Free

Penetrasi 5G dan Dampaknya ke MTEL

Penetrasi pemanfaatan teknologi sinyal 5G diperkirakan bakal mencapai 27,2 persen pada 2025. Bagaimana dampaknya terhadap kinerja salah satu emiten menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL)?

Rinaldi Azka

17 Jun 2023 - 03.57
A-
A+
Penetrasi 5G dan Dampaknya ke MTEL

Bisnis, JAKARTA - Pemanfaatan teknologi 5G bakal semakin masif di Indonesia hingga 2025. Emiten menara yang paling siap menyambut teknologi ini bakal menjadi pihak yang menadah cuan terbanyak.

Menurut kajian Kearney, penetrasi 5G pada 2025 diproyeksikan sebesar 27,2 persen, atau lebih tinggi jika dibanding potensi penetrasi 5G di 2024 sebesar 13,4 persen.

Indonesia memasuki babak baru teknologi informasi lantaran jaringan seluler 5G mulai beroperasi secara komersial di seluruh Indonesia sejak 24 Mei 2021. Jaringan 5G ini diyakini mengakselerasi transformasi digital dan pertumbuhan sektor digital Indonesia. 

Implementasi 5G akan mendorong peningkatan kebutuhan smart cell. Kemudian, keuntungan perusahaan operator telekomunikasi menggunakan 5G itu berdampak terhadap pertumbuhan pendapatan. Riset Ericsson Mobility Report mencatat tren ini di 20 pasar utama global yang telah mengadopsi dan memonetisasi 5G.

Baca Juga : Utang Luar Negeri Pemerintah, Aman Tapi Masih Menjulang

Dari sisi konsumen, penggunaan 5G mempercepat komunikasi data dan digitalisasi. Adopsi 5G akan mendorong transformasi digital di berbagai sektor industri, memudahkan masyarakat mengakses layanan telekomunikasi, pengembangan Internet of Things (IoT) di seluruh sektor, dan memacu ekonomi digital Indonesia.


Penggunaan teknologi 5G di Indonesia diprediksi semakin atraktif, merujuk riset GSM Association (GSMA) yang bertajuk The Mobile Economy Asia Pasific 2022. 

Riset ini menyebutkan konsolidasi bisnis perusahaan operator telekomunikasi akan mengakselerasi adopsi 5G. Menara telekomunikasi merupakan salah satu elemen utama dari ekosistem 5G bisa memacu adopsi teknologi 5G di Indonesia.

Salah satu emiten yang paling siap menghadapi adopsi ini yakni emiten menara PT Dayamitra Teknologi Tbk. (MTEL). Direktur Utama Dayamitra Teknologi Theodorus Ardi Hartoko mengatakan ketersediaan menara telekomunikasi dan infrastruktur digital pendukung menara dapat memperkuat konektivitas yang disediakan operator seluler yang berdampak positif terhadap digitalisasi di seluruh sektor. 

"Mitratel optimistis pengembangan infrastruktur digital yang digencarkan Mitratel semakin mempercepat transformasi digital dan memudahkan publik mengakses platform digital," ujar Teddy beberapa waktu lalu. 

Baca Juga : Persetujuan PMN untuk IFG demi Masalah Jiwasraya Tak Berlarut

Mitratel memiliki portofolio lengkap sebagai perusahaan penyedia layanan infrastruktur digital, yaitu penyewaan menara dan bisnis lain dalam ekosistem menara.

"Portofolio penyewaan menara terus menjadi pendorong pertumbuhan perusahaan, didorong oleh pendapatan tenant dan kolokasi," ujar Teddy.  

Penyewaan menara MTEL per Maret 2023 mencatatkan pendapatan senilai Rp1,73 triliun atau tumbuh sebesar 18,8 persen dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2022. 

Menurutnya, transformasi digital adalah suatu keniscayaan yang harus Mitratel jalankan seiring terbentuknya masyarakat digital sejalan dengan teknologi mobile broadband yang semakin masif pertumbuhannya dan memperkuat ekonomi digital Indonesia.  

Hal ini dapat tercipta berkat dukungan infrastruktur digital yang disediakan perusahaan infrastruktur digital (Digital InfraCo).  

