Free

Permintaan Rumah Pertama Tak Tergerus Tekanan Ekonomi Global

Di tengah tekanan geopolitik dan ekonomi global, permintaan rumah tapak tetap tinggi.

Yanita Petriella & Alifian Asmaaysi

12 Mei 2024 - 01.08
A-
A+
Permintaan Rumah Pertama Tak Tergerus Tekanan Ekonomi Global

Ilustrasi Jual Beli Rumah. /istimewa

Bisnis, JAKARTA – Penjualan rumah tapak masih menjadi primadona sektor properti di Indonesia. 

Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Yunus Karim mengatakan kebutuhan rumah tapak menarik permintaan yang cukup sehat.

Pemicu utama yang mendorong permintaan rumah tapak diantaranya insentif dari pemerintah berupa keringanan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP). Hal itu menjadi angin segar bagi para pengembang dalam menjual unitnya.

“Pemerintah juga aktif memberikan insentif keringanan PPN. Yang kita lihat November 2023 kemarin diluncurkan. Ini membuat banyak pasokan-pasokan yang masuk ketika diluncurkan keringanan pajak ini,” ujarnya dikutip Kamis (12/5/2024). 

Adapun hunian yang diminati konsumen yakni rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar. Menurutnya, keterjangkauan menjadi kunci yang tentunya menyasar pasar milenial sehingga pasokan menyesuaikan pasar yang ada saat ini. 

Pihaknya tak menampik sejak tahun lalu, pengembang secara aktif meluncurkan klaster-klaster baru. Bahkan kota-kota yang sebelumnya lebih sepi pun ikut bergabung dengan memperkenalkan klaster-klaster baru.

Faktor-faktor seperti aksesibilitas yang baik ke jalan tol dan transportasi umum, reputasi pengembang, dan fasilitas komersial yang mendukung menjadi hal yang sangat penting ketika calon pembeli mempertimbangkan untuk membeli unit rumah tapak.

Kota-kota baru telah diluncurkan secara resmi di Tangerang dan Bogor. Selain itu, pengembang asing secara aktif bermitra dengan pengembang lokal, menghasilkan usaha patungan. 

“Beberapa proyek telah diperkenalkan di Tangerang, dan akan lebih banyak lagi yang menyusul di Bekasi dan Bogor,” kata Yunus. 

Baca Juga: Waswas Industri Properti di Tengah Eskalasi Geopolitik dan Pelemahan Rupiah

Sementara itu, Head of Sales PT Perdagangan Juara Semesta Properti (Juragen) Ryan Lie menuturkan hunian seharga Rp500 juta paling banyak dicari para first home buyer atau pemburu hunian pertama. Kemudian, rentang usia para pencari rumah terbanyak, berada di kisaran usia 25 hingga 45 tahun atau dari kalangan usia produktif. Jadebotabek masih menempati urutan teratas lokasi favorit para pencari rumah dengan prosentase tertinggi Bogor sekitar 47%, Tangerang 18%, dan Bekasi 17%. 

Adapun lokasi-lokasi yang paling banyak dicari antara lain di Dramaga untuk area Bogor, Cisoka untuk Tangerang, dan Tambun di Bekasi. 

“Tingginya permintaan properti ini karena didorong peran para agen yang memberikan informasi terkait rumah dan produk properti lainnya. Dengan menggunakan jasa maupun konsultasi agen properti, pembeli bisa mendapatkan produk yang tepat sesuai selera maupun kemampuan daya beli,” ucapnya. 

Pada kuartal I tahun 2024, Juragen mencatatkan kenaikan penjualan untuk produk rumah tapak hingga 3,5 kali lipat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pencapaian ini menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal pertama tahun 2024. 

“Kami akan terus mendorong untuk memberikan pengalaman membeli rumah yang lebih menyenangkan kepada masyarakat,” tuturnya. 


Permintaan Ada

Terpisah, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto menuturkan saat ini pengembang tengah wait and see melihat kondisi geopolitik dan ekonomi global. 

“Perang akan berdampak ke minyak, dan minyak ini konteksnya yang tergerak ke biaya logistik. Dari situ pengembang ketika cost naik 10% sampai di bawah 15% maka akan penyesuaian sana-sini dengan efisiensi, jadi belum pengaruh ketika perang, jadi lebih dari 3 bulan baru koreksi dengan kenaikan,” ujarnya. 

Menurutnya, kenaikan harga material karena imbas harga BBM ini akan berdampak pada kenaikan harga rumah. Namun demikian, para pengembang tengah berusaha agar harga rumah tidak naik agar tetap mudah dijangkau. Hal ini dengan melakukan efisiensi dan menahan ekspansi di tengah kondisi saat ini. 

“Kami tetap optimistis properti dapat tumbuh 10% sepanjang tahun ini. Adapun untuk rumah end user dan rumah pertama tidak terlalu berdampak karena kebutuhan rumah tetap ada dan tinggi, hunian investor yang terdampak karena wait and see,” katanya. 

Wakil Ketua Umum DPP REI Bambang Ekajaya menambahkan saat ini margin bisnis para pengembang bakal tergerus akibat kondisi geopolitik, ekonomi global dan kenaikan suku bunga acuan bank Indonesia. dan berdampak pada meningkatnya kenaikan bunga KPR bagi para konsumen.

Yang bisa kami lakukan tentu bertahan. Bertahan dengan mengurangi margin profitnya,” ucapnya. 

Dia meyakini permintaan rumah first home buyer tetap tinggi di tengah situasi yang tidak menentu. Hal ini karena angka backlog masih mencapai 12,7 juta unit hunian. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.