Perdagangan Dunia Menguat, Permintaan Peti Kemas Bergeliat

Proyeksi membaiknya perdagangan dunia usai pandemi selama tiga tahun terakhir turut meningkatkan permintaan peti kemas di sejumlah negara. Perusahaan dalam negeri bahkan ikut berinvestasi pada pengembangan infrastruktur di pelabuhan.

Rayful Mudassir

20 Agt 2023 - 13.29
A-
A+
Perdagangan Dunia Menguat, Permintaan Peti Kemas Bergeliat

Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Bisnis-Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA - Operator pelabuhan global, DP World menargetkan penambahan kapasitas hingga 3 juta Twenty-Foot Equivalent Units (TEUs) peti kemas baru pada akhir tahun ini.

Sejauh ini, DP World mengelola sekitar 9 persen dari kapasitas penanganan dunia, menempatkannya di antara lima besar operator pelabuhan global. Ekspansi ini akan meningkatkan total kapasitas kotornya menjadi 93,6 juta TEUs dan membantu memenuhi permintaan yang meningkat di pasar perdagangan utama.

CEO DP World Sultan Ahmed bin Sulayem menegaskan pihaknya berinvestasi dalam infrastruktur untuk memenuhi permintaan perdagangan yang terus meningkat.

Baca juga: Tumbuh 1,15%, Arus Peti Kemas Pelindo 8,2 Juta Teus

“Penambahan kapasitas ini akan semakin memperkuat posisinya sebagai penyedia solusi rantai pasokan global terkemuka yang menghubungkan ekonomi, bisnis, dan konsumen di seluruh dunia,” ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (19/8/2023).

Ekspansi utama yang akan selesai pada tahun ini adalah di Caucedo (Republik Dominika), termasuk tambahan 1,2 juta TEUs, Yarimca (Türkiye) memproyeksikan tambahan 579.000 TEUs, Sokhna (Mesir) menambah 500.000 TEUs, dan Jeddah (Arab Saudi) dengan tambahan 200.000 TEUs.

COO Ports & Terminals, DP World, Tiemen Meester menjelaskan tengah melihat kondisi ekonomi global dalam jangka panjang dan merencanakan  untuk memenuhi permintaan pasar dengan cara yang paling efisien.

“Target jangka menengah kami adalah mencapai 100 juta TEU setahun, tergantung permintaan,” ujarnya.

Bersamaan dengan perluasan fisik, proyek-proyek tersebut juga berfokus pada digitalisasi - menerapkan teknologi baru dan Sistem Operasi Terminal modern, yang selanjutnya akan meningkatkan kapasitas dengan mengotomatiskan dan merampingkan operasi di setiap pelabuhan, sehingga memungkinkan arus perdagangan yang lebih besar dan proses yang lebih efisien bagi pelanggan.

INVESTASI PELINDO

Di Indonesia, perusahaan layanan jasa terminal peti kemas PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) menyiapkan investasi sekitar US$88 juta untuk peremajaan alat bongkar muat peti kemas.

Corporate Secretary SPTP Widyaswendra menjelaskan, dari jumlah investasi tersebut akan digunakan untuk pengadaan 5 unit QCC (quay container crane) dengan nilai investasi US$50 juta, dan untuk 14 unit RTG (rubber tyred gantry) dengan investasi US$38 juta.


“Pengadaan alat baru ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Terminal Petikemas Surabaya (TPS Surabaya) dan IPC TPK Area Panjang,” katanya, Rabu (5/7/2023).

Dia menjelaskan peremajaan alat meliputi 4 unit QCC atau alat bongkar muat peti kemas di dermaga dan 14 unit RTG yang merupakan alat bongkar muat peti kemas di lapangan penumpukan untuk TPS Surabaya dan 1 unit QCC untuk IPC TPK Area Panjang. 

“Peremajaan alat dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pelayanan terhadap pelanggan, karena ukuran kapal yang singgah di TPS Surabaya dan IPC TPK Area Panjang semakin besar dengan jumlah muatan yang semakin banyak,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan peralatan bongkar muat peti kemas yang andal untuk menjaga produktivitas terminal peti kemas. Saat ini saja, di TPS Surabaya terdapat 12 unit QCC dan 30 unit RTG yang digunakan untuk pelayanan kegiatan terminal peti kemas. 

“Pengadaan alat baru nantinya akan menggantikan sebagian dari peralatan yang sudah ada saat ini,” ujarnya.

Sedangkan peralatan lama yang ada di TPS Surabaya maupun IPC TPK Area Panjang akan digunakan untuk mendukung kebutuhan alat di terminal lain yang membutuhkan melalui program optimalisasi aset. 

Widyaswendra menambahkan, dalam pengadaan alat baru ini dibutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun untuk proses pembuatan, pengiriman, hingga perakitan di terminal. “Saat ini masih tahap awal lelang pengadaan barang dan jasa, proses hingga alat tersebut dapat beroperasi masih cukup panjang,” imbuhnya.

Adapun SPTP mencatat arus peti kemas di TPS Surabaya pada semester I/2023 sebanyak 674.890 TEUs. Jumlah tersebut tumbuh 1 persen jika dibandingkan semester II/2022 yang tercatat sebanyak 668.244 TEUs. Jumlah tersebut terdiri dari 644.770 TEUs peti kemas internasional dan 30.120 peti kemas domestik.

Menurut Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya Stenvens Handry Lesawengen, QCC yang ada di TPS Surabaya saat ini hanya dapat menjangkau 12 rows (susunan peti kemas mengikuti lebar kapal), sedangkan kapal-kapal yang datang akan semakin besar hingga 18 rows. 

"Dibutuhkan QCC jenis Post Panamax, yang ada di TPS Surabaya saat ini masih tipe Panamax. Dari sisi usia alat juga sudah tepat jika dilakukan peremajaan dengan alat yang baru, karena alat yang sekarang ada sudah ada sejak awal TPS Surabaya berdiri kurang lebih 20 tahun lalu," kata Stenvens. (Anitana Widya Puspa/Peni Widarti)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.