Penyebab Anjloknya Pertumbuhan Ekonomi Q3/2023 di Bawah 5%

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2023 tercatat mencapai 4,94% (year-on-year/YoY). Capaian produk domestik bruto (PDB) kuartal III/2023 lebih rendah dibandingkan kuartal II/2023, yaitu 5,17%.

Redaksi

6 Nov 2023 - 15.35
A-
A+
Penyebab Anjloknya Pertumbuhan Ekonomi Q3/2023 di Bawah 5%

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia./BISNIS-DUL

Bisnis, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2023 tercatat mencapai 4,94% (year-on-year/YoY). Capaian produk domestik bruto (PDB) kuartal III/2023 lebih rendah dibandingkan kuartal II/2023, yaitu 5,17%.

Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar menjelaskan bahwa produk domestik bruto (PDB) kuartal III/2023 atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.296 triliun. Adapun, PDB berdasarkan harga konstan mencapai Rp3.124,9 triliun.

"Jika dibandingkan kuartal III/2022 atau yoy, maka ekonomi Indonesia pada kuartal III/2023 tumbuh 4,94%," ujarnya, Senin (6/11/2023). 

Pada kuartal III/2023, dia mengatakan perekonomian Indonesia secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq) tercatat tumbuh 1,69% persen. Secara tahunan (yoy), Indonesia tidak mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen yang telah terjadi selama 8 kuartal berturut-turut. 

"Hal ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan global terjadinya perubahan iklim serta menurunnya ekspor komoditas unggulan,” imbuhnya. 

Amalia mengatakan bahwa secara tahunan, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia turun ke level di bawah 5 persen. Meski demikian, dia mengatakan pertumbuhan ekonomi RI yang masih stabil. 

Selain itu, dia mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III/2023 secara qtq memang rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Dia menilai hal tersebut sejalan dengan pola yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, dimana pertumbuhan ekonomi kuartal III selalu lebih rendah dr kuartal II, kecuali 2020 saat terjadi pandemi Covid-19.

"Ekonomi kuartal III/2023 tumbuh 4,94% yoy, dengan capaian ini ekononomi Indonesia tetap solid dan positif," jelasnya. 

Secara kuartalan atau dibandingkan dengan kuartal II/2023, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2023 juga melambat menjadi 1,60% (quarter-to-quarter/qtq) dari 3,86% qtq.

Amalia menyampaikan bahwa perekonomian pada kuartal III/2023 secara musiman memang lebih lambat jika dibandingkan dengan kuartal kedua pada tahun berjalan.

“Ekonomi Indonesia pada kuartal III/2023 tumbuh 1,60% qtq, sejalan dengan pola di tahun-tahun sebelumnya, di mana ekonomi di kuartal III selalu lebih rendah dari kuartal II, kecuali tahun 2020 saat terjadi pandemi Covid-19,” katanya dalam Konferensi Pers, Senin (6/11/2023).

Berdasarkan lapangan usaha, dia menjelaskan seluruh sektor mencatatkan pertumbuhan positif kecuali jasa pendidikan dan administrasi pemerintahan, yang masing-masingnya mencatatkan kontraksi sebesar -2,07% dan -6,23% yoy.

Pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh lapangan usaha transportasi & pergudangan, akomodasi & makan minum, serta jasa lainnya, yang masing-masingnya tumbuh sebesar 14,74%, 10,90%, dan 11,14% yoy.

Sementara itu, lanjutnya, lapangan usaha industri pengolahan pada kuartal III/2023 masih menjadi pendorong utama ekonomi Indonesia, dengan pertumbuhan 5,20% yoy.

Berdasarkan komponen pengeluaran, konsumsi rumah tangga yang tercatat tumbuh 5,06% yoy masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.

Adapun, ekspor dan konsumsi rumah tangga pada periode tersebut mengalami kontraksi pertumbuhan, masing-masing sebesar -4,26% dan -3,76% yoy.

"Hal ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan global terjadinya perubahan iklim serta menurunnya ekspor komoditas unggulan," ungkapnya. 

Baca Juga : Kepercayaan Diri OJK Hadapi Sinyal NPL Jumbo Bank Kelas Menengah 

SUDAH DIPREDIKSI

Mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014 Chatib Basri mengungkapkan dirinya sudah memprediksi melemahnya ekonomi Indonesia pada kuartal III/2023, sebesar 4,94% (year-on-year/yoy). 

Dalam sebuah kesempatan, pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) tersebut menyampaikan pelemahan ekonomi yang akan mulai pada kuartal ketiga ini akan berlanjut hingga tahun depan atau 2024.

“Data menunjukkan itu, fiskal kita masih mengalami surplus, ada risiko pertumbuhan ekonomi akan melambat di kuartal III/2023 dan tahun 2024. Itu sebabnya perlu percepatan realisasi belanja pemerintah. Namun, saya tak melilhat risiko resesi,” ujarnya, dikutip Senin (6/11/2023). 

Melihat data Badan Pusat Statisik (BPS), kondisi fiskal memang masih mencatatkan surplus, namun kinerja ekspor dan impor mengalami kontraksi sepanjang kuartal III/2023, yang masing-masing sebesar -4,26% dan -6,18%.

Baca Juga : 'Gigi Mundur' Investasi Mobil Listrik Global 

Sementara itu, Chatib menilai bahwa ekonomi Indonesia masih cukup resilien kedepannya, meski diprediksi akan lebih rendah dari target Joko Widodo (Jokowi) sebesar 5,2% pada 2024. 

“Ekonomi Indonesia masih akan tumbuh relatif kuat walau mungkin akan lebih rendah dari 5,2%,” lanjutnya. 

Sementara untuk konsumsi pemerintah, pada kuartal ini tercatat anjlok menjadi -3,76% (yoy) setelah pada kuartal sebelumnya tumbuh 10,62%. 

“Saya selalu mengatakan bahwa jika ekonom bisa memprediksi pertumbuhan ekonomi dengan baik, itu karena ‘kebeneran’ bukan kebenaran,” cuitnya.(Maria Elena, Annasa Rizki Kamalina)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.