Pelajaran dari Koin Squid Game yang Terempas di Pasar Crypto

Ada pelajaran berharga yang bisa diperoleh investor dari fenomena koin Squid Game di pasar crypto. Simak penjelasannya.

Duwi Setiya Ariyanti

3 Nov 2021 - 10.19
A-
A+
Pelajaran dari Koin Squid Game yang Terempas di Pasar Crypto

Ada pelajaran berharga yang bisa diperoleh investor dari fenomena koin Squid Game di pasar crypto. (JIBI)

Bisnis, JAKARTA— Bertolak dari serial di Netflix, Squid Game menginspirasi munculnya salah satu koin di pasar crypto. Tak hanya serialnya yang melejit, demikian dengan koinnya yang kemudian terempas di jajaran aset cryptocurrency.

Berdasarkan data Coinmarketcap, Rabu (3/11/2021), transaksi kripto Squid Game muncul pada 26 Oktober dengan harga US$0,01306. Harganya terus menanjak dan mencapai puncaknya pada 1 November menjadi US$2.861,8. Sayangnya, harga tersebut tak bertahan lama.

Dalam hitungan menit, harganya anjlok ke US$0,00243. Akibatnya, koin berkode SQUID ini menduduki urutan 3.034 berdasarkan kapitalisasi pasarnya.

Bernard, salah satu investor telah merelakan tabungannya berubah menjadi kripto Squid Game. Saat dia menemukan informasi tentang koin itu, pria asal China itu langsung menilai bahwa koin yang dilatari kisah populer bisa memberikan keberuntungan baginya.

Bendera merah dari sejumlah pelaku pasar pun tak menghentikannya untuk menanamkan modal US$28.000.

“Ini sebuah tragedi. Saya tak tahu bagaimana mengembalikan kerugian saya,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC.

Data dari BscScan mencatat bahwa koin tersebut mengumpulkan US$3,4 juta dana investor. Di pasar crypto, hilangnya koin tertentu di pasar disebut dengan tarikan karpet atau rug pull. Pengagas koin hilang dari pasar dan membawa seluruh dana investor yang terkumpul.

“Squid Game Dev tak mau melanjutkan proyek karena kami depresi dari pelaku scam dan kewalahan dengan stres,” tutur pengembang SQUID melalui Telegram.

Pergerakan harga Kripto Squid Game. (Coinmarketcap)

Dokumen terkait koin tersebut berikut dengan situs resminya pun menghilang. Bernard yang harus memikirkan cara membayar tagihan telah melaporkan kejadian itu kepada agen intelijen FBI dan otoritas pasar modal.

Dia yang telah berpengalaman bertransaksi cryptocurrency mengakui bahwa pemberitaan di media juga turut andil menyebabkan kenahasan. Namun, dia mengakui di pasar ada sentimen rasa takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) yang mendorongnya mengambil risiko tinggi.

“Di ruang transaksi, setiap orang terburu-buru,” katanya.

Investor lain yakni Saurabh Dubey mengaku telah bertransaksi cryptocurrency sejak 2016. Saat SQUID muncul di laman Coinmarketcap dan Coin Gecko, dia menempatkan US$100 dan menambah US$250.

Dia menyadari bahwa koin pada umumnya kerap terkena koreksi tetapi tidak untuk SQUID yang terus menanjak dalam lima hari beruntun. Itulah yang menurutnya sinyal kuat bahwa hal buruk akan terjadi.

Dia pun menyebut identitas penggagas koin biasanya ditemukan dengan mudah di internet berikut dengan laman resmi yang tertata rapi. Berbeda dengan aset kripto Squid Game yang identitas penggagasnya tak tercatat di LinkedIn dan situs resminya dipenuhi kesalahan tata bahasa.

Dubey menyebut keputusan investasinya dibuat hanya berdasarkan perasaan tanpa perhitungan yang lebih logis.

“Itu tidak ilmiah,” katanya.

Sementara itu, risiko tinggi di balik Squid Game telah tersirat di dokumen resmi koin yang kini tak ditemukan di dunia maya.

“Pengalaman Anda hanya akan tergambar pada kesenangan memenangkan hadiah dan kesedihan kehilangan uang ketika gim gagal,” dikutip dari Washington Post.

Coinmarketcap, sebagai situs penyedia data pasar crypto memberikan peringatan kepada pelaku pasar agar mengambil langkah hati-hati karena dana yang masih berada di koin SQUID tak bisa dicairkan.

Pendiri Traderindo.com, platform transaksi valas dan crypto, Wahyu Laksono menyebut aset cryptocurrency secara umum memang tak disarankan untuk investor baru. Terlebih, investasi pada koin-koin yang baru muncul di pasar atau koin yang mendapatkan dukungan dari sejumlah pesohor.

Dia menyebut ketidakpastian investasi di aset crypto memang tinggi termasuk pada aset dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin.

“Bitcoin yang sudah sangat panjang perjalanannya aja banyak ditekan isu legitimasi dan eksistensinya masih diragukan dan dibilang akan musnah. Bagaimana [dengan aset] yang baru?” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (3/11/2021).

Oleh karena itu, dia menyarankan agar investor tetap berhati-hati dan tak perlu terbawa tren ketika memilih aset investasi. Setidaknya, dia menyebut investor memahami risiko yakni uang yang diinvestasikan tak kembali.

“Buat pemula memang harus sabar menunggu atau kalaupun FOMO, harus siap [dengan] risikonya,” katanya.

Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.