Penanganan Limbah Plastik Sungai Citarum Jadi Sorotan Dunia

Dalam acara Cop26, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan membahas mengenai penanganan limbah plastik di Sungai Citarum.

Tim Redaksi

3 Nov 2021 - 13.44
A-
A+
Penanganan Limbah Plastik Sungai Citarum Jadi Sorotan Dunia

Panel Dialogue: Scaling Up Governance and Collaborative Actions In Combinating Marine Plastic Litter Towards Climate Actions In Indonesia. Tema konferensi Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim 26 (COP 26) di Glasgow, Skotlandia pada 2 November 2021 mengangkat tema mengenai limbah plastik.

Bisnis, JAKARTA -  Penanganan limbah plastik masih menjadi perhatian dunia. Bahkan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim 26 atau  biasa dikenal sebagai COP 26 pada tahun ini mengangkat tema yang berfokus pada limbah plastik. 

Konfrensi yang digelar pada 2 November 2021 itu pun menghadirkan pembicara dari Indonesia, yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. 

Secara khusus, Ridwan Kamil bakal mempresentasikan perkembangan revitalisasi Sungai Citarum. Sungai yang berada di wilayah Jawa Barat itu sempat dijuluki sebagai sungai terkotor dan terjorok di dunia oleh media asing. 

Namun, Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahu membahu mengatasi masalah pencemaran lingkungan di sungai tersebut dalam tiga tahun terakhir. Ridwan Kamil pun dalam konferensi COP 26 bakal menyampaikan pesan kepada dunia bahwa Sungai Citarum sudah berubah dari cemar berat menjadi cemar ringan. 

Pemulihan Citarum memang penting diketahui dunia. Bukan karena sungai tersebut merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat, namun Citarum yang memiliki panjang 270 kilometer ini menjadi sumber kehidupan bagi 18 juta warga di 13 kabupaten/kota yang dilintasi DAS. 

Sungai tersebut juga penting bagi kemakmuran 682.227 hektare lahan di 1.454 desa. Namun, Citarum identik dengan pencemaran dan efek kerusakan lingkungan seperti banjir. 


Foto udara banjir yang merendam ribuan rumah di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/4/2020). - Bisnis/Rachman


Pengukuran kualitas air pada 2018 menunjukan Citarum dalam kondisi cemar berat setara Indeks Kualitas Air (IKA) 33,43 poin. Namun angkanya terus membaik sejak 2020-2021 dan masuk kategori cemar ringan dengan IKA 55 poin. 

Ridwan Kamil menyebut target awal kualitas air Citarum hanya tercemar sedang, tapi kini bisa menjadi cemar ringan. Dalam penanganan dan perbaikan DAS Citarum ini dirinya menggunakan prinsip yang sama seperti penanganan Covid-19 yakni teori pentaheliks: akademisi bisnis, komunitas, pemerintahan, dan media. 

“Dengan adanya program Citarum Harum, penanganan Sungai Citarum berjalan lebih optimal,” katanya dalam keterangan tertulis pada Selasa (2/12/2021). 

Perbaikan juga terlihat dari mutu air Citarum yang masuk dalam kelas dua, di mana ikan-ikan memungkinkan hidup dan masyarakat bisa menggunakannya untuk berenang.

Selain itu, ada 36.000 hektare lahan kritis di sepanjang aliran DAS Citarum yang dihijaukan. Angka ini di atas dari target 2021 yang hanya 15.000 hektare, sedangkan target 2025 sebanyak 90.000 lahan dihijaukan.

Kemudian, pengelolaan sampah sudah mencapai 2.700 ton per hari. Penanganan keramba jaring apung juga sudah melebihi target yakni dari 28.000 namun bisa mencapai 33.000. 

Sedangkan untuk pengelolaan sumber daya air dan pariwisata, luas volume dan genangan air yang sudah dibereskan mencapai 90 persen dari target 70 persen. Dari sisi penegakan hukum, ada 131 kasus pengaduan di mana 15 di antaranya sudah diputus pengadilan pidana dan sebanyak 70 kasus dijatuhi sanksi administrasi. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar, Prima Mayaningtyas, mengatakan parameter Chemical Oxygen Demand (COD) angka pencemaran industri menunjukan adanya penurunan yang cukup signifikan di 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. "COD tahun ini jauh menurun, nilainya sudah tidak jauh berbeda dari standar baku mutu," ujarnya. 

