Free

Perubahan Iklim, Investasi Real Estat Perlu Adaptasi Lebih Cepat

Investasi di bidang real estat oleh kalangan pengembang di seluruh belahan dunia harus melakukan proses adaptasi lebih cepat seiring dengan terjadinya perubahan iklim. Peluang investasi real estat baru kemungkinan muncul di daerah atau lingkungan yang lebih siap untuk menyerap guncangan dan tekanan

M. Syahran W. Lubis

28 Mar 2022 - 08.00
A-
A+
Perubahan Iklim, Investasi Real Estat Perlu Adaptasi Lebih Cepat

Ilustrasi green building atau properti hijau yang menjadi tuntutan bisnis real estat pada masa mendatang seiring dengan terjadinya perubahan iklim./Green Building Conserve Energy Future

Bisnis, JAKARTA – Industri real estat membuat kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir untuk memperhitungkan efek jangka panjang dari perubahan iklim. Namun, sektor investasi real estat perlu beradaptasi lebih cepat untuk memasukkan dimensi baru perubahan iklim yang akan berdampak pada pengambilan keputusan.

Lembaga penelitian internasional Urban Land Institute (ULI) bekerja sama dengan perusahaan investasi real estat global Heitman menerbitkan laporan “Migrasi Iklim dan Pengambilan Keputusan Investasi Real Estat” yang menyoroti dampak migrasi iklim, mengacu pada relokasi orang karena perubahan lingkungan, dan gangguan sosial, dan ekonomi yang ditimbulkannya.

Menurut laporan tersebut, ada dua alasan utama mengapa migrasi iklim secara langsung relevan dengan investasi real estat pada masa mendatang.

Pertama, migrasi iklim berkontribusi pada perubahan signifikan dalam permintaan real estat karena individu dan komunitas merespons perubahan kondisi lingkungan. Daerah perkotaan yang kurang mampu mengelola dampak perubahan iklim kemungkinan mengalami penurunan permintaan di pasar properti.

Akan tetapi, peluang investasi real estat baru kemungkinan muncul di daerah atau lingkungan yang lebih siap untuk menyerap guncangan dan tekanan iklim.


Menurut penelitian tersebut yang dikutip laman properti EdgeProp yang berbasis di Singapura, sejak 2019 kesadaran dan keterlibatan industri dengan risiko perubahan iklim bergeser. Industri ini mengembangkan pendekatan baru dan penilaian risiko fisik, revisi kriteria penjaminan investasi, dan praktik manajemen aset. 

Perbaikan lainnya juga termasuk bentuk-bentuk baru upaya kolaborasi lintas sektor dan tingkat masyarakat untuk meningkatkan ketahanan iklim dalam pembangunan dan kawasan perkotaan.

Namun, ULI mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem membuat hampir 31 juta orang mengungsi secara global pada 2020 dan sekitar 14 juta dapat mengungsi setiap tahun karena bencana alam yang tiba-tiba seperti angin topan, gempa bumi, dan banjir.

ULI juga mengutip penelitian oleh Christian Aid, badan amal yang berbasis di Inggris, yang menunjukkan bahwa tahun lalu kerugian bencana yang diasuransikan secara global melebihi ambang batas US$100 miliar untuk keempat kalinya dalam 5 tahun.

“Ini menggambarkan potensi perubahan besar di mana dan mengapa populasi akan ditempatkan atau dipindahkan di dunia yang berubah iklim,” kata ULI.

Kedua, perubahan iklim juga meningkatkan kebutuhan industri untuk segera mengadopsi pendekatan investasi real estat proaktif yang mempromosikan adaptasi perubahan iklim yang efektif, efisien, dan adil di tingkat pasar dan aset.

Kegiatan investasi yang berkelanjutan di daerah-daerah yang lebih mungkin mengalami penurunan populasi karena gangguan terkait dengan iklim menimbulkan risiko investasi langsung.

Menurut ULI, perubahan iklim, dan pengaruhnya serta tata kelolanya, tidak pasti dan secara geografis bervariasi, terutama ketika dianalisis dalam konteks investasi jangka panjang. Dengan demikian, migrasi iklim perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan investasi real estat.

Biaya Risiko Iklim

Laporan itu menyebutkan pula bahwa penilaian risiko iklim semakin menjadi praktik standar dalam pengambilan keputusan investasi real estat. Ini bisa dimulai dengan menyaring portofolio terhadap serangkaian risiko iklim seperti banjir atau kebakaran hutan. Penilaian risiko kemudian memeriksa bukti aset yang ada atau layak dan langkah-langkah manajemen risiko masyarakat.

Banyak anggota ULI berbagi bahwa mereka telah memulai proses mengidentifikasi bagaimana mereka dapat mengatasi dan memprioritaskan tantangan tersebut dalam kaitannya dengan pasar investasi utama dengan eksposur risiko fisik yang tinggi.

“Ke depan, mereka berharap untuk membuat sistematisasi atas proses penelitian ini, yang mungkin mencakup keluaran standar yang dapat digunakan oleh tim akuisisi dan manajemen aset untuk memantau risiko iklim di pasar paling rentan tempat mereka berinvestasi,” ungkap ULI.

