Peringatan NASA akan Badai Matahari dan Dampaknya pada Bumi

Permukaan Matahari dipenuhi bintik-bintik gelap yang disebut bintik matahari yang medan magnetnya sangat kuat dan dalam seminggu terakhir ini, jumlah bintik-bintik hitam tersebut meningkat sepuluh kali lipat dan disebut-sebut akan memuntahkan beberapa lontaran massa koronal (CME).

Mia Chitra Dinisari

27 Nov 2023 - 13.52
A-
A+
Peringatan NASA akan Badai Matahari dan Dampaknya pada Bumi

Perahu melintas saat matahari tenggelam di Pantai Waecicu, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA – Badan antariksa AS memberikan peringatan akan adanya badai matahari yang akan membuat bumi terasa panas.

Peneliti mengatakan, matahari mengalami lonjakan aktivitas secara tiba-tiba dengan peningkatan jumlah bintik matahari secara signifikan yang mengirimkan gumpalan plasma panas ke luar angkasa, yang dampaknya diperkirakan akan dirasakan oleh Bumi dalam bentuk badai geomagnetik yang memicu pemadaman radio.

Permukaan Matahari dipenuhi bintik-bintik gelap yang disebut bintik matahari yang medan magnetnya sangat kuat dan dalam seminggu terakhir ini, jumlah bintik-bintik hitam tersebut meningkat sepuluh kali lipat dan disebut-sebut akan memuntahkan beberapa lontaran massa koronal (CME). 

Baca juga: Literasi Digital Dorong Milenial Bijaksana Manfaatkan Internet

Sebuah laporan mengatakan salah satu CME ini merupakan pelepasan besar-besaran awan plasma dari korona Matahari dengan kecepatan tinggi diperkirakan akan menghantam medan magnet dan atmosfer kita pada akhir tanggal 25 November. Matahari juga dapat mengirimkan jilatan api matahari yang merupakan semburan energi elektromagnetik yang terang.

“Sulut api matahari dan CME disebabkan oleh matahari melalui medan magnetnya yang terpelintir dan tertekan melalui gerakan matahari,” ujar Daniel Brown, seorang profesor astronomi dan komunikasi sains di Universitas Nottingham Trent di Inggris dilansir dari bisnis.com yang mengutip Wion.


Gambar lubang korona 13 Maret 2019. /Instagram @lapan_ri

Dia menambahkan, jilatan api matahari adalah pelepasan cahaya dalam jumlah besar yang dipicu oleh perubahan dan penataan ulang medan magnet matahari. Hal ini biasanya akan berjalan seiring dengan dirilisnya CME. 

Namun, dibutuhkan waktu satu hari atau lebih hingga partikel tersebut tiba, sementara cahaya dan radiasi mencapai kita hanya dalam waktu 8 menit.

Laporan Spaceweather.com menyebutkan, peningkatan bintik matahari dimulai pada 18 November ketika AR3490, kelompok bintik matahari pertama, muncul di sisi timur laut Matahari. Selanjutnya, kelompok bintik matahari lainnya, AR3491 muncul dan dikatakan telah membentuk jejak di belakangnya.

Dampaknya terhadap Bumi

Partikel CME yang menghantam medan magnet dan atmosfer bumi memicu badai geomagnetik yang menyebabkan aurora–akibat gangguan magnetosfer bumi yang disebabkan oleh angin matahari dapat semakin kuat dan juga terlihat di ketinggian yang lebih rendah.

Baca juga: Permudah Administrasi, Unhas Terapkan Ijazah Digital

“Badai geomagnetik terjadi ketika medan magnet bumi sangat terganggu akibat letusan matahari,” kata Huw Morgan, ketua kelompok Fisika Matahari di Universitas Aberystwyth di Inggris kepada Newsweek.

Ketika badai plasma besar meletus dari matahari, dan badai tersebut membawa medan magnet yang arahnya berlawanan dengan medan magnet bumi, Bumi mengalami 'badai sempurna', dan badai geomagnetik yang lebih besar.”

Namun selain mewarnai langit dengan cahaya yang indah, badai geomagnetik juga dapat berdampak pada infrastruktur seperti fluktuasi dan pemadaman jaringan listrik serta pemadaman radio.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.