwa optimalisasi infrastruktur dan SDM dapat menjadi kunci untuk mewujudkannya. Dalam komitmen pembinaan berkelanjutan, kami fokus pada kemitraan dengan komunitas, terutama dalam memanfaatkan potensi wisata berbasis komunitas di Desa Bakti BCA. Dengan langkah ini, BCA berharap dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat,” urainya.

Dia berharap desa-desa binaannya dapat bertransformasi menjadi destinasi bertaraf internasional yang tetap melestarikan keanekaragaman budaya, tradisi, dan kekayaan alam yang dimiliki di masing-masing desa.

Baca Juga : Pelaku Ekonomi Mesti Sabar Tunggu Suku Bunga Murah 

Guna memperkuat implementasi program, BCA menggelar rapat koordinasi bersama seluruh pengurus Desa Bakti BCA pada tanggal 5-6 Februari 2024. Acara ini merupakan kegiatan rutin tahunan BCA dan seluruh pengurus Desa Bakti BCA dalam rangka evaluasi hasil pembinaan tahun 2023 dan rencana pembinaan tahun 2024.

Pada tahun ini, BCA berharap masyarakat Desa Bakti BCA semakin mandiri melalui pengembangan keterampilan dan peningkatan ekonomi. Selain itu, BCA juga turut melakukan pengayaan akan praktik Tata Kelola Desa Wisata Berkelanjutan, antara lain tata kelola yang bertanggung jawab, ekonomi kreatif secara berkelanjutan, hingga sosial budaya dalam upaya pelestarian budaya nusantara.

Tidak hanya menggelar rapat koordinasi, BCA juga menyelenggarakan diskusi dan benchmarking. Dalam forum diskusi ini, pengurus desa berkesempatan untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan dengan berinteraksi langsung dengan para konsultan ahli yang turut mendampingi pengembangan kapasitas desa pemenang kompetisi Anugerah Desa Wisata Indonesia.

Para perwakilan pengurus Desa Bakti BCA juga berkesempatan mendapatkan contoh-contoh penerapan pratik pariwisata berkelanjutan sebagai modal penting menciptakan sumber daya manusia desa wisata yang unggul, serta melakukan benchmarking terhadap praktik terbaik dalam industri serupa. Kegiatan ini turut dihadiri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta beberapa tokoh terkemuka, dengan fokus pada pembahasan tata kelola praktik pariwisata berkelanjutan.(Maria Elena, Ni Luh Anggela, Rio Sandy Pratama)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.