Pemerintah & AstraZeneca Perangi Kematian Akibat Kanker Paru RI

Di Indonesia, berdasarkan data Globocan 2020, jumlah kasus baru kanker paru menempati urutan ke-3 sebesar 8,8%, setelah kanker payudara 16,6%, dan kanker serviks 9,2%. Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak yang terjadi pada laki-laki 14,1%.

Yanita Petriella

1 Nov 2023 - 22.57
A-
A+
Pemerintah & AstraZeneca Perangi Kematian Akibat Kanker Paru RI

Ilustrasi/p2ptm.kemkes.go.id

Bisnis, JAKARTA – Pemerintah Indonesia bersama dengan AstraZeneca berkomitmen untuk mengurangi dan mencegah kanker paru yang dihadapi masyarakat Indonesia. 

Untuk diketahui, World Health Organization (WHO) menyebutkan kanker sebagai salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Berdasarkan data dari Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) 2020 yang diperoleh dari International Agency for Research on Cancer, didapatkan data bahwa kanker payudara menempati urutan pertama, diperkirakan 2,3 juta kasus baru sebesar 11,7%, diikuti kanker paru 11,4%, kolorektal 10%, prostat 7,3%, dan kanker lambung 5,6%.

Kanker paru tetap menjadi penyebab utama kematian karena kanker dengan perkiraan 1,8 juta kasus kematian sebesar 18%, diikuti kolorektal 9,4%, liver (8.3%), lambung 7,7%, dan kanker payudara 6,9%. 

Di Indonesia, berdasarkan data Globocan 2020, jumlah kasus baru kanker paru menempati urutan ke-3 sebesar 8,8%, setelah kanker payudara 16,6%, dan kanker serviks 9,2%. Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak yang terjadi pada laki-laki 14,1%.

Salah satu yang dilakukan oleh pemerintah dengan meningkatkan deteksi dini pada kanker paru. 

Pada awal tahun, AstraZeneca telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kementerian Kesehatan untuk mendukung pencapaian agenda transformasi kesehatan pemerintah dan sejak saat itu telah mendukung peluncuran dan sosialisasi program nasional skrining kanker paru serta mendidik para pemuda mengenai risiko merokok dan perokok pasif melalui AstraZeneca Young Health Programme.

AstraZeneca Young Health Programme adalah inisiatif global yang bertujuan untuk memberdayakan para pemuda agar dapat membuat pilihan informasional terkait kesehatan dan kesejahteraan mereka, dengan fokus khusus pada penyakit tidak menular. 

President Director AstraZeneca Indonesia Se Whan Chon mengataka AstraZeneca Young Health Programme (YHP) di Indonesia telah mencapai kemajuan yang luar biasa sejak 2018, mencapai hasil yang signifikan. Selama periode ini, program ini telah melatih 927 pendidik sebaya yang telah berperan penting dalam memberikan manfaat langsung bagi lebih dari 59.000 pemuda dan lebih dari 5.000 orang dewasa. 

“Dampak YHP telah berdampak pada masyarakat, memberikan manfaat tidak langsung bagi lebih dari 525.000 pemuda dan lebih dari 595.000 anggota masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/11/2023).

Menurutnya, hasil yang nyata di kalangan pemuda sangat menjanjikan di mana proporsi pemuda yang bukan perokok meningkat 5% dari yang tercatat selama baseline pada evaluasi final, dan ada peningkatan sekitar 16% pemuda melaporkan tidak mengonsumsi alkohol dibandingkan dengan yangtercatat selama baseline. 

“Hasil-hasil ini mencerminkan komitmen YHP dalam membentuk kehidupan individu muda secara positif dan memupuk perilaku yang lebih sehat, berkontribusi pada masa depan yang lebih cerah dan lebih peduli terhadap kesehatan,” kata Se. 

Baca Juga: Tanda-Tanda Kanker Paru-Paru, Jenis dan Stadiumnya



Mengenal Kanker Paru

Executive Director di Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO) Elisna Syahruddin berpendapat kanker paru adalah penyakit tidak menular tetapi sangat serius karena dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan kematian. Pembentukan jaringan atau tumor ganas di paru mengganggu fungsi paru dan dapat menyebar ke organ lain terutama otak dan tulang.

Dia menilai terdapat beberapa faktor risiko yang berhubungan langsung dengan kanker paru yang dapat diatasi untuk mencegahnya. Faktor risiko ini termasuk polusi udara yang disengaja, seperti asap rokok yang dihasilkan oleh perokok. 

“Polusi udara yang tidak disengaja, seperti perokok pasif atau paparan polusi tinggi di tempat kerja atau daerah tinggal, juga berperan,” ucapnya. 

Menurutnya, kanker paru memerlukan waktu lama untuk menunjukkan gejala, sehingga pasien sering datang ke spesialis paru pada stadium lanjut. Namun, dengan beberapa metode, kanker paru dapat dideteksi pada stadium awal yang memungkinkan tindakan yang dapat menghentikan perkembangan penyakit. Oleh karena itu, mendeteksi kanker paru-paru secara dini sangat penting karena gejala sering muncul ketika penyakit sudah dalam stadium lanjut.

“Gejala ini meliputi batuk yang persisten, nyeri dada, dan kesulitan bernapas yang tidak membaik dengan pengobatan. Meskipun kanker paru adalah kondisi serius, kemajuan dalam perawatan medis memberikan harapan, dan berhenti merokok serta meminimalkan paparan risiko sangat penting untuk pencegahan,”tutur Elisna.

Baca Juga: Kalbe Farma Produksi Obat Imun Kanker, Harga Dijamin Miring



Perluas JKN untuk Kanker Paru

Ketua Tim Kerja Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Theresia Sandra D. Ratih berharap Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diharapkan tidak hanya dalam pengobatan kanker paru-paru saja, namun juga pembiayaan skrining untuk deteksi dini juga ditanggung oleh pemerintah. Hal ini sesuai dengan mekanisme pembiayaan kapitasi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023, tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program JKN.

Adapun sasaran skrining ditujukan bagi usia 45 tahun hingga 71 tahun dengan kriteria perokok aktif atau pasif atau berhenti merokok kurang dari 15 tahun. Lalu memiliki riwayat kanker paru pada keluarga yakni, ayah, ibu, dan saudara kandung dengan atau tanpa disertakan dengan gejala respiratori ringan.

“Puskesmas melakukan deteksi dini lewat analisa mendalam untuk melihat kemungkinan risiko tinggi. Jadi ketika ke dokter pasien akan ditanya untuk skrining dan dilakukan diagnosis lebih mendalam untuk melihat apakah pasien masuk dalam risiko rendah, sedang atau tinggi,” tuturnya.

Jika peserta JKN memiliki hasil skrining kanker paru resiko tinggi dari Puskesmas, lanjut Sandra maka mereka akan dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) untuk konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis paru dan penyakit dalam dimana mereka dapat melakukan pemeriksaan rontgen toraks Low Dose CTScan (LDCT) sebagai skrining lanjutan atau deteksi dini kanker paru. 

Skrining lanjutan atau deteksi dini kanker paru ini ditanggung BPJS satu kali dalam setahun bagi peserta JKN yang memiliki hasil skrining questionair kanker paru risiko tinggi agar mendapatkan diagnosa dalam stadium awal untuk meningkatkan keberhasilan upaya pengobatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.