Free

Penyebab 12.000 Pekerja Tekstil Terancam PHK pada 2023

Sebanyak lima tekstil harus gulung tikar yang mengakibatkan 12.000 pekerja terancam kehilangan pekerjaan dan muncul peringatan adanya badai PHK pada kuartal III/2023. Hal itu merupakan kelanjutan dari dampak lesunya permintaan pasar ekspor.

Widya Islamiati

22 Jun 2023 - 16.10
A-
A+
Penyebab 12.000 Pekerja Tekstil Terancam PHK pada 2023

Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Rachman

Bisnis, JAKARTA - Sebanyak lima tekstil harus gulung tikar yang mengakibatkan 12.000 pekerja terancam kehilangan pekerjaan dan terdapat peringatan adanya badai PHK pada kuartal III/2023. Hal itu merupakan kelanjutan dari dampak lesunya permintaan pasar ekspor. 

Hal itu diungkap oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia atau API pada Kamis (22/6/2023). Saat ini, utilitas pabrik rata-rata hanya sekitar 50 persen. Hal ini memaksa para pelaku industri melakukan berbagai efisiensi, termasuk pemangkasan jumlah pekerja. 

Sekretaris API Danang Girindrawardana menuturkan terdapat lima pabrik di sektor hulu dan hilir industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bakal tutup. 

“Sebanyak 12.000 itu potensi yang bisa terjadi di sektor hulu dan hilir TPT,” tutur Danang saat dihubungi Bisnis.


Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), total tenaga kerja pabrik garmen sebagai salah satu mata rantai industri tekstil, telah memangkas 79.316 pekerja sepanjang periode Januari sampai awal November 2022.

Lebih lanjut Danang menjelaskan, API melihat adanya potensi badai PHK di kuartal III/2023 ini jika permintaan dari pasar domestik masih anjlok disebabkan oleh banjir impor dari luar negeri hingga empat bulan ke depan.

Terlebih, menurutnya, pemerintah dalam belum memiliki inisiatif kebijakan memproteksi pasar domestik.

“Jika selama hari ini sampai empat bulan ke depan, barang barang TPT dan garmen dari luar terus menerus membanjiri pasar domestik, tanpa kontrol dari pemerintah dan penegak hukum,” tambah Danang. 

Senada dengan Danang, Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmadja menuturkan sebanyak 70 persen hasil produksi industri TPT dalam negeri akan dipasarkan di pasar domestik. Dengan demikian menurutnya, banjir impor ini cukup membuat sektor tekstil terpuruk.

Terlebih saat ini industri TPT juga tidak dapat berharap banyak pada permintaan luar negeri, akibat perekonomian negara tujuan sektor tekstil seperti Amerika Serikat dan Eropa yang masih terpuruk imbas perang Rusia-Ukraina. 

“Porsi pasar dalam negeri itukan menempati 70 persen dari produksi tekstil dalam negeri, jadi produk asing sangat berpengaruh, khususnya dari Tiongkok,” kata Jemmy saat ditemui Bisnis di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Rabu (21/6/2023).

(Widya Islamiati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.