Pembangkit Listrik Tenaga Surya Memancar ke Mana-Mana

Sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2015—2050, pemanfaatan PLTS ditargetkan mencapai kapasitas 6,5 GW pada 2025 dan 45 GW pada 2050. Jumlah tersebut kurang lebih 22 persen dari total potensi energi surya di Indonesia.

Rayful Mudassir
Oct 27, 2021 - 12:40 PM
A-
A+
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Memancar ke Mana-Mana

Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (2/2/2021)./ANTARA FOTO-Ahmad Subaidi

Bisnis, JAKARTA — Pengembangan energi baru terbarukan yang memanfaatkan tenaga surya tergolong paling cepat dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Pembangkit listrik tenaga listrik tenaga surya tersebut adalah PLTS atap maupun nonatap.

Teknologinya yang relatif mudah diimplementasikan di segala area, biaya instalasi terus menurun, dan kian ekonomis menjadi faktor utama mengapa PLTSterutama PLTS atapcepat berkembang. 

Kementerian Perhubungan, misalnya, sedang mengkaji pemanfaatan dan pemilihan tenaga surya untuk menunjang operasi bandara berkolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB (LPIK ITB).

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara Novyanto Widadi mengatakan bahwa bandara menjadi salah satu objek dengan konsumsi energi yang cukup besar sehingga apabila dilakukan efisiensi energi sedikit saja, hasil yang didapatkan akan cukup signifikan.

"Saat ini pembangkitan dan penggunaan energi di Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil, yang menghasilkan produk sampingan berupa gas rumah kaca seperti karbon dioksida," katanya, Rabu (27/10/2021).

Sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2015—2050, pemanfaatan PLTS ditargetkan mencapai kapasitas 6,5 GW pada 2025 dan 45 GW pada 2050. Jumlah tersebut kurang lebih 22 persen dari total potensi energi surya di Indonesia.

Dalam dokumen tersebut juga tertulis salah satu kegiatan pemanfaatan sumber energi terbarukan dari jenis energi sinar matahari adalah pembangunan PLTS bagi fasilitas transportasi.

Ketua Tim Peneliti ITB Pekik Argo Dahono menuturkan bahwa saat ini, dunia sedang gencar berupaya mengurangi gas rumah kaca, salah satunya dengan menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Kebijakan ini gencar dilakukan setelah adanya Paris Agreement pada 2015 yang salah satu sasarannya adalah bandara.

"Bandara memiliki potensi luasan lahan maupun atap bangunan yang sangat memungkinkan untuk dipasang sistem PLTS. Oleh karena itu, potensi ini harus dimanfaatkan secara maksimal agar bisa menjadi sumber penyuplai energi listrik yang lebih ramah lingkungan bagi bandara," katanya.

Dia memerinci untuk mendukung penelitian ini, dilakukan survei ke tiga bandara sampel yakni, Bandara Internasional Komodo-Labuan Bajo, Bandara APT Pranoto-Samarinda, dan Bandara Maratua-Berau, Kalimantan Timur.

Kepala Seksi Tata Lingkungan dan Kawasan Bandar Udara Direktorat Bandar Udara Nasrulloh menambahkan bahwa penggunaan PLTS sejalan dengan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara 2020—2024 tentang upaya penurunan emisi gas buang.

“Saat ini belum banyak bandara yang mengaplikasikan penggunaan solar cell dan hybrid energi sebagai sumber energi untuk operasional bandar udara. Selain itu yang menjadi tantangan adalah pemasangan PLTS apakah dapat mengganggu alat navigasi di bandara dan dapat mengundang hewan liar untuk berteduh dan bersarang di bawahnya.”

PLTS ATAP

Sementara itu, Lindeteves Trade Center (LTC) Glodok, Jakarta, menjadi pusat perdagangan kebutuhan alat teknik, keselamatan, elektrik, dan elektronik pertama yang mulai menggunakan PLTS atap.

Sebanyak 880 panel fotovoltaik terpasang di atap gedung LTC Glodok untuk memenuhi kebutuhan listrik di pusat perbelanjaan itu. Meski tak disebutkan jumlah kapasitas terpasangnya, tetapi PLTS atap itu dinilai mampu menghemat hingga 508.511 kilowatt hour (kWh) listrik setiap tahunnya.

Chief Engineering LTC Glodok Rubianto mengatakan bahwa pusat belanja yang memiliki konsep one stop trading itu terus melakukan pengembangan infrastruktur yang berkesinambungan untuk para pengunjung dan tenant.

“Dengan mengedepankan konsep eco-friendly, melalui instalasi solar panel yang terpasang di atap gedung, kami meyakini betapa pentingnya penerapan praktik environmental, social, and governance (ESG) dalam kegiatan operasional,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (27/10/2021).

Pemasangan panel surya untuk PLTS atap itu sendiri dilakukan oleh Xurya Daya Indonesia. Pemanfaatan energi surya yang dilakukan oleh LTC Glodok pun telah berlangsung sejak September 2021 untuk menekan emisi karbon.

Adapun, PT Xurya Daya Indonesia merencanakan pemasangan 50 titik PLTS atap hingga pertengahan 2022. 

VP Marketing PT Xurya Daya Indonesia George Hadi Santoso mengatakan bahwa hingga kini perusahaan telah memasang dan mengoperasikan 48 site PLTS atap. 

“Rencana memasang lagi sekitar 50 PLTS atap sampai dengan pertengahan tahun depan,” katanya kepada Bisnis, Rabu (27/10/2021). 

Perusahaan menyebutkan bahwa harga modul surya di tingkat dunia sedang mengalami kenaikan hingga 30 persen. Kondisi ini dinilai terjadi akibat kenaikan harga sumber energi seperti batu bara akibat krisis energi. 

Managing Director PT Xurya Daya Indonesia Eka Himawan mengatakan bahwa gejolak harga ini telah terjadi sejak 2 bulan terakhir. Kondisi ini disebabkan kenaikan harga komoditas dunia. 

“Ada gejolak di market. Harga modul surya di seluruh dunia sedang mengalami kenaikan dari tadinya 25 sen per kWp [kilowatt peak] menjadi 35 sen per kWp,” katanya kepada Bisnis pekan lalu. 

Eka menyebut kondisi ini akan menyebabkan sejumlah proyek tertunda. Meski begitu diperkirakan kenaikan harga modul surya tidak permanen. Seiring krisis energi pulih, harga komponen ini juga berangsur turun. 

Menurutnya, proyek konstruksi modul surya yang tengah dilakukan Xurya Daya belum berpengaruh terhadap harga. Pasalnya pengadaan komponen sudah dilakukan sebelum harga melambung di pasaran. 

“Sekarang masih on track. Konstruksi memakan waktu 3–6 bulan. Jadi kebanyakan konstruksi sudah mulai 3 bulan lalu. Kebetulan harga masih normal,” terangnya.

Editor: Zufrizal

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar