Pemilu Hijau

Sistem ini pernah digunakan dalam pemilihan pemimpin tingkat desa di Kabupaten Jembrana, Bali. Kepala Dusun Desa Yehembang dan Pohsanten, Kecamatan Mendoyo; dan di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, dipilih melalui e-voting menggunakan KTP-el.

Sri Mas Sari

16 Jan 2023 - 10.00
A-
A+
Pemilu Hijau

Ada dua negara yang sukses menggelar pemilu digital di jagat ini. BisnisIndonesia-Freepic

Bisnis, JAKARTA - Tigabelas bulan lagi pemilu akan dilangsungkan serentak untuk memilih anggota DPR, DPRD, DPD, dan presiden. Makin dekat ke pemilu, ide tentang penggunaan voting elektronik (e-voting) meredup. Padahal, maslahatnya lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan kertas suara.

Sejauh ini, yang terdengar adalah penyederhanaan surat suara dari lima menjadi dua atau tiga. E-voting adalah pemungutan suara menggunakan aplikasi teknologi informasi. Pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS), dan menetapkan pilihan lewat gawai yang telah disediakan, lalu sistem langsung mengalkulasi.

Ada dua negara yang sukses menggelar pemilu digital di jagat ini. Estonia menggunakan voting internet sejak 2005. India juga menggunakan blockchain untuk mendukung voting jarak jauh (televoting). India menerapkan e-voting sejak Pemilu 2004 yang mesinnya dilengkapi dengan baterai, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada listrik.

E-voting sebetulnya bukan hal baru di Indonesia. Sistem ini pernah digunakan dalam pemilihan pemimpin tingkat desa di Kabupaten Jembrana, Bali. Kepala Dusun Desa Yehembang dan Pohsanten, Kecamatan Mendoyo; dan di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, dipilih melalui e-voting menggunakan KTP-el.

Dengan perekaman data penduduk elektronik yang kini sudah 99,2%, Indonesia pantas menuju arah sana. Pertimbangan pemilu elektronik adalah akurasi, kecepatan, dan penghematan. Dengan e-voting, Komisi Pemilihan Umum hanya perlu menyediakan mesin elektronik. 

Berkaca pada Pemilu 2019, total biaya cetak surat suara mencapai Rp559,6 miliar. Angka sebesar inilah yang bisa dihemat. Tanpa surat suara, berarti pengadaan kotak suara yang pada Pemilu 2019 mencapai Rp254,9 miliar juga bisa ditekan. Di sisi lain, mesin elektronik dapat dipergunakan berulang meskipun tidak tertutup kemungkinan KPU harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan.

Namun, e-voting dapat membawa pesta demokrasi lebih ramah lingkungan. Volume lima surat suara pada Pemilu 2019 mencapai 31.460 ton. Seberat itulah sampah kertas yang dihasilkan dan belum tentu didaur ulang. E-voting mengurangi sampah kertas ekspemilu, selain menyelamatkan ribuan pohon.

Teknologi harus disiapkan menuju pemilu digital. Namun yang tak kalah penting, kesiapan masyarakat. 

Kekuatan jaringan internet, dan suplai listrik yang tidak merata, serta masyarakat yang belum melek teknologi, masih menjadi pekerjaan rumah. Kekurangan sosialisasi pemerintah terhadap e-voting dapat menjadi faktor pemicu kegagalan penerapan sistem ini, seperti yang pernah terjadi di Belgia dan Belanda.

Namun, demi Bumi yang lebih bersih, gagasan penggunaan e-voting perlu didiskusikan terus-menerus. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.