Perubahan Para Emiten yang Masuk MSCI Small Cap

MSCI memasukkan saham Grup Bakrie-Salim PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan Grup Alfamart PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) ke MSCI Small Cap Indexes List.

Hafiyyan

13 Feb 2024 - 17.52
A-
A+
Perubahan Para Emiten yang Masuk MSCI Small Cap

Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti.

Bisnis, JAKARTA – Morgan Stanley mengumumkan perombakan sejumlah saham indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang juga mencakup saham-saham tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Beberapa di antaranya adalah BUMI, MIDI, dan CUAN

MSCI mengumumkan adanya perubahan anggota indeks pada Senin (12/2/2024). Semua perubahan akan dilakukan pada 29 Februari 2024, dan berlaku efektif mulai perdagangan 1 Maret 2023.

Peninjauan Indeks selanjutnya dilakukan pada Mei 2024, tepatnya tanggal pengumuman 14 Mei 2024, dan tanggal mulai berlaku pada 3 Juni 2024.

MSCI memasukkan saham Grup Bakrie-Salim, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan Grup Alfamart, PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) ke dalam MSCI Small Cap Indexes List.

Baca juga: Dinamika IHSG & Prospek Sektor Saham Menanti Hajatan Pemilu 2024

Di sisi lain, MSCI mendepak saham milik Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) dari MSCI Small Cap Indexes List.

MSCI merupakan singkatan dari Morgan Stanley Capital International, yaitu indeks saham yang diluncurkan oleh sebuah lembaga riset internasional Morgan Stanley.

MSCI juga merupakan perusahaan penyedia indeks saham dan obligasi yang sudah terkenal di seluruh dunia. Secara tidak langsung, MSCI berguna untuk mengukur kinerja pasar di sebuah wilayah yang sudah ditetapkan sesuai dengan standar perhitungan MSCI.

Secara teoritis, ketika suatu saham masuk indeks MSCI, hal ini seringkali menandakan peningkatan likuiditas dan perubahan persepsi pasar terhadap saham tersebut. 

Inklusi dalam indeks global seperti MSCI memberi sinyal positif kepada investor internasional dan domestik, menunjukkan bahwa saham tersebut telah memenuhi standar tertentu dalam hal kinerja dan stabilitas.

 

 

Akibatnya, saham tersebut cenderung mengalami peningkatan volume perdagangan karena banyak manajer investasi (MI) yang mengikuti indeks ini akan mulai memasukkan saham tersebut dalam portofolio mereka. Sebagai contoh, Indeks MSCI dapat menjadi produk reksa dana indeks ataupun exchange traded fund (ETF) yang dikelola MI.

Hal ini juga dapat meningkatkan kredibilitas dan visibilitas emiten di mata investor, potensial untuk peningkatan nilai saham karena permintaan yang meningkat, serta diversifikasi investor yang lebih luas, termasuk investor asing dan institusional.

Baca juga: Saham BUMI-MIDI Masuk MSCI Small Cap, CUAN Terdepak

Namun demikian, risiko juga ada. Masuknya suatu saham ke dalam indeks prestisius ini juga dapat membawa volatilitas harga yang lebih tinggi. Peningkatan minat dan aktivitas perdagangan seputar saham tersebut, khususnya menjelang dan sesaat setelah pengumuman inklusi, dapat menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan.

Untuk masuk ke dalam indeks MSCI, sebuah saham harus memenuhi serangkaian kriteria yang mencakup kapitalisasi pasar yang besar, tingkat likuiditas yang tinggi, dan aksesibilitas bagi investor internasional.

MSCI menilai likuiditas berdasarkan frekuensi dan volume perdagangan, memastikan bahwa saham tersebut diperdagangkan secara aktif dan dapat diakses dengan mudah oleh investor di seluruh dunia. Selain itu, saham tersebut harus sesuai dengan klasifikasi sektor dan geografis yang ditentukan oleh MSCI.

 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.