Penyebab Penjualan Motor Listrik Kurang Menyetrum meski Sudah Ada Subsidi

Setidaknya ada tiga akar masalah yang harus dipecahkan agar semakin banyak peminat motor listrik.

Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra

23 Apr 2024 - 14.36
A-
A+
Penyebab Penjualan Motor Listrik Kurang Menyetrum meski Sudah Ada Subsidi

Pengguna motor listrik sedang pawai. Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis, JAKARTA — Penjualan motor listrik belum terlalu maksimal meski pemerintah sudah memberi stimulasi dalam bentuk subsidi. Masih ada beberapa persoalan yang harus dipecahkan supaya mampu menarik minat dari calon konsumen.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko mengatakan bahwa pada dasarnya subsidi motor listrik senilai Rp7 juta yang diberikan pemerintah sudah cukup bagus. Akan tetapi, regulasi tak serta merta membuat populasi motor listrik semakin meningkat.

Setidaknya ada tiga isu yang saat ini belum dipecahkan. Semuanya adalah tarikan dari unit motor listrik masih kurang dibandingkan teknologi internal combustion engine (ICE), jarak tempuh masih terlampau dekat, hingga pengisian daya yang terbilang lama.

Baca juga: Baterai Solid State, Kunci Permainan Baru di Industri EV

“Isu-isu ini yang nanti lambat laun akan terpecahkan secara alamiah. Ke depan pastinya charging lebih cepat, jaraknya lebih jauh, dan harganya lebih murah,” kata Moeldoko yang juga menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan di Jakarta, Senin (22/4/2024).

Berdasarkan data dari sisapira.id, total penyaluran subsidi motor listrik kuota tahun ini per 22 April 2024 telah menembus angka 11.563 unit. Jumlah tersebut sudah melampaui 11.532 unit motor listrik yang tersalurkan sepanjang 2023. 

Ketentuan subsidi motor listrik senilai Rp7 juta telah diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 21/2023 tentang perubahan atas Permenperin No. 6/2023.  

Aturan ini pun mengubah syarat penerimaan subsidi yang tadinya dari 4 golongan menjadi 1 NIK untuk 1 unit. Sebanyak 50.000 unit kuota subsidi telah disiapkan untuk anggaran 2024.

 

 

Di satu sisi, Moeldoko menilai mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) justru sudah mengalami gerakan yang cukup masif. Terlebih lagi makin banyak model dan merek dengan berbagai harga hingga teknologi.

“Nah, ini indikasinya. Sebenarnya masyarakat itu menunggu varian-varian baru yang lebih maju, jaraknya lebih jauh, dan harganya lebih murah,” katanya.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, penjualan mobil listrik secara wholesales mencapai 18.301 unit pada Januari—Maret 2024, naik 118,25% dari 8.385 unit selama periode sama tahun lalu. 

Baca juga: Subsidi Motor Listrik Sepi Peminat, Moeldoko Sebut 3 Hal Ini Jadi Penyebab

Dari total wholesales tersebut, teknologi berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai 5.023 unit atau 27,44% dari jumlah keseluruhan. Kemudian, teknologi hybrid sebanyak 13.261 unit atau 72,46%, sedangkan plug-in hybrid (PHEV) 17 unit atau 0,09%. 

Secara pertumbuhan, mobil listrik teknologi BEV mengalami peningkatan 178,59%, hybrid sekitar 101,68%, sedangkan PHEV 142,85%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.