Adapun portofolio bisnis lain terkait menara diantaranya adalah layanan fiberisasi ke tower, Managed Service dan Project solution. Selain itu Mitratel juga sedang menginisiasi bisnis Power to The Tower, Edge Infra Solution dan Active Equipment Services.

Baca Juga : Laba 2022 Habis untuk Dividen, PTBA Tetap Lanjutkan Ekspansi


Prospek MTEL

Niko Margaronis, Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, mengatakan Mitratel menyiapkan infrastruktur digital untuk memudahkan operator telekomunikasi (mobile network operator/MNO) memperluas layanan 5G. 

Mitratel bertransformasi menjadi perusahaan infrastruktur digital (Digital InfraCo) dan menara telekomunikasi (tower) terbanyak di Asia Tenggara lantaran jumlah tower-nya di kuartal I/2023 sebanyak 36.439 unit. 

“Selain ada tower di luar Pulau Jawa, ketersediaan dan sebaran tower Mitratel yang masif di Pulau Jawa merupakan competitive advantage yang menarik minat operator telekomunikasi untuk menyewa tower dengan skema kemitraan kolokasi yang menguntungkan perusahaan operator telekomunikasi untuk ekspansi jaringan 5G terutama di kota-kota besar,” terang Niko. 

Baca Juga : Mengenal Akad Mudharabah dalam Perbankan Syariah

Mitratel sebagai perusahaan infrastruktur digital independen yang paling siap mendukung MNO untuk memperluas jangkauan jaringan 5G digitalisasi. Pada kuartal I/2023 Mitratel menguasai pangsa pasar sebesar 45 persen di industri tower nasional.

Niko menyebutkan ekspansi perusahaan operator telekomunikasi akan mendorong pertumbuhan pendapatan, laba bersih dan EBITDA Mitratel di atas 10 persen pada 2023 ini.

“Potensi pertumbuhan pendapatan didukung permintaan sewa tower dari operator Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata dan Smartfren di kuartal II hingga kuartal IV tahun ini. Pertumbuhan finansial akan menjadi katalis positif terhadap harga saham yang ditargetkan,” jelas Niko.

Selain itu, Mitratel berinisiatif untuk menyediakan segmen bisnis terbaru seperti fiberisasi dan layanan Power to The Tower yang menyediakan pengelolaan sumber energi listrik ke tower yang tersambung jaringan listrik PLN (on grid) dan yang belum tersedia listrik (off grid). Layanan ini memudahkan ekspansi operator telekomunikasi menggunakan energi terbarukan serta menjadi sumber penghasilan tambahan Mitratel.

Baca Juga : Laba BNBR Tumbuh

MTEL juga memiliki portofolio bisnis lain terkait menara (Tower Related Business) yang mencatatkan pendapatan senilai Rp128 miliar per Maret 2023.  Portofolio ini antara lain menyediakan layanan manajemen infrastruktur telekomunikasi dan non telekomunikasi (Managed Service) dan Project Solution.  

Pertumbuhan bisnis Mitratel juga didorong oleh ekspansi portofolio fiber termasuk akuisisi fiber optic. Ekosistem infrastruktur digital di portofolio Mitratel mendukung ekspansi bisnis para pelanggan, yakni perusahaan MNO. Mitratel memperluas portofolio di sektor fiber optic dengan membangun 8.876 km secara organik pada Januari-Maret tahun ini. 

Pada kesempatan terpisah, Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy menyampaikan kondisi ekonomi tahun ini diyakini masih menjadi katalis positif terhadap sektor telekomunikasi dibandingkan sektor lain. 

Baca Juga : Menyetop Rugi InJourney, Modal Negara Disuntikkan

Untuk sektor telekomunikasi, lanjutnya, belanja komunikasi dan data masyarakat akan bertumbuh pada tahun ini, apalagi ditambah tuntutan layanan 5G di kota-kota besar.

“Oleh karena itu, Mitratel berpotensi membelanjakan belanja modal untuk menambah tower,” ucap Robertus. 

Ini diyakini berdampak terhadap pertumbuhan keuangan MTEL di tahun 2023. Pendapatan Mitratel di tahun ini, lanjut Robert, diestimasikan senilai Rp8,59 triliun, laba bersih Rp2,08 triliun dan EBITDA Rp6,82 triliun serta dividen yield dipatok mencapai 2,3 persen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.