Pertamina Siap Salurkan Bioavtur SAF, Bahan Bakar Terbaru Aviasi

Kendati masih dalam tahapan rangkaian uji coba, Pertamina Patra Niaga berkomitmen mendukung penuh pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), produk terbaru bahan bakar aviasi (pesawat).

Ibeth Nurbaiti

4 Agt 2023 - 09.21
A-
A+
Pertamina Siap Salurkan Bioavtur SAF, Bahan Bakar Terbaru Aviasi

Contoh produk terbaru bahan bakar aviasi (pesawat), yakni Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini masih dalam tahapan rangkaian uji coba pengembangan. Bisnis-Pertamina Patra Niaga.

Bisnis, JAKARTA — Dalam rangka mendukung percepatan implementasi energi baru dan terbarukan serta penurunan emisi gas rumah kaca di sektor penerbangan, PT Pertamina (Persero) siap mengakselerasi pengembangan bioavtur.

Melalui Subholding Commercial & Trading, PT Pertamina Patra Niaga, perusahaan migas pelat merah itu menjamin kesiapan infrastruktur seluruh produknya, tidak terkecuali untuk produk terbaru bahan bakar aviasi (pesawat), yakni Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Kendati masih dalam tahapan rangkaian uji coba, Pertamina Patra Niaga berkomitmen mendukung penuh pengembangan SAF. Komitmen awal dukungan Pertamina Patra Niaga ini dilakukan melalui penerimaan sekitar 80.000 liter di Soekarno Hatta Aviation Fuel Terminal & Hydrant Installation (SHAFTHI) dari Cilacap.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Tangkap Peluang Transisi Energi

Target awal, SAF yang diterima ini akan digunakan untuk rangkaian tes, yang terakhir adalah untuk kebutuhan static test yang dilakukan pada mesin jet CFM56-7B yang biasa digunakan pada pesawat komersil di fasilitas Test Cell milik GMF Aeroasia sebesar 25.000 liter.

“Bertanggung jawab di sisi hilir, kami terus mempersiapkan sarfas [sarana dan fasilitas] dan kompetensi tim Pertamina Patra Niaga untuk menyalurkan SAF sebagai inovasi bahan bakar aviasi yang lebih baik bagi industri penerbangan,” jelas Maya Kusmaya, Direktur Pemasaran Pusat & Niaga PT Pertamina Patra Niaga, Kamis (3/8/2023).

Pengembangan produk SAF ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, ITB, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Lemigas, BRIN, Garuda Indonesia dan Garuda Maintenance Facility, serta Pertamina Group melalui Research & Technology Innovation (RTI), Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina Patra Niaga.

Baca juga: Perburuan Tiada Henti di Lapangan MNK Demi Target 1 Juta Barel

Dalam keterangan resminya, Maya menjelaskan bahwa static test SAF menunjukkan hasil yang baik karena tidak ditemukan perbedaan signifikan pada response engine dengan hasil tes bahan bakar aviasi Jet-A1 yang selama ini disalurkan Pertamina Patra Niaga.

“Artinya, kualitas SAF jika dilihat dari static test cukup serupa, sehingga bisa dilanjutkan ke tes selanjutnya, mulai dari Ground Test hingga Flight Test. Ini merupakan milestone terbaru pengembangan SAF mengingat pengujian sebelumnya hanya di pesawat militer. Kami akan mulai bergerak untuk di pesawat komersil, dan kami siap menyediakan SAF untuk seluruh rangkaian uji,” kata Maya.


Menurut dia, penyaluran SAF ini juga sudah masuk dalam agenda dunia, mengingat sejumlah bandara di dunia dan maskapai telah menggunakan SAF. “Penyaluran SAF menjadi langkah Pertamina Patra Niaga menyediakan bahan bakar aviasi yang lebih baik bagi kebutuhan industri penerbangan di Indonesia. Ini juga akan menjadi langkah Pertamina grup menjalankan program transisi energi sekaligus untuk mencapai target Net Zero Emission 2060,” tuturnya.

Sebagai gambaran, dalam Permen ESDM No12/2015 telah mengatur kewajiban pencampuran bahan bakar nabati dalam bahan bakar jenis avtur dengan persentase sebesar 3 persen pada 2020, dan akan meningkat menjadi bioavtur 5 persen pada 2025.

Baca juga: Kelangkaan LPG 3 Kg, Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan

Sejak 2014, Pertamina telah merintis penelitian dan pengembangan bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Cilacap. Hal itu juga dilakukan melalui kerja sama dengan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB) untuk mengonversi minyak inti sawit menjadi bahan baku bioavtur.

Setelah melalui perjalanan panjang dan serangkaian penelitian, pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia yakni CN235-220 berhasil melakukan uji terbang di Hanggar 2 PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. pada Rabu (6/10/2021).

Uji terbang pada pesawat CN235-220 tersebut merupakan sejarah baru karena menjadi penerbangan perdana dengan menggunakan bahan bakar nabati, yakni bioavtur 2,4 persen (J2.4). Adapun, uji terbang dilakukan dari Jakarta sampai ke Bandung.

Baca juga: Pamor Minyak Sawit di Tengah Pasokan Ketat Bahan Baku Biofuel

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif ketika itu menyebutkan bahwa pemerintah optimistis dan berkomitmen untuk terus mengembangkan bioavtur sampai nantinya bisa dihasilkan bioavtur murni atau J100 yang akan digunakan untuk seluruh maskapai penerbangan di Indonesia dan internasional.

“Kami harapkan dukungan dari semua pihak untuk tahap-tahap uji coba selanjutnya, termasuk roadmap untuk komesialisasinya,” kata Arifin.

ak bisa dimungkiri bahwa masih besarnya penggunaan energi fosil di Indonesia menjadi salah satu tantangan terberat dalam upaya melakukan transisi ke energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Namun, transisi energi merupakan suatu keniscayaan dan tak terelakkan meskipun untuk membangun infrastruktur energi yang berkeadilan dan terjangkau memang tidaklah mudah. 

Itu sebabnya, Pertamina Patra Niaga sebagai perusahaan yang ditugaskan untuk menyalurkan sumber energi terutama bahan bakar minyak (BBM) hingga ke pelosok negeri, juga terus berinovasi dan turut andil melakukan berbagai program transisi energi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.