Free

PGN (PGAS) Targetkan Bangun 117.701 Jaringan Gas Tahun Ini

Khusus untuk rencana pembangunan 117.701 sambungan rumah (SR) dalam program jaringan gas (jargas) kota pada tahun ini, PT Pertamina Gas Negara Tbk. atau PGN menetapkan sebagian besar investasi untuk jargas tersebut dilakukan di Pulau Sumatra dan Jawa.

Stepanus I Nyoman A. Wahyudi & Ibeth Nurbaiti

20 Feb 2024 - 14.17
A-
A+
PGN (PGAS) Targetkan Bangun 117.701 Jaringan Gas Tahun Ini

Petugas melakukan pemeriksaan jaringan pipa gas Perusahaan Gas Negara (PGN) di Cirebon, Jawa Barat Senin (17/10). PGN bakal membangun 117.701 sambungan rumah tangga pada tahun ini, yang sebagian besar investasi untuk jargas ini dilakukan di Pulau Sumatra dan Jawa. JIBI/Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis, JAKARTA — PT Pertamina Gas Negara Tbk. atau PGN sebagai perusahaan yang ditugaskan menjalankan program jaringan gas (jargas) rumah tangga menargetkan pembagunan 117.701 jaringan gas kota pada tahun ini.

Kendati memiliki keterbatasan kemampuan dalam pembangunan infrastruktur jargas, Subholding Gas PT Pertamina (Persero) itu telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) khusus untuk mendukung rencana pembangunan 117.701 jaringan gas tersebut. 

Secara keseluruhan, emiten berkode saham PGAS itu menganggarkan capex sebesar US$227 juta setara dengan Rp3,54 triliun (asumsi kurs Rp15.620 per dolar AS) untuk program kerja di sektor hilir perseroan tahun ini.

“Komponen hilir, capex-nya sebesar US$227 juta karena ada pemanfaatan untuk program hilir lainnya,” kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama saat dikonfirmasi, Senin (19/2/2024). 

Khusus untuk rencana pembangunan 117.701 sambungan rumah (SR) pada tahun ini, imbuhnya, sebagian besar investasi untuk jargas tersebut dilakukan di Pulau Sumatra dan Jawa. “Target PGN tahun 2024 adalah 117.701 sambungan untuk kami selesaikan dengan sebaran di Pulau Sumatra dan Jawa,” ujarnya. 

Sebagaimana diketahui, pada akhir tahun lalu pemerintah memangkas target pembangunan jargas dari semula dipatok 4 juta SR menjadi 2,5 juta SR hingga akhir 2024 nanti. Keputusan itu diambil dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo atau Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (12/10/2023).

Di sisi lain, pemerintah memutuskan untuk memberikan insentif harga gas dari hulu dengan ketetapan maksimal US$4,72 per MMBtu bagi pengembang. Kendati demikian, Rachmat mengatakan perseroannya masih berkoordinasi dengan pemerintah untuk target pembangunan jargas lainnya seiring dengan revisi kebijakan akhir tahun lalu tersebut. 

“Selebihnya, kami masih berkoordinasi dengan pemerintah untuk kebijakan yang akan mendetilkan revisi target tersebut,” ujarnya.

Baca juga:

ESDM akan Lelang 280.000 Jaringan Gas di Kota Batam pada Juli 2024

Pintu Masuk Investor Asing di Proyek Jargas Terbuka Lebar

Napas Tambahan Proyek Jargas, dari Insentif Harga Gas—Dana APBN

Pemerintah Siapkan Insentif untuk Swasta-PGAS Bangun Jargas

Asa PGAS Dapatkan 'Pelumas' Proyek Jargas

Urgensi Monetisasi Potensi Jumbo Gas Bumi di Era Transisi Energi

Proyek Pipanisasi Gas Bumi Terkoneksi dari Aceh—Jawa Dikebut

Sebagai gambaran, hingga akhir 2023 jargas rumah tangga yang sudah terpasang mencapai 900.000 SR. Dari jumlah tersebut, sebagian besar didominasi pendanaan yang berasal dari APBN sebanyak 703.308 SR, dan sisanya dibangun melalui penugasan pemerintah kepada PGN.


