Permintaan Tambahan untuk Freeport, Bangun ‘Smelter’ di Timika

Pembangunan smelter dan proses divestasi saham Freeport merupakan bagian dari program hilirisasi pemerintah.

Feni Freycinetia Fitri

1 Jun 2024 - 18.22
A-
A+
Permintaan Tambahan untuk Freeport, Bangun ‘Smelter’ di Timika

Proyek Smelter Freeport di Gresik. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti.

Bisnis, JAKARTA – Pemerintah mendorong PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun smelter di Timika, Papua Tengah, dekat dengan tambang Freeport.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa permintaan tersebut beriringan dengan rencana pemerintah yang akan menambah jumlah saham milik Indonesia di PTFI menjadi 61% pada 2041.

“Kita sedang memikirkan. Begitu aturannya keluar, kita akan mengakuisisi lagi sahamnya tambah 10%. Sekarang kita 51%. Kita ingin Indonesia harus mayoritas lagi. Negosiasinya sudah selesai dan Freeport setuju untuk penambahan saham 10% pada 2041,” kata Bahlil saat kuliah umum yang digelar di Universitas Islam As Syafi'iyah, Bekasi, Jumat, (31/5/2024).

Baca juga: Pertamina Hulu Energi Catatkan Pertumbuhan Produksi 8% dalam 10 Tahun

Dia menyampaikan bahwa smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan nilai investasi mencapai US$3 miliar yang berada di Gresik, Jawa Timur akan mulai beroperasi pada 1 Juli 2024.

“Mulai 1 Juli ke depan, pabrik Freeport akan mengolah konsentrat tembaga dari Timika di Gresik. Dalam satu tahun, pabrik ini akan menghasilkan 60.000 emas murni, 400.000 ton katoda tembaga, dan berbagai produk turunan lainnya,” ungkapnya.

Menurut Bahlil, pembangunan smelter dan proses divestasi saham Freeport merupakan bagian dari program hilirisasi pemerintah, yang merupakan salah satu strategi investasi yang dilakukan oleh negara untuk menciptakan lapangan pekerjaan di masa mendatang.

 

 

“Dunia saat ini sedang berbicara tentang green energy dan green industry. 2035 puncaknya bonus demografi, 65 persen penduduk Indonesia adalah usia produktif. Dan karena itu kita harus mendesain dari sekarang agar bangsa kita tidak menjadi negara konsumtif,” imbuhnya.

Bahlil memberikan contoh, cadangan nikel Indonesia mencapai 25% dari total cadangan nikel dunia, sehingga pemerintah memutuskan untuk menghentikan ekspor bijih nikel pada 2019. Kebijakan tersebut berhasil memberikan nilai tambah terhadap perekonomian Indonesia.

Baca juga: Saham Ditambah jadi 61%, Bahlil Minta Freeport Bangun Smelter di Timika

Dia mengungkapkan nilai ekspor nikel RI hanya US$3,3 miliar pada 2017. Begitu pemerintah setop ekspor bahan baku dan membangun industri serta pabrik, nilai ekspor melonkak menjadi US$33,5 miliar pada 2023. "Nilainya hampir sebesar Rp500 triliun,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bahlil mengatakan banyak negara-negara maju yang tidak senang atas kebijakan Indonesia yang melarang ekspor bijih nikel. Bahkan, Indonesia sempat digugat oleh Uni Eropa di World Trade Organization (WTO) terkait kebijakan tersebut.

“Mereka takut negara kita kuat. Dan saya masih yakin bahwa ada sebagian negara lain yang tidak ingin Indonesia berdaulat dalam mengelola kekayaannya sendiri,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.