Pasar Sukuk Bakal Makin Diminati Seiring Pulihnya Ekonomi

Korporasi juga diproyeksi bakal semakin sering emisi sukuk seiring naiknya minat investor terhadap instrumen dan industri keuangan syariah.

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Nov 16, 2021 - 6:38 PM
A-
A+
Pasar Sukuk Bakal Makin Diminati Seiring Pulihnya Ekonomi

Ilustrasi sukuk - Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Pasar sukuk global diproyeksi semakin meriah dalam lima tahun mendatang. Itu karena adanya kebutuhan pembiayaan pemerintah yang cukup besar untuk memulihkan ekonomi dan memperkecil defisit fiskal. 

Selain itu, sukuk global bisa menjadi alternatif bagi perusahaan yang ingin memperkuat posisi keuangannya di tengah pandemi Covid-19. Maka tak heran jika, penerbitan sukuk global pada lima tahun mendatang diproyeksi tumbuh hingga 10,8 persen menjadi US$ 1,17 triliun.

Sementara itu, penerbitan sukuk global diprediksi menyentuh US$180 miliar pada akhir tahun ini. Hingga akhir September 2021, lembaga penyedia data dan infrastruktur pasar keuangan, Refinitiv, melaporkan penebritan sukuk global telah mencapai US$ 147 miliar.

Berdasarkan laporan yang dikutip pada Selasa (16/11/2021), Refinitiv menyebut Indonesia menempati urutan ketiga dari lima negara dengan total penerbitan US$22 miliar.

Malaysia menjadi negara dengan emisi sukuk terbesar di dunia dengan total US$58 miliar hingga akhir kuartal III/2021. Disusul oleh Arab Saudi dengan jumlah emisi US$32 miliar.

Turki menjadi negara terbesar keempat dalam hal jumlah penerbitan sukuk dengan total US$11 miliar. Terakhir, Kuwait dengan nilai emisi US$9 miliar. Sementara itu, negara-negara lainnya secara keseluruhan menerbitkan sukuk sebesar US$15 miliar.

 

 

Potensi Besar Pasar Sukuk RI

Laporan tersebut menjelaskan adanya potensi besar dari pasar sukuk Indonesia. Hal itu terutama ditopang oleh volume penerbitan yang tinggi dari pemerintah. Wajar saja, pemerintah memang memanfaatkan sukuk global sebagai instrumen untuk membiayai program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Indonesia juga aktif dalam menerbitkan produk-produk sukuk yang inovatif, seperti green sukuk, sustainable sukuk, sukuk ritel, hingga green sukuk ritel,” demikian kutipan laporan tersebut.

Di sisi lain, maraknya pemerintah Indonesia menerbitkan sukuk juga sejalan dengan minat investor yang terus meningkat. Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, Ariawan, menyebutkan tren pasar sukuk semakin membaik dalam beberapa tahun terakhir dengan meningkatnya total outstanding sukuk negara maupun sukuk korporasi.

“Penerbitan sukuk korporasi pada tahun ini cukup baik yang dibarengi dengan kebutuhan investor terhadap instrumen yang aman dan memiliki return optimal,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (16/11/2021).

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan nilai akumulasi penerbitan sukuk korporasi hingga September 2021 sebesar Rp65,41 triliun. Sementara, nilai outstanding sukuk korporasi pada periode yang sama senilai Rp37,16 triliun.

Ia menjelaskan, faktor utama yang menopang tingginya permintaan investor terhadap sukuk adalah masih relatif terbatasnya instrumen investasi syariah. Keterbatasan ini membuat instrumen sukuk dapat menjadi pilihan yang menarik bagi investor.

Selain itu, kondisi pasar domestik sejauh ini juga terbilang kondusif setelah sempat tertekan selama beberapa waktu lalu. Likuiditas investor yang masih cukup tinggi juga turut mendorong tingginya minat dan serapan investor terhadap instrumen sukuk.

“Likuiditas yang besar ini terutama berasal dari sektor perbankan seiring dengan fungsi penyaluran kreditnya yang belum berjalan optimal,” imbuhnya.

 

 

Proyeksi Cerah

Lebih lanjut, Ariawan memprediksi minat investor terhadap sukuk Indonesia akan terus berkembang pada tahun depan. Hal ini salah satunya didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin positif.

Ia melanjutkan, outlook positif tersebut akan berdampak pada likuiditas investor yang masih akan tinggi. Dengan demikian, investor akan membutuhkan instrumen-instrumen seperti sukuk untuk menaruh dananya.

“Yang masih perlu diwaspadai mungkin berasal dari sisi eksternal, terutama ditengah masih tingginya volatilitas pasar global,” pungkasnya.

Sementara itu, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto, menjelaskan pasar sukuk di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik selama beberapa tahun terakhir. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, tingkat likuiditas pada instrumen ini juga turut meningkat.

“Likuiditas ini terutama ditopang investor dari dalam negeri, karena serapannya juga lebih banyak dari domestik,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (16/11/2021).

Menurut Ramdhan, perkembangan pasar sukuk Indonesia turut ditopang oleh industri-industri terkait. Ia menjelaskan, pertumbuhan instrumen terkait seperti reksa dana syariah, ataupun kemunculan bank-bank syariah turut meningkatkan emisi maupun minat investor terhadap sukuk.

Pertumbuhan minat terhadap sukuk tidak hanya terjadi pada investor besar dan pelaku pasar lainnya, tetapi juga investor ritel. Hal tersebut terlihat dari tingginya angka penjualan sukuk ritel yang ditawarkan pada tahun ini.

“Ini menandakan masyarakat juga semakin teredukasi tentang industri keuangan syariah dan instrumen-instrumen terkait,” lanjutnya.

Ramdhan melanjutkan, prospek pertumbuhan instrumen ini ke depannya sangat positif. Ia mengatakan, jumlah emisi sukuk dan minat investor akan menguat seiring dengan pertumbuhan literasi terhadap instrumen ini serta industri keuangan syariah.

Selain itu, kondisi makroekonomi Indonesia yang diprediksi stabil sepanjang tahun depan juga turut membantu menjaga perkembangan pasar sukuk. Hal ini seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah pandemi virus corona.

“Ke depannya, korporasi juga akan semakin banyak yang emisi sukuk. Sejauh ini, jumlah penerbitnya memang belum tumbuh signifikan dan kebanyakan berasal dari BUMN,” lanjutnya.

Sementara itu, ia mengatakan prospek kenaikan suku bunga global dapat menekan kondisi pasar surat utang Indonesia, baik obligasi konvensional maupun sukuk. Oleh karena itu, ia merekomendasikan para investor untuk mencermati kondisi pasar setiap saat serta mencari sukuk dengan tingkat likuiditas yang optimal. (Reno Mahardhika)

Editor: Febrina Ratna Iskana
Anda belum memiliki akses untuk melihat konten

Untuk melanjutkannya, silahkan Login Di Sini