Pertemuan Pertama TikTok-Uni Eropa Sejak Pelarangan Aplikasi

Pertemuan CEO Tiktok dengan Komisaris Uni Eropa merupakan pertemuan pertama sejak adanya larangan pejabat pemerintah menggunakan TikTok.

Crysania Suhartanto

6 Nov 2023 - 14.14
A-
A+
Pertemuan Pertama TikTok-Uni Eropa Sejak Pelarangan Aplikasi

CEO TikTok Shou Zi Chew menyampaikan paparan pada acara TikTok Southeast Asia Impact Forum 2023 di Jakarta. Bisnis/Arif Hermawan

Bisnis, JAKARTA – CEO aplikasi media sosial TikTok, Shou Zi Chew, akan mengunjungi Belgia untuk membahas perlindungan data dan disinformasi dengan Komisaris Uni Eropa.

Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama sejak Komisi Eropa dan sejumlah negara di Uni Eropa melarang pejabat pemerintah menggunakan TikTok di ponsel mereka. 

Mengutip bisnis.com yang melansir Bloomberg, topik diskusi antara Chew dan pemerintah Eropa diperkirakan akan mencakup Project Clover, sebuah proyek yang menyakinkan pemerintah jika TikTok tidak dapat mengakses data masyarakat di Eropa. 

Lebih lanjut, nantinya bahasan juga mencakup janji TikTok untuk membiarkan data-data di platform-nya akan diawasi oleh pihak ketiga. 

Baca juga: Menunggu Insentif Jaringan 4G hingga Tarif SJUT selain untuk 5G

Selain itu, mereka juga akan membahas aturan moderasi konten menjelang pemilihan parlemen Eropa. Lalu, perwakilan Uni Eropa juga diperkirakan akan membahas peraturan persaingan usaha di Eropa. 

Diketahui, yang mengikuti pertemuan ini bukan hanya CEO TikTok, melainkan juga Kepala Urusan Pemerintah Global Twitter, Nick Pickles.  

Nantinya petinggi dua media sosial tersebut akan bertemu dengan Wakil Presiden Vera Jourova, Komisaris Kehakiman Didier Reynders, dan Komisaris Pasar Internal Thierry Breton.


Aplikasi Tik Tok di Play Store


Sebagai informasi, sebelumnya TikTok sudah berencana meyakinkan pemerintah Eropa bahwa mereka adalah pemimpin industri dalam perlindungan data dan TikTok tidak mengambil data penggunanya, apalagi untuk kepentingan China.

Untuk membuktikan hal tersebut, TikTok sudah membangun satu pusat data di Dublin untuk menyimpan informasi tentang 150 juta pengguna TikTok dan kini tengah membangun dua pusat data lainnya di Irlandia dan Norwegia.

Baca juga: Jurus Kemenparekraf Dorong Investasi Asing Bisnis Pariwisata

“Pemerintah China tidak pernah meminta data kepada kami, dan jika mereka mau, kami akan menolaknya,” ujar Kepala Kebijakan TikTok Eropa Theo Bertram.

Lebih lanjut, TikTok juga sempat menyewa sebuah perusahaan di Inggris NCC Group Plc. untuk mengaudit dan mengontrol perlindungan data di Eropa. TikTok memastikan hanya karyawan yang disetujui yang dapat mengakses tipe data terbatas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.