Besarnya biaya penyambungan jargas langsung ke rumah warga menjadi salah satu kendala yang membuat lambannya program tersebut. Untuk saat ini, setidaknya dibutuhkan biaya sekitar Rp10 juta untuk pembangunan satu SR. 

Di sisi lain, pemerintah menargetkan mampu membangun 1 juta SR setiap tahunnya untuk mengurangi impor LPG secara signifikan. Sementara itu, pemerintah telah memutuskan untuk tidak lagi menganggarkan pendanaan dalam APBN untuk pembangunan jargas rumah tangga sejak 2022.

Sejalan dengan itu, pemerintah pun melakukan sejumlah perbaikan, mulai dari menyiapkan insentif harga gas hingga memberikan kesempatan kepada perusahaan swasta nasional maupun asing untuk dapat ikut terlibat dalam pengerjaan salah satu proyek strategis nasional (PSN) tersebut.

Namun, sebelum keran investasi swasta dibuka lebar, pemerintah lebih dahulu mematangkan muatan kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dalam revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Gas Bumi Melalui Jaringan Transmisi dan/atau Distribusi Gas Bumi Untuk Rumah Tangga dan Pelanggan Kecil.  

Ariana Soemanto, Kepala Lemigas Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah terus mendorong pemanfaatan gas bumi melalui berbagai program, termasuk jargas dan juga compressed natural gas (CNG). 

Selain akan mendekatkan akses energi kepada masyarkat, jelasnya, pengoptimalan pemanfaatan gas gumi dalam negeri itu diyakini juga berpotensi mengurangi subsidi dan impor gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG).

“Jargas yang telah terpasang saat ini sekitar 900.000 sambungan rumah. Jika jumlah jargas tersebut diasumsikan menggantikan LPG 3 kg, maka setara dengan penghematan subsidi LPG sekitar Rp1,6 triliun dan penghematan devisa sekitar US$140 juta,” kata Ariana, Senin (12/2/2024). 

PENURUNAN EMISI

Selain itu, berdasarkan kalkulasi Lemigas, terdapat penurunan emisi dari penggunaan gas dalam bentuk gas pipa serta CNG dibandingkan dengan penggunaan LPG. Dengan demikian, makin menguatkan posisi gas sebagai pilihan utama di era transisi energi.

“Yang juga penting bahwa pemanfaatan gas bumi tersebut [jargas] akan menurunkan emisi sekitar 12% dibanding LPG. Di sektor industri, pemanfaatan gas bumi (compressed natural gas/CNG) yang umumnya mensubstitusi solar, akan menurunkan emisi sekitar 23%,” kata Ariana.

Untuk 2023, pemerintah mencatat realiasasi pemanfaatan gas bumi untuk dalam negeri telah mencapai 68,2% dan sisanya untuk ekspor. Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, menyatakan pemerintah berkomitmen agar konsumen gas di dalam negeri bisa terus meningkat.

Berdasarkan data realisasi 2023, pemanfaatan gas bumi untuk dalam negeri sebesar 3.745 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) atau 68,2%. Pemanfaatan gas bumi dalam negeri tersebut mayoritas dialokasikan untuk sektor industri sebesar 1.516 MMscfd, sedangkan untuk jargas sekitar 16 MMscfd.

“Pemanfaatan gas dalam negeri saat ini sudah mencapai 68,2%. Jadi dua per tiganya untuk dalam negeri, terutama untuk kebutuhan industri,” kata Tutuka.

Mengacu pada Surat Edaran Menteri Keuangan No. SE-852/MK.02/2008 tanggal 10 Juli 2008 yang dikutip dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), program jargas kota untuk rumah tangga merupakan kegiatan prioritas nasional dari sub sektor migas.


Jargas merupakan program komplemen dalam rangka diversifikasi energi untuk mempercepat pengurangan penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar sehingga dapat membantu terwujudnya kemandirian energi.

Selain itu, masyarakat juga dapat memperoleh sumber energi rumah tangga yang lebih murah, bersih, dan aman. Ketika program itu pertama kali diluncurkan, pemanfaatan gas bumi untuk rumah tangga melalui program jargas diharapkan dapat menghemat penggunaan minyak tanah sebanyak 2,8 juta liter atau ekuivalen dengan Rp1 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.