Pesimisme tentang Garuda Menyurut

Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan tidak ingin maskapai nasional tersebut bangkrut. Menurutnya, pemerintah mencari penyelesaian utang, baik di luar proses pengadilan maupun melalui proses pengadilan.

Amanda Kusumawardhani & Anitana Widya Puspa

4 Nov 2021 - 23.59
A-
A+
Pesimisme tentang Garuda Menyurut

Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Yogyakarta./Antara

Bisnis, JAKARTA – Sikap Kementerian BUMN mendadak berubah dengan berharap negosiasi PT Garuda Indonesia dengan para lessor pesawat mencapai kata sepakat pada kuartal II/2022.

Sikap ini lebih lunak dibandingkan dengan sebelumnya yang terlihat pesimistis pada negosiasi Garuda dengan lessor dan kreditur serta membuka opsi memailitkan maskapai flag carrier yang kini merugi US$2,44 miliar itu. Bahkan, kementerian itu merancang Pelita Air Service (PAS), maskapai anak perusahaan PT Pertamina (Persero), mengisi pasar penerbangan berjadwal yang ditinggalkan Garuda kelak.

Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo, Rabu (3/11/2021), mengatakan tidak ingin maskapai nasional tersebut bangkrut. Menurutnya, pemerintah mencari penyelesaian utang, baik di luar proses pengadilan maupun melalui proses pengadilan. Dia juga mengatakan saat ini manajemen tengah dalam pembicaraan dengan kreditur untuk merestrukturisasi utang

"Kami sedang bernegosiasi dengan banyak pihak dengan kebutuhan yang berbeda sehingga preferensi mereka bervariasi," ujarnya.

Sementara itu, dikutip Bisnis.com dari Bloomberg, Kamis (4/11/2021), Garuda membutuhkan setidaknya tambahan Rp14,32 triliun atau US$1 miliar untuk membayar utangnya dan tetap bertahan.  Kartika mengatakan Garuda sedang dalam pembicaraan dengan kreditur untuk merestrukturisasi utang senilai US$6,3 miliar. Maskapai pelat merah ini telah menyiapkan sejumlah opsi dalam negosiasi utang, termasuk beralih ke instrumen seperti obligasi konversi wajib atau pinjaman bank tanpa kupon.

“Saya harus menggarisbawahi pemerintah tidak ingin memailitkan Garuda,” katanya.

Ketika negoisasi restrukturisasi rampung, Garuda disebutnya akan mengumpulkan US$1 miliar untuk membayar kewajibannya dan untuk modal kerja. Dengan kebutuhan pembiayaan cukup besar, pemerintah mulai berpikir realistis dan membuka kemungkinan investor swasta untuk menjadi pemilik mayoritas.

“Kami terus melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak,” jelasnya.

Menurutnya, Garuda Indonesia harus memangkas utangnya di kisaran 70%-80% supaya dapat bertahan. Per akhir Juni tahun ini, laporan keuangan menunjukkan perseroan memiki ekuitas negatif senilai US$2,8 miliar.

Selain warisan salah urus, kondisi pandemi Covid-19 membuat Garuda Indonesia memiliki ekuitas negatif. Perseroan harus bergabung dengan sejumlah maskapai penerbangan luar negeri yang bernasib serupa. Airasia Group Bhd menawarkan untuk membayar hanya 0,5% dari utangnya yang saat ini lebih dari US$8 miliar. Tak jauh berbeda, Philippines Airlines Inc. mengajukan pailit di New York pada September.

Kartika menambahkan persoalan yang membelit Garuda Indonesia cukup unik karena selain pandemi, maskapai ini juga sensitif dengan fluktuasi mata uang dan harga minyak mentah. Berdasarkan skenario terburuk pemerintah, Garuda akan mengajukan perlindungan pengadilan jika semua negosiasi gagal.

“Tantangan untuk Garuda ini ada di skala 9,5 dari skala 1-10. Kami kehilangan harapan saat ini,” ujarnya.

SITUASI PELIK

Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan saat ini Garuda berada dalam situasi pelik karena usaha negosiasi ulang dengan para lessor membutuhkan kerja yang ekstra.

"Sejauh ini, langkah terbaik yang didorong adalah penyelamatan melalui negosiasi ulang dengan para lessor. Hal tersebut yang kami lihat sedang diupayakan manajemen Garuda Indonesia saat ini. Itu membutuhkan waktu panjang karena ada puluhan lessor" katanya.

Toto juga mengatakan Garuda masuk pada situasi terburuk yang belum pernah dialami. Era buruk pernah dialami ketika Robby Djohan masuk sekitar awal 2000-an, menghadapi Garuda Indonesia yang terpuruk karena salah urus.

Situasi saat ini lebih kompleks karena selain ’warisan’ salah urus manajemen, Garuda Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 yang memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha industri penerbangan di mana pun. Menurutnya, Garuda membutuhkan upaya restrukturisasi yang radikal.

Sementara itu, pemerhati penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soedjatman mengatakan memmailitkan Garuda bukan jalan keluar. Menurutnya, tidak mudah bagi maskapai lain menggantikan Garuda karena maskapai ini memiliki sarana prasarana yang sangat besar, yang tidak sebanding dengan maskapai lain, misalnya Pelita Air.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, sebelumnya juga berpendapat Pelita Air akan menghadapi tantangan berat jika mendadak harus mengembangkan bisnisnya secara ekstrem menjadi maskapai utama. Tantangan itu mencakup permodalan, armada, SDM, dan organisasi.

“Akan lebih baik jika Pelita Air bertransformasi secara bertahap daripada mengembangkan bisnis secara ekstrem.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Sri Mas Sari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.