Peluang Untung Saham AKRA Usai Terdepak dari LQ45

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah komposisi saham dalam indeks LQ45 untuk periode Februari-Juli 2022. Dalam perubahan tersebut, beberapa saham terdepak dari indeks ini, salah satunya PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA).

Annisa Kurniasari Saumi
Jan 28, 2022 - 7:49 AM
A-
A+
Peluang Untung Saham AKRA Usai Terdepak dari LQ45

SPBU yang dikelola PT AKR Corporindo Tbk. AKR memiliki jaringan 142 stasiun pelayanan di tahun 2018 yang menyalurkan produk BBM minyak solar dengan merek dagang AKRA SOL dan bensin Ron 92 dengan merek dagang AKRA 92./akr.co.id

Bisnis, JAKARTA — Kendati terdepak dari daftar anggota indeks LQ45, saham PT AKR Corporindo Tbk. belum sepenuhnya kehilangan pesona. Prospek kinerja bisnisnya pun masih menjanjikan, walaupun kondisi pandemi memang cukup menantang bagi bisnis perseroan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah komposisi saham dalam indeks LQ45 untuk periode Februari-Juli 2022. Dalam perubahan tersebut, beberapa saham terdepak dari indeks ini, salah satunya adalah emiten berkode saham AKRA ini.

AKR Corporindo sendiri telah melakukan upaya stock split untuk meningkatkan likuiditas sahamnya. Perseroan melakukan stock split 1:5 dalam aksi korporasi ini. Namun, rupanya langkah ini belum cukup untuk mencegah BEI mendepak perseroan dari indeks saham paling likuid tersebut.

“Kami percaya stock split akan membuat saham AKRA menarik bagi investor ritel khususnya kalangan milenial yang kini aktif berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang memberikan pertumbuhan berkelanjutan dan memiliki praktik yang baik," kata Presiden Direktur AKRA, Haryanto Adikoesoemo belum lama ini.

Meskipun demikian, saham AKRA masih tetap menarik. Perseroan pun masih optimistis untuk dapat membukukan kinerja lebih tinggi tahun ini.

Direktur dan Corporate Secretary AKR Corporindo Suresh Vembu mengatakan perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan 20-25 persen pada 2022.

"Anggaran yang diselesaikan oleh AKRA untuk tahun 2022 menargetkan pertumbuhan kuat yang berkelanjutan bagi perusahaan selama tahun 2022, dengan harapan kebangkitan pertumbuhan ekonomi di Indonesia," ujar Suresh.

Target pertumbuhan ini didasarkan atas permintaan bahan baku dan energi esensial, serta peningkatan iklim investasi. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan laba kotor 12-15 persen di 2022, dengan pertumbuhan earning per share (EPS) 15-18 persen tahun ini.

"Perusahaan diharapkan dapat mempertahankan arus kas yang kuat dan posisi keuangan yang kuat selama tahun 2022," ucapnya.

Suresh pun optimistis perseroan memiliki kinerja yang kuat selama tahun 2021, dengan akhir yang kuat pada kuartal IV/2021.

"Terlepas dari berbagai tantangan logistik dan pasokan yang dihadapi di seluruh dunia, AKRA mencatat pertumbuhan yang kuat di kuartal IV/2021," tuturnya.

Menurutnya, target dan panduan yang diberikan sebelumnya untuk bisnis distribusi BBM dan kimia dasar telah terpenuhi atau terlampaui di 2021. Pada 2022, pihaknya akan menambah jumlah pompa bensin BP-AKR sebanyak 25 hingga 30 outlet.


"Sebelum akhir 2022, pasti BP-AKR akan memiliki lebih dari 25 pompa bensin. Jadi, kita tambah sekitar 25 pompa bensin di 2022," kata dia.

Selain itu, anak perusahaan JIIPE juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba di tahun 2021 dengan beberapa perkembangan yang signifikan. 

