Pembelajaran Tatap Muka, Kelola Emosi Negatif Pemicu Kecemasan

Setelah lama belajar dari rumah akibat pandemi Covid-19, proses belajar mengajar tatap muka dimulai. Ada hal yang lebih penting daripada proses belajar itu sendiri, yakni bagaimana mengelola emosi pemicu kecemasan.

Redaksi

26 Nov 2021 - 22.06
A-
A+
Pembelajaran Tatap Muka, Kelola Emosi Negatif Pemicu Kecemasan

Ilustrasi seorang ibu mendampingi putrinya belajar secara daring./Antara

Bisnis, JAKARTA – Seiring dengan melandainya kasus positif Covid-19, pemerintah mulai mengizinkan sejumlah sekolah menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) dengan syarat penerapan protokol kesehatan setelah siswa menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Berdasar fakta di lapangan, demikian dilansir Antara, PJJ ternyata menimbulkan berbagai masalah mulai dari kejenuhan hingga tekanan yang memicu stres.

Kondisi kecemasan akademik itu, jika berlangsung terus menerus, bisa berdampak buruk pada psikologi murid, bahkan mengakibatkan learning loss saat PTM dimulai.

Survei yang dilakukan Gerakan Sekolah Menyenangkan menemukan 70% murid yang menjalani PJJ mengalami emosi negatif.

Banyaknya tugas yang diberikan tidak sebanding dengan waktu pengerjaannya adalah salah satu pemicu kecemasan pada murid. Hal tersebut dapat memberikan dampak negatif ketika mereka memulai transisi kembali ke sistem PTM. Emosi negatif ini juga memengaruhi keseimbangan mental pelajar.

Bukan hanya murid, emosi negatif akibat PJJ juga dapat dialami para guru. Selama PJJ, guru diharuskan memanfaatkan perangkat elektronik sebagai media pembelajaran. Dalam praktiknya tidak jarang mereka pun kesulitan mengoperasikan perangkat itu.

Belum lagi jaringan internet yang tidak stabil kerap kali menjadi kendala dalam penyampaian materi. Hal ini tentu saja mengakibatkan penurunan motivasi mengajar sekaligus masalah kecemasan pada guru.

KELOLA KONDISI EMOSIONAL

Kepala Bagian Psikologi Klinis Universitas Katolik Atma Jaya, Nanda Rossalia, menuturkan bahwa di awal PTM guru dan sekolah cenderung fokus mengejar materi yang tertinggal selama PJJ. Padahal yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengelola kondisi emosional dan psikologikal murid.

"Kecemasan akademik siswa perlu diatasi dengan peran sinergis dari banyak pihak, tidak hanya dari murid itu sendiri. Guru tentunya memiliki porsi yang signifikan dalam membantu murid mengatasi kecemasannya," kata Nanda dalam webinar Basic Counselling Skill yang diselenggarakan oleh Cetta Satkaara dan Rumah Guru BK (RGBK) pada Sabtu (20/11).

Para guru harus sigap melihat gejala gejala emosi negatif dengan melakukan konseling secara efektif, kata Nanda. "Jadi, lihat dan tes dahulu bagaimana kondisi murid-muridnya," kata Nanda.

Senada dengan Nanda, Founder Rumah Guru BK (RGBK) dan Widyaiswara PPPPTK Penjas dan BK di Kemendikbud Ristek, Ana Susanti, mengatakan bahwa mengatasi kecemasan anak didik penting untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar.

"Jika peserta didik merasa senang menerima pembalajaran kita, 85 persen dari ingatannya bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan peserta didik yang tidak menerima kenyamanan dar gurunya," kata Ana yang menambahkan bahwa kenyamanan bisa diberikan para guru melalui sebuah ketrampilan counselling skill.

Basic counselling skill, kata Ana, perlu diberikan kepada seluruh tenaga pendidik, bukan hanya kepada guru bimbingan dan konseling (BK) karena pada kenyataannya menurut data Kemendikbud Ristek, 36% atau sekitar 12.000 guru dari 33.000 guru BK bukan berlatar belakang pendidikan non-BK meski memang 6% atau 2000 orang sudah diberi diklat jenjang dasar Penjas dan BK Kemendikbud Ristek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Syahran Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.