Pemicu Investor Asing Minat Akuisisi Bank Indonesia

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan antusiasme investor asing untuk mengakuisisi bank di Indonesia cukup tinggi.

Fahmi Ahmad Burhan

11 Sep 2023 - 15.55
A-
A+
Pemicu Investor Asing Minat Akuisisi Bank Indonesia

Ilustrasi bank digital. /freepik

Bisnis, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa antusiasme investor asing untuk mengakuisisi bank di Indonesia cukup tinggi mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar. Daya tarik investasi dari asing terhadap bank di Indonesia adalah digitalisasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan bahwa mengacu pada rilis Kementerian Koordinator Perekonomian, 40 persen nilai transaksi digital di Asean pada kuartal I/2023 berasal dari Indonesia.

Baca juga: Optimisme Bank Jumbo Jaga Rasio NPL Tetap Rendah

"Pada prinsipnya perbankan Indonesia juga terbuka bagi masuknya investor dalam rangka memperkuat permodalan untuk mendukung dan menjaga pertumbuhan bank yang berkelanjutan. Dalam hal ini termasuk investor kepada bank dengan fokus bisnis layanan perbankan digital," kata Dian dalam jawaban tertulisnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, beberapa bank di Indonesia beroperasi dengan fokus pada layanan perbankan digital yang didukung dengan ekosistem menopang bisnis. 




OJK juga sampai saat ini terus mencermati perkembangan bank-bank dengan fokus layanan perbankan digital dan mendorong kinerja bank dengan mengedepankan aspek tata kelola yang baik. 

Sebelumnya, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan daya tarik investasi kepada perbankan di Indonesia adalah margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang tinggi. Sementara, di antara jenis bank yang paling tinggi meraup NIM adalah bank digital.

Baca juga: Faktor di Balik Kinerja Lesu Bank Daerah 

NIM di bank digital itu tinggi karena mereka mendapatkan pendanaan di tingkat suku bunga simpanan yang tinggi, kemudian melempar suku bunga pinjaman kepada debitur yang juga di atas rata-rata industri. Alhasil, NIM pun lebih tinggi dibandingkan dengan bank-bank raksasa.

"Yang menyebabkan tingkat tingginya NIM adalah tingkat suku bunga, selain itu likuiditas yang dimiliki bank. Jadi, kalau melihat bank-bank digital itu jauh lebih tinggi wajar karena mereka mematok suku bunga tinggi," ujarnya kepada Bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.