Perhatian! PMI Manufaktur Melorot di September 2023

Meski masih mencatatkan pada jalur yang ekspansif, capaian PMI September 2023 merupakan yang terendah dalam empat bulan terakhir.

Rinaldi Azka

2 Okt 2023 - 13.26
A-
A+
Perhatian! PMI Manufaktur Melorot di September 2023

Ilustrasi aktivitas industri pengolahan di Indonesia./BISNIS

Bisnis, JAKARTA – S&P Global membukukan melambatnya Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 52,3 pada September 2023, atau turun 1,6 poin dari capaian Agustus 2023 di angka 53,9. 

Meski masih mencatatkan pada jalur yang ekspansif, capaian PMI September 2023 merupakan yang terendah dalam empat bulan terakhir.  

“Ini merupakan ekspansi aktivitas pabrik selama 25 bulan berturut-turut, tetapi merupakan laju PMI manufaktur Indonesia menjadi yang terlemah sejak Mei 2023,” tulis S&P dikutip dari Bloomberg, Senin (2/10/2023). 

Penurunan tersebut sejalan dengan dengan output dan pertumbuhan pesanan baru yang menurun, di tengah laporan permintaan klien yang lebih kuat di pasar ekspor utama.

Padahal, pada bulan lalu S&P Global mencatat manufaktur Indonesia memperlihatkan optimisme terhadap produksi 12 bulan yang akan datang. Kondisi permintaan yang lebih baik mendorong perusahaan mencapai kondisi paling optimistis dalam 10 bulan, tingkat kepercayaan bisnis lebih dekat dengan rata-rata jangka panjang.

Kondisi PMI Manufaktur di Asia

Meski menjelang libur akhir tahun, aktivitas manufaktur tetap tidak bergairah di Asia dan  memperpanjang kemerosotan yang berkepanjangan tahun ini.

Data terbaru menunjukkan alarm waspada saat manufaktur memasuki musim puncaknya menjelang liburan Natal dan Tahun Baru.

Hal ini meruntuhkan optimisme yang hati-hati bahwa ekonomi global menemukan dirinya pada pijakan yang lebih stabil, dengan permintaan konsumen dan ekspor yang menguat di beberapa kuartal. 

Di satu sisi, ini merupakan momen sulit bagi produsen karena dimulainya musim kemarau El Nino dan pasokan minyak yang lebih ketat mengancam untuk menghidupkan kembali tekanan-tekanan biaya dan mempertahankan biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

S&P Global melihat aktivitas pabrik di wilayah ini sebagian besar memburuk di bulan September karena permintaan global yang lesu untuk barang-barang mendorong penurunan output dan pekerjaan baru. 

Buktinya, PMI Jepang sedikit melambat menjadi 48,5 bulan lalu dari 49,6 di bulan Agustus, turun lebih jauh dari angka 50 yang memisahkan ekspansi dari kontraksi.

Baca Juga : Ramalan Inflasi September 2023 Kian Melandai 

Indeks Taiwan mencatat lonjakan yang cukup besar menjadi 46,4 dari 44,3, menandakan penurunan yang lebih lembut bulan lalu. Kemerosotan global telah menghantam ekonomi yang berorientasi ekspor dengan keras, membuat PMI-nya berada di zona merah sejak Mei 2022.

Kebangkitan manufaktur di Asia Tenggara juga kehilangan tenaga. Selain Indonesia yang loyo, pabrik-pabrik di Vietnam mengalami penurunan aktivitas setelah sebulan ekspansi, bergabung dengan negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Myanmar. Hanya Filipina yang mengalami peningkatan, berbalik dari kontraksi ke ekspansi. 

Sebelumnya, data dari China menunjukkan betapa gentingnya pemulihan ini. PMI manufaktur resminya naik menjadi 50,2 bulan lalu, setelah masuk zona kontraksi dan baru ekspansi pertama kali sejak Maret 2023.

Baca Juga : Cuaca Panas Ekstrem Mengintai Asia 

Optimisme Kemenperin

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis pertumbuhan industri pengolahan non-migas dapat terus berlangsung positif yang dipicu level ekspansi dari Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur RI.

Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Taufiek Bawazier mengatakan indikator dari PMI nasional dapat terus bertahan ekspansif apabila didorong dengan peningkatan investasi dan memastikan pengadaan barang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang optimal. 

"Kita masih dianggap investasi yang cukup menarik, makanyan kita perkuat agar investasinya mengarah ke supply chain yang masih kurang kita arahkan ke sana," kata Taufiek kepada wartawan, dikutip Jumat (22/9/2023). 

Dalam hal ini, dia menekankan pentingnya mendorong investasi pada rantai pasok yang selama ini masih kurang, sehingga mengandalkan barang impor. Hal ini juga penting untuk menjaga permintaan dalam negeri dan meningkatkan TKDN itu sendiri. 

Adapun, dia mencatat dari total realisasi investasi yang masuk ke RI saat ini sebesar Rp678,7 triliun pada semester I/2023. Investasi di sektor industri pengolahan berkontribusi sebanyak 39,8 persen.

Selain itu, pihaknya juga akan terus memastikan pengadaan barang di lingkup pemerintahan dengan memaksimalkan TKDN atau produk dalam negeri hingga di atas 40 persen. Hal ini juga dapat menjad upaya menjaga permintaan pasar. 

Baca Juga : Aturan Sri Mulyani Bikin Industri Tekstil Lesu? 

"Government expenditure, jadi TKDN nya harus diperkuat untuk semua belanja pemerintah pusat, daerah, BUMN, itu harus belanja produk dalam negeri," tuturnya. 

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan laju ekspansi manufaktur masih didorong oleh pertumbuhan dari permintaan baru, terutama permintaan luar negeri atau global yang memacu percepatan produksi dan menambah serapan tenaga kerja. 

Geliat industri manufaktur di Indonesia juga terlihat dari capaian positif Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2023 yang dirilis oleh Kementerian Perindustrian, dengan mencapai level 53,22 atau dalam fase ekspansi

Dari hasil survei PMI manufaktur maupun IKI disebut telah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,17 persen pada triwulan II/2023, dengan sektor industri berkontribusi sebesar 16,30 persen terhadap PDB di periode tersebut.

"Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan industri sudah pada jalurnya. Kinerja positif ini menunjukkan optimisme yang tinggi di sektor industri manufaktur dalam menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan," jelas Agus.(Afiffah Rahmah Nurdifa, Annasa Rizki Kamalina)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.