Perkembangan tersebut seperti dikonfirmasinya pendapatan berulang dari sewa tanah untuk proyek smelter tembaga, penjualan bidang tanah, dan diperolehnya status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

REKOMENDASI SAHAM

Head of Research Investment Infovesta Wawan Hendrayana menjelaskan, saham-saham yang terdepak dari LQ45 biasanya dikarenakan perdagangan yang kurang likuid dibandingkan dengan saham lainnya.

“Sebenarnya bukan masalah fundamental perusahaannya. Jadi, perusahaan bisa keluar dari LQ45 karena peringkatnya turun,” ujar Wawan.

Meski demikian, Wawan melihat saham AKRA bisa kembali masuk ke Indeks LQ45 pada Agustus mendatang, apabila saham perseroan menjadi lebih likuid setelah stock split.

Sebagaimana diketahui, beberapa kriteria saham untuk masuk ke dalam Indeks LQ45 adalah tercatat di BEI minimal 3 bulan, memiliki kondisi keuangan, prospek pertumbuhan, serta nilai transaksi yang tinggi.

Lalu, masuk dalam 60 saham berdasarkan nilai transaksi pada pasar regular dalam 12 bulan terakhir. Terakhir, termasuk dalam 60 saham dengan kapitalisasi tertinggi dalam 1–2 bulan terakhir

Analis Kiwoom Sekuritas Rizky Khaerunnisa mengatakan, prospek saham AKRA secara umum masih bagus secara kinerja dan fundamental meski terdepak dari Indeks LQ45.

“Namun, dari sisi teknikal atau jangka pendek, harga saham akan sedikit terkoreksi karena imbas dari terdepak dalam indeks LQ45,” ujar Rizky kepada Bisnis, Kamis (27/1).

Menurutnya, katalis dari saham AKRA akan datang dari stock split dan fokus perusahaan yang akan mengejar pendapatan berulang atau recurring income di masa mendatang. Selain itu, menurutnya pelanggan AKRA mencakup hampir semua industri yang memiliki permintaan domestik cukup kuat.

“AKRA juga diuntungkan dengan adanya KEK JIIPE yang mana hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dari segmen kawasan industri terintegrasi,” tutur dia.

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan investor untuk wait and see terhadap saham AKRA, atau menunggu momentum sinyal secara teknikal.

“Jika dinilai sudah menyentuh support kuatnya, boleh akumulasi buy bertahap,” ucapnya.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki Yamani melihat, saham AKRA dalam jangka pendek masih akan menguji support area di Rp660-Rp680. Meski demikian, BCA Sekuritas melihat saham ini masih memiliki potensi yang menarik untuk buy on weakness (BOW) saham AKRA di area support-nya

Sementara itu, Head of Research Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan, pihaknya tetap merekomendasikan untuk buy saham AKRA dengan target harga di Rp1.070.

"Target harga ini tidak berubah dari sebelumnya, mengingat kinerja perseroan di 2021 yang baik," kata Robertus dalam risetnya.

Dia melanjutkan, prospek AKRA ke depan juga cukup menjanjikan dengan kemungkinan volume distribusi minyak dan bahan kimia yang tinggi di segmen industrial dan ritel.

Sebagaimana diketahui, AKRA menargetkan untuk membangun hingga 25 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) baru BP-AKR, mengingat penetrasi jumlah SPBU di Indonesia masih rendah.

Robertus melanjutkan, untuk meminimalkan biaya pembebasan lahan dan proses pembukaan SPBU, AKRA terbuka untuk bekerja sama dengan pemilik tanah yang ada di lokasi strategis. 

Henan Putihrai Sekuritas melihat rencana tersebut dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk memaksimalkan keuntungan perseroan di masa depan.

"Kami juga merekomendasikan perusahaan karena kepemilikannya dan eksposur dalam beberapa aset strategis, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, JIIPE," ucapnya.

Kawasan industri JIIPE ini diharapkan dapat berkontribusi 30-35 persen ke laba bruto konsolidasi perseroan di masa depan, dari 19 persen di tahun 2021.

Selain dari penjualan tanah dan penyewaan, jasa utilitas seperti listrik, air, pengolahan limbah, juga diharapkan dapat berkontribusi signifikan ke pendapatan berulang perseroan.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar