Penggabungan Koperasi Mikro Penting dan Harus Dilakukan

Penggabungan koperasi mikro menjadi opsi yang dapat digunakan koperasi mikro untuk meningkatkan skala usahanya.

Dwi Rachmawati

25 Nov 2023 - 16.05
A-
A+
Penggabungan Koperasi Mikro Penting dan Harus Dilakukan

Karyawan Koperasi Batur Jaya tengah mengoperasikan salah satu mesin peralatan produksi. /Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) mendorong upaya merger (peleburan) untuk koperasi-koperasi berskala mikro. Adapun opsi itu tertuang dalam RUU Perkoperasian yang tinggal menunggu pembahasan di DPR.

Deputi Perkoperasiaan Kemenkop UKM, Ahmad Zabadi mengatakan hampir 80% koperasi di Indonesia masuk dalam kategori skala mikro. Menurutnya, manfaat bagi anggota dari koperasi skala mikro tersebut menjadi tidak optimal.

Di sisi lain, dia menekankan, koperasi tidak di ruang hampa. Sebaliknya, koperasi berada di pasar yang penuh persaingan. Oleh karena itu, peleburan atau penggabungan (amalgamasi) menjadi opsi yang dapat digunakan koperasi mikro untuk meningkatkan skala usahanya.

Baca juga: Masih Mini Pembiayaan Kendaraan Listrik Pribadi

"Perusahaan swasta lain sering menggunakan opsi merger atau amalgamasi tersebut untuk meningkatkan skala perusahaan, jangkauan pasar, efisiensi operasional, penguatan rantai pasok, dan sebagainya. Opsi semacam itu perlu dibiasakan di koperasi," ujar Zabadi dalam keterangannya, Sabtu (25/11/2023).

Selain itu, opsi lainnya yang didorong adalah aliansi strategis dan bentuk kerja sama atau kemitraan oleh koperasi. Bahkan, Zabadi menyebut opsi kemitraan menjadi hal yang diwajibkan bagi koperasi simpan pinjam (KSP) di dalam RUU Perkoperasian. Nantinya, KSP harus menjadi anggota dari sekunder asosiasi dan jaringanya.




Dia optimistis, lewat kerja sama koperasi di dalam asosiasi dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas koperasi itu sendiri. Di sisi lain, dia menyebut pola kemitraan tersebut juga menjadi salah satu prinsip koperasi internasional. 

Dengan begitu, alih-alih bersaing, koperasi nantinya justru bisa membentuk cooperation seperti yang dilakukan perusahaan swasta.

"Selama ini banyak KSP yang bergerak sendirian, stand alone, hasilnya kapasitas dan kapabilitas tumbuh secara lambat," tuturnya.

Baca juga: Fintech Masih Bisa Tumbuh, Ini Kuncinya!

Zabadi menambahkan, dalam RUU Perkoperasian, pemerintah juga akan melakukan rekognisi dan memperkuat integrasi melalui apex koperasi. Dia menjelaskan, lembaga apex saat ini telah berkembang alamiah di dalam gerakan koperasi.

Menurutnya, fungsi apex bersifat variatif dan dapat mendukung usaha koperasi. Ini seperti halnya pooling fund untuk mendukung likuiditas antaranggota, riset dan pengembangan, serta standarisasi pada produk, layanan, merek, pemasaran, hingga teknologi.

"Bahkan apex kita libatkan untuk menentukan dapat melakukan pemeriksaan keuangan, pemeringkatan atau penilaian kesehatan, serta pengawasan koperasi dalam jaringan," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.