Hal serupa juga terjadi di level pencemaran yang dihasilkan oleh limbah domestik atau Biological Oxygen Demand (BOD) menunjukan angka pencemaran industri menurun sejak 2020 lalu. DLH Jabar juga mencatat adanya penurunan pencemaran Sungai Citarum dari limbah domestik dari 2019 ke 2020.

 Selain itu, tingkat erosi  mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun lalu hal ini terukur dalam Total Suspended Solid (TSS). Dalam dua tahun terakhir, kontribusi sampah yang masuk ke Sungai Citarum berkurang banyak sampai 42 persen dibanding dengan sebelum program Citarum Harum bergulir. 

Satgas Citarum pun menargetkan Citarum memiliki mutu air kelas II setara dengan nilai IKA sebesar 60 poin yang ditargetkan tercapai pada akhir periode perencanaan pada tahun 2025.

 

Data penanganan sampah. -Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan


Bahayanya Limbah Plastik Bagi Lingkungan 

Penanganan limbah plastik sudah seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah pusat hingga daerah. Sehingga limbah plastik tak lagi mencemari lingkungan. 

Apalgi Indonesia sudah menjadi negara penyumbang kedua limbah plastik di laut setelah China. Berdasarkan data yang ada, terdapat 3,2 juta ton plastik yang setiap tahunnya dibuang ke laut. 

Koordinator Nol sampah, Waan Some, pun menyebut limbah plastik yang dibuang ke sungai dan bermuara di laut bisa sangat berbahaya bagi keberadaan biota yang hidup di air. Hal itu terbukti dalam penelitainnya terkait limbah plastik yang menyebabkan perubahan hormonal pada ikan. 

"Ada sekitar 25 persen ikan di Kali Brantas ternyata bencong. Dari luar kelihatan betina tapi organ dalamnya jantan. Diduga penyebabnya pencemaran kantong plastik,” ujar Iwan dalam diskusi virtual bertajuk “Urgensi Label Bebas BPA Bagi Kesehatan” pada Selasa (5/10/2021). 

Hal tersebut terjadi karena limbah plastik mengandung Bisphenol A (BPA) yang struktur zatnya seperti hormon estrogen yang terdapat pada perempuan. “Ini mengancam kepunahan ikan, karena ketika kawin ikan pembuahannya di luar. Jadi kelihatan di luar betina. Jadi yang dikeluarkan itu bukan sel telur tapi sperma, karena sebenarnya dia jantan,” lanjut Wawan. 

Selain BPA, kata Wawan, dalam plastik juga terdapat kandungan Platicizer, serta pewarna dan bahan baku utama plastik dari minyak bumi, yakni hidrokarbon. Bahan tersebut pun tidak hanya berbahaya pada biota air, tetapi juga pada manusia. 

“Hal tersebut berakibat cacat pada janin. Penelitian-penelitian di Unair, ada bayi yang tidak punya tempurung kepala, kembar siam, itu diakibatkan oleh Plasticizer,” ungkapnya. 

Menurut Iwan, saat ini tidak ada regulasi yang jelas tentang penggunaan bahan plastik dari pemerintah. Di balik kegunaannya yang dinilai praktis, murah dan efisien, daur ulang plastik hanya mencapai kurang dari 11 persen.

Padahal pemakaian plastik masyarakat Indonesia sudah 6 juta ton pertahun. Sisa plastik yang tidak didaur ulang pun memenuhi TPA dan sebagian besar lagi mencemari laut. 

"Setelah masuk ke laut, jutaan hewan mati setiap tahunnya. Belum lagi Ketika plastik ini terurai menjadi serpihan-serpihan kecil dan kandungan kimianya masuk ke dalam biota, yang lagi ngetren mikro plastik dimakan ikan dan biota lain bisa mempengaruhi hormonal pada satwa-satwa lain,” jelas Wawan.

(Wahyu Wage Pamungkas/ Indra Gunawan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.