Lembaga penelitian itu mengatakan beberapa hal awal yang dapat ditanyakan investor kepada diri mereka sendiri adalah apakah aset tersebut dilindungi oleh infrastruktur lokal dan langkah-langkah ketahanan dan apakah ada kapasitas adopsi tingkat pasar yang memadai.


Kapasitas adopsi mengacu pada kemampuan lembaga berbasis tempat untuk mengurangi risiko iklim dan menerapkan strategi adaptasi yang efektif. Hal ini juga dapat berhubungan dengan kapasitas fiskal masyarakat untuk membiayai risiko melalui pungutan pajak properti, subsidi, dan transfer pemerintah.

Beberapa faktor lokal di luar kapasitas fiskal dan akses ke modal menambah lapisan kompleksitas lain yang memengaruhi cara masyarakat menavigasi adaptasi iklim. Sebagai contoh, proyek pengembangan masyarakat dan pedoman perencanaan dapat memungkinkan pembangunan bermasalah di daerah rentan yang meningkatkan eksposur ekonomi jangka panjang terhadap risiko iklim.

“Ada developer membangun di dataran banjir. Mereka menambah bermil-mil jalan yang tak perlu mereka bayar untuk meninggikan atau memeliharanya. Lalu negara harus membayar pemeliharaanya. Mereka membangun di area banjir dan membangun aset baru yang harus dibayar pihak lain untuk memelihara dan beradaptasi,” kata satu anggota ULI yang tak disebutkan namanya dalam laporan itu.

Sebagian besar anggota ULI, ketika membahas tantangan kapasitas adaptif yang dihadapi oleh kota-kota, mengutip Singapura dan Belanda sebagai negara yang mereka yakini akan memiliki posisi yang lebih baik untuk menyerap guncangan dan tekanan iklim, karena ada kerangka kerja strategi iklim yang kuat yang menawarkan peluang investasi yang relatif aman.

Laporan itu pun menyoroti bahwa diskusi investor tentang migrasi iklim cenderung berfokus pada tempat-tempat yang kemungkinan besar akan terpengaruh secara merugikan oleh tekanan iklim dan arus mobilitas keluar daripada daerah dan wilayah yang mungkin tumbuh dan berkembang lebih lanjut.

“Kami tidak menempatkan premi pada aset yang lebih tinggi saat ini, jadi kami mungkin lebih fokus pada risiko penurunan iklim,” kata seorang eksekutif senior di satu perusahaan investasi internasional besar.

ULI mengatakan “kekhawatiran besar” dengan sisi negatif dari risiko iklim berasal dari beberapa faktor pengambilan keputusan. Ini termasuk kebutuhan untuk membuat keputusan investasi jangka pendek tentang akuisisi saat ini atau yang potensial di pasar dengan eksposur tinggi dan ketidakpastian yang berkaitan dengan ilmu iklim jangka menengah hingga jangka panjang.

Hal itu kontras dengan strategi top-down untuk mengembangkan daerah yang dapat menyerap apa yang disebut pengungsi iklim pada masa mendatang. Misalnya, Belanda telah mulai mempelajari cara-cara untuk mengalihkan populasi dan investasi dari daerah rawan banjir yang berisiko tinggi ke daerah dataran tinggi yang lebih aman.

ULI juga menyentuh Indonesia yang disebutkannya sedang menyelesaikan rencana untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke kota baru bernama Nusantara di Kalimantan, mengingat perjuangan kronis yang pertama dengan banjir, subsisten tanah, dan perluasan kota dan tantangan lingkungan lainnya.

Konsep forest city diterapkan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara./Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Model Usang

Sebagian besar investor yang diajak bicara oleh ULI untuk menyusun laporan tersebut mengakui pentingnya risiko iklim dan migrasi sebagai penentu penting kinerja pasar dan laba atas investasi. Tetapi mereka baru mulai mengintegrasikan isu-isu tersebut ke dalam proses pengambilan keputusan mereka.

Seorang responden yang tidak disebutkan namanya dari satu perusahaan investasi properti internasional besar menyatakan bahwa bagi investor, ini merupakan waktu yang menantang karena semua indikator dan model tradisional ini menunjukkan kesimpulan yang mungkin berbeda dari cara berpikir yang berpusat pada iklim tentang migrasi.

ULI selanjutnya mengungkapkan pula bahwa dinamika pasar yang ada juga terus mendorong investasi di, dan selanjutnya kembali dari, banyak wilayah yang paling terpapar risiko iklim. 

Ini menjadi tantangan sistemik dan bukan spesifik sektor, mengingat banyak faktor yang memengaruhi migrasi manusia dan tingkat keseluruhan perubahan iklim serta dampaknya.

Ilustrasi properti "hijau"./UK Green Building Council

Dengan demikian, kata ULI, pendekatan industri tertentu mungkin perlu dilengkapi dengan metodologi penelitian dan indikator kinerja untuk membuat lintasan jangka panjang yang tepat untuk investasi real estat.

Ringkasnya, ULI dan Heitman percaya bahwa hal ini memerlukan perubahan perspektif dari pandangan yang berpusat pada aset ke penilaian tingkat pasar terhadap faktor pendorong risiko dan ketahanan.

Lembaga yang bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat, itu memberi kesimpulan bahwa kepemimpinan dari industri real estat dan komunitas investasi di sektor tersebut akan menjadi kunci dalam adopsi luas dari pendekatan sosial yang efektif dan adil untuk aksi iklim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.