Peluang IPO King Tire (TYRE) Susul Emiten Emiten Lo Kheng Hong

Calon emiten produsen ban PT King Tire Indonesia Tbk. (TYRE) berencana untuk mengumpulkan dana segar di lantai Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham atau IPO, menyusul emuten produsen bank PT Gajah Tunggal (GJTL) andalan Lo Kheng Hong.

Asteria Desi Kartikasari

8 Apr 2023 - 19.37
A-
A+
Peluang IPO King Tire (TYRE) Susul Emiten Emiten Lo Kheng Hong

PT King Tire Indonesia Tbk. (TYRE) atau Kingland akan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan harga awal Rp108-Rp138 per saham.

Bisnis, JAKARTA—Calon emiten produsen ban PT King Tire Indonesia Tbk. (TYRE) berencana untuk mengumpulkan dana segar di lantai Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham atau IPO, menyusul emuten produsen bank PT Gajah Tunggal (GJTL) andalan Lo Kheng Hong.

Jika melihat kinerja TYRE dan GJTL per 30 September 2022, keduanya membukukan kinerja yang berbanding terbalik. GJTL tercatat membukukan rugi sementara TYRE membukukan laba.  Emiten Lo Kheng Hong itu mengalami kerugian cukup dalam pada kuartal ke III/2022.

Jika lebih diperinci,  GJTL mengalami kerugian Rp169,33 miliar, padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, GJTL menorehkan laba bersih Rp19,34 miliar. Kerugian GJTL musababnya pertumbuhan penjualan tidak mampu mengimbangi beban pokok penjualan. GJTL mencatatkan kenaikan penjualan bersih sebesar 13,87 persen dari yang semula Rp11,19 triliun menjadi Rp12,75 triliun. 

Baca Juga: Kelanjutan IPO Pertamina Hulu Energi Usai Ditentang DPR
 
Sedangkan, beban pokok penjualan perseroan melonjak 15,6 persen dari Rp9,54 triliun menjadi Rp11,03 triliun pada periode itu. Kemudian GJTL per September membukukan kenaikan aset, dari Rp18,44 triliun menjadi Rp19,58 triliun. Ha itu diikuti oleh jumlah liabilitas yang mencapai Rp12,69 triliun. Sementara itu ekuitas GJTL menurun 1,07 persen dari Rp6,96 triliun menjadi Rp6,89 triliun.
 
Berkaca dari data keuangan dan harga saham pada 30 September 2022, maka PE Ratio GJTL sebesar -17,59 kali. Sementara itu Price to Book Value (PBV) GJTL tercatat sebesar 0,32 kali.  Kemudian berdasarkan prospektus calon emiten TYRE, penjualan per September 2022 penjualan bersih tercatat sebesar Rp360,66 miliar naik 33,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp270,69 miliar.  

Sementara itu, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp305,71 miliar naik 33,39 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp229,17 miliar.  Kemudian calon emiten TYRE membukukan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp10,94 miliar naik 123,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp4,89 miliar. 

TYRE menawarkan harga saham sebesar Rp108 hingga Rp138 per saham. Maka PER TYRE yaitu 20,03x sampai 25,60x sementara itu Price to Book Value TYRE sebesar 0,44x hingga 0,57 kali.

Baca Juga: Mengintip Prospek Bisnis Emiten Travel Haji (HAJJ) Usai IPO

Bersamaan dengan IPO, King Tire Indonesia menerbitkan waran seri I sebanyak-banyaknya 350 juta waran atau 12,6 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan waran Rp150 per saham. dana yang diperoleh Perseroan dari pelaksanaan Waran Seri I, seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja antara lain untuk pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

Adapun sebelumnya, dalam deretan IPO, BEI telah mencatat 44 perusahaan yang masuk dalam daftar antrean IPO.  Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan hal itu berasal dari berbagai sektor dan didominasi oleh perusahaan skala menengah dan besar. Rinciannya, sebanyak 4 perusahaan merupakan perusahaan aset skala kecil atau di bawah Rp50 miliar. Lalu 26 perusahaan merupakan perusahaan aset skala menengah atau aset antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar. Adapun sebanyak 14 perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp250 miliar.  “Dari 44 di pipeline, 90 persen itu kelasnya menengah dan ke atas,” kata Nyoman.

Adapun daftar perusahaan tersebut diisi oleh beberapa sektor. Perusahaan dari sektor consumer cyclical mendominasi pipeline dengan jumlah sebanyak 11 perusahaan. Sektor kedua terbanyak adalah perusahaan teknologi dan basic materials masing-masing sebanyak enam perusahaan.  Lalu diikuti oleh 4 perusahaan consumer non-cyclicals, 2 perusahaan energi, tiga perusahaan finansial, dan tiga perusahaan industrials. Kemudian satu perusahaan infrastruktur, 4 perusahaan properti dan real estate, serta 4 perusahaan transportasi dan logistik. (Pandu Gumilar, Annisa K. Saumi)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.