Penyebab Kinerja Ekspor Industri Manufaktur Melemah

Ekspor sektor industri pengolahan pada Oktober 2023 bertumbuh secara bulanan, namun turun jika dibandingkan dengan performa tahun lalu.

Fatkhul Maskur

23 Nov 2023 - 17.46
A-
A+
Penyebab Kinerja Ekspor Industri Manufaktur Melemah

Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa 25.1.2022.Bisnis-Rachman

Bisnis, JAKARTA-Ekspor sektor industri pengolahan pada Oktober 2023 bertumbuh secara bulanan, namun turun jika dibandingkan dengan performa tahun lalu.

"Nilai ekspor nonmigas mengalami peningkatan secara bulanan, terutama pada sektor industri pengolahan dan pertambangan," kata Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Rabu (15/11/2023).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai pengapalan industri manufaktur pada Oktober 2023 mencapai US$16,14 miliar, meningkat dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya US$15,40 miliar.

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu US$17 miliar, performa ekspor pada Oktober 2023 mengalami penurunan 5%.

Sepanjang Januari-September 2023, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan turun 10,30% dibanding periode yang sama 2022, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 10,44% dan ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 20,80%.

Pakar ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Hirawan mengatakan kinerja perdagangan ekspor dan impor yang menurun atau terkontraksi pada Oktober 2023 terjadi akibat fenomena global.

"Ekspor dan impor yang terkontraksi ini saya raya tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara lain akibat fenomena global seperti konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi," kata Fajar ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (15/11/2023).

Hal senada disampaikan Deputy of General Secretary Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Indrawan. Ekspor menghadapi tantangan geopolitik global yang memanas dan turunnya permintaan pasar.

"Permintaan pasar tradisional belum pulih, seperti USA dan Eropa, maka sampai dengan akhir tahun 2023 diprediksi kembali mengalami penurunan, walaupun nilainya masih dibawah 10%," kata Indrawan kepada Bisnis, Rabu (22/11/2023).

Selain tantangan pasar, Asmindo melihat tantangan lain yang dihadapi industri mebel, yakni ketersediaan rantai pasok bahan baku, inovasi dan kreasi sebagai kunci selera pasar, hingga minimnya kompetensi sumber daya manusia dan teknologi yang sesuai.

Asmindo mencatat kinerja ekspor produk mebel mengalami kontraksi sejak 2022. Adapun, nilai ekspor produk mebel pada 2022 mencapai US$2,81 miliar, turun 2,59% dibandingkan pada 2021 sebesar US$2,88 miliar.

Adapun ekspor hingga Juni 2023 yang masih di angka US$1,29 miliar.


Fajar menambahkan kinerja impor yang menurun juga pasti berdampak pada sektor-sektor tertentu, terutama industri manufaktur.

Penurunan impor berpotensi mengganggu kegiatan industri manufaktur yang masih sangat bergantung pada bahan-bahan baku dari luar negeri yang mencapai 70%.

Berdasarkan data BPS, impor bahan baku penolong turun 6,08% (year-on-year/yoy) dengan nilai impor US$13,44 miliar pada Oktober 2023.

Secara kumulatif atau hingga Oktober 2023, total nilai impor bahan baku penolong tercatat US$19,32 miliar atau turun 12,65% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Penurunan impor bahan baku ini juga dampak melesunya permintaan TPT, baik market dalam negeri, maupun ekspor karena ekonomi global yang sedang melambat," kata Jemmy kepada Bisnis, Rabu (15/11/2023).

Melesunya aktivitas industri manufaktur pada gilirannya membuat daya pasok produk ke pasar mengalami hambatan, termasuk pasok ke pasar mancanegara. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.