Pertaruhan Titik Balik Industri Ritel Kuartal II/2022

Kinerja industri ritel modern saat ini masih belum bisa dibilang pulih. Dibutuhkan waktu sekitar satu semester agar sektor perdagangan eceran benar-benar pulih. Untuk saat ini, pengusaha masih dalam tahap transisi menuju tahun bisnis yang diharapkan lebih baik pada 2022.

Wike D. Herlinda*
Nov 15, 2021 - 11:08 AM
A-
A+
Pertaruhan Titik Balik Industri Ritel Kuartal II/2022

Pengunjung di department store/Bisnis

Bisnis, JAKARTA — Kinerja industri ritel modern diproyeksikan mencapai titik pembalikan mulai kuartal II/2022, seiring dengan optimisme pemulihan konsumsi masyarakat dan pelandaian kurva pandemi Covid-19 yang makin konsisten pada tahun depan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengatakan gejala transisi industri perdagangan eceran menuju babak pemulihan sejatinya sudah mulai terasa menginjak kuartal IV/2021.

“Namun, kinerja belum bisa dibilang pulih. Dibutuhkan waktu sekitar satu semester agar kinerja industri ritel benar-benar pulih. Untuk saat ini, kami masih dalam tahap transisi,” ujarnya saat dihubungi akhir pekan lalu.

Beberapa pelatuk optimisme perbaikan kinerja ritel modern, kata Roy, mencakup penanganan pandemi Covid-19 yang makin baik, distribusi vaksinasi yang makin meluas, serta kegiatan bisnis dan aktivitas masyarakat yang mulai diperlonggar.

Dengan demikian, menurut kalkulasi asosiasi, kinerja industri ritel modern pada kuartal IV/2021 setidaknya akan mampu mendekati pencapaian pada kuartal II/2021 atau saat penjualan eceran mampu bertumbuh sekitar 5,4%.

“Kuartal III/2021, pertumbuhan [PDB] kan turun ke level 3,5% dari 7,07% kuartal sebelumnya. Untuk kuartal IV/2021, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi [dari kuartal sebelumnya], meski tidak setinggi pencapaian kuartal II/2021,” tutur Roy.

Sejalan dengan itu, dia melanjutkan, asosiasi mengestimasikan industri ritel bisa tumbuh sekitar 5%—5,5% pada tiga bulan terakhir tahun ini.

SEGMEN

Dari sisi kinerja per segmen, Roy menyebut ritel modern format besar seperti toserba (department store) dan hypermarket digadang-gadang mencapai perbaikan performa yang signifikan pada tahun depan, setelah sempat mengalami keterpurukan terdalam sepanjang pandemi.

Pelonggaran aktivitas bisnis dan mobilitas masyarakat, lanjutnya, menjadi faktor pendorong utama bergairahnya kembali konsumsi masyarakat untuk barang-barang kebutuhan nonprimer yang menjadi segmen pasar ritel format besar.

“Barang-barang nonprimer ini kan segmennya di hypermarket dan department store, yang pangsanya adalah konsumen keluarga. Untuk diketahui, 60% pembeli ritel di Indonesia berasal dari segmen keluarga,” jelasnya.

Sekadar catatan, ritel format besar menjadi salah satu segmen yang paling tertekan di industri perdagangan eceran.

Laporan Nielsen Retail Audit menunjukkan kinerja ritel format hypermarket dan supermarket minus 10,1%, lebih dalam daripada penurunan 2019 sebesar 5,8%.

Sementara itu, pada kuartal I/2021, penurunan kinerja format ini mencapai 14,5% secara year on year (YoY).

Dari sisi korporasi, Vice President Corporate Communication PT Trans Retail Indonesia Satria Hamid sepakat kinerja industri ritel modern format besar mendapat angin segar dari pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kuartal IV/2021.

Dengan demikian, perusahaan optimistis dapat meraup kenaikan kinerja secara signifikan pada momentum Natal dan Tahun Baru, guna mengompensasi pelandaian penjualan nyaris sepanjang tahun.

“Kami sudah menyiapkan berbagai strategi, khususnya promo harga diskon untuk memaksimalkan kinerja penjualan pada kuartal terakhir tahun ini,” ujarnya.

Untuk tahun depan, Satria mengatakan korporasi pengelola jenama hypermarket Transmart itu akan bermanuver dengan strategi kolaborasi di dalam grup Trans Retail guna memperluas jangkauan pasar.

Perusahaan akan berkolaborasi intragrup untuk memaksimalkan pengalaman belanja pelanggan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Jadi, konsumen datang tidak hanya bisa berbelanja, tetapi juga ada areal bermain dan sebagainya. Dengan demikian, konsumen pun merasa kembali yakin akan keamanan dan kenyamanan berbelanja secara luring,” tuturnya.  

CT Group menggelar vaksinasi Sinovac gratis di gerai Transmart Carrefour/Istimewa 

Pengamat ritel sekaligus Staf Ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Yongky Susilo sebelumnya mengatakan ritel modern format besar harus mulai menerobos invoasi baru inovasi dan menyesuaikan format layanannya.

“Semua format [ritel modern], termasuk format besar, punya kesempatan untuk tumbuh. Namun sekali lagi, format besar harus evolusi mengikuti demand konsumen,” ujarnya.

Dia berpendapat permintaan konsumen setidaknya mencakup sejumlah aspek yakni kenyamanan (convenient), memberikan pengalaman (experiential), layanan cepat dan yang memberikan pengalaman rekreasi, wisata kuliner, dan pembelajaran.

Dengan ukuran luas yang besar, Yongky mengatakan, ritel format hypermarket dan department store sejatinya bisa mengakomodasi permintaan tersebut. Sayangnya, para pemain lama cenderung tak mengikuti perkembangan.

Melihat prospek ritel 2022 yang cukup positif, Yongky mengatakan pelaku usaha ritel format besar harus segera membenahi layanan yang cenderung belum berkembang.

Dia mengatakan peritel bisa memulai dengan menyediakan layanan kasir yang memadai demi mengantisipasi besarnya volume belanja.

“Belanja di ritel hypermarket cenderung dengan troli besar dan proses check out barang bisa lama, padahal konsumen tidak mau antre lama.”

Pelaku usaha juga bisa mulai mendiversifikasi layanan di dalam toko, seperti dengan mengadakan festival produk yang berpotensi menarik minat.

Selain itu, adopsi model integrasi restoran dan toko seperti yang dilakukan IKEA dan AEON dinilai Yongky juga memberi pengalaman berbelanja tersendiri bagi konsumen.

“Ganti look tempat makan seperti kantin di hypermarket dengan restoran kelas kafe. Harus ada makanan yang menjadi signature dari ritel tersebut sehingga dikejar pengunjung,” katanya.

Terakhir, peritel harus mulai meninggalkan budaya perang harga dan fokus membangun nilai.

Transformasi layanan yang diarahkan ke konsumen modern juga perlu dipertimbangkan agar ritel format besar tidak tertinggal.

Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar