Pilah-Pilah Saham CPO Dari Emiten Grup Astra Hingga TP Rachmat

Emiten perkebunan kelapa sawit atau crude palm oil/CPO cukup diuntungkan dengan dibuka kembalinya keran ekspor CPO dan produk turunannya. Sejumlah emiten mengalami peningkatan harga saham. Siapa saja masuk daftar saham CPO yang paling prospektif?

Asteria Desi Kartikasari
May 25, 2022 - 9:16 AM
A-
A+
Pilah-Pilah Saham CPO Dari  Emiten Grup Astra Hingga TP Rachmat

Kebun Sawit. /Sinar Mas Agribusiness

Bisnis, JAKARTA—  Pembukaan kembali keran ekspor produk turunan kelapa sawit  menjadi salah satu suntikan tenaga atau booster  bagi laju saham-saham produsen crude palm oil/CPO di lantai bursa.  Lantas, siapa yang masuk daftar saham CPO yang paling diuntungkan?

Prospek ke depan, emiten komoditas tersebut masih dibayangi harga CPO yang bertahan di level tinggi, aturan kewajiban pasok domestik, dan potensi pertumbuhan permintaan pasar luar negeri.

Presiden Joko Widodo telah  mengumumkan ekspor produk minyak sawit akan kembali dibuka mulai Senin (23/5/2022), mayoritas saham emiten-emiten perkebunan mendarat di zona hijau pada perdagangan akhir pekan lalu. 

Pekan lalu, penguatan dipimpin oleh saham PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) yang menguat 8,33 persen, disusul saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) yang naik 7,14 persen, dan saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) tumbuh 5,94 persen pada Jumat (20/5/2022).

Jika ditarik mundur saat pelarangan ekspor CPO diberlakukan, keputusan tersebut berimbas pada tumbangnya saham komoditas tersebut.   Berdasar catatan Bisnis, pada perdagangan bulan lalu (24/4/2022), mayoritas saham emiten sektor perkebunan terkoreksi 

Sebut saja saham DSNG, sempat anjlok hingga 3,23 persen ke level 600. Menyusul PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) dan AALI turut melemah masing-masing sebesar 2,85 persem dan 2,33 persen.

Selanjutnya, saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) bergerak turun 1,2 persen pada level harga Rp494 disusul oleh PT Mahkota Group Tbk (MGRO) dengan koreksi 0,56 persen dengan harga Rp890

Sementara itu, Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) tercatat melemah 0,22 persen ke posisi Rp4.600. Adapun, PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) dan PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) terpantau stagnan hingga penutupan perdagangan sesi I. Sebaliknya, saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) terpantau menguat 2,31 persen ke level Rp665.

Meskipun setelah Presiden Jokowi mengumumkan kembali pembukaan keran ekspor CPO dan produk turunan langsung disambut positif pasar, hingga mendongkrak harga saham hingga pekan lalu. Namun pada perdagangan Rabu, (25/5/2022) mayoritas saham CPO bergerak ke zona merah, sepert PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Dharma Satya Nusantar Tbk. (DSNG),  PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), hingga PT Providen Agro Tbk. (PALM). Meskipun penurunan tersebut terhitug tidak signifikan jika dibandingkan saat pengumuman pelarangan ekspor. 

Meski begitu, meyoritas saham di sektor tersebut telah membukukan return positif secara year-to-date (YtD). Saham CPO afiliasi Grup Astra tersebut naik 27,89 persen (YtD). Kemudian DSNG telah tumbuh sebesar 13 persen. 

Saham PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) masuk dalam daftar saham CPO yang mengalami peningkatan tertinggi secara YtD yakni sebesar 62 persen sepanjang tahun berjalan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny berpendapat larangan ekspor CPO sudah diprediksi akan berlangsung singkat sekitar 1 bulan. Langkah itu merupakan upaya Pemerintah memastikan pasokan bahan baku minyak goreng dan menurunkan harga minyak goreng curah menuju Rp14.000 per liter.

Sepanjang penutupan ekspor, lanjut Kenny, harga CPO di Bursa Malaysia bertahan di atas 6.000 ringgit per ton. Hal itu terjadi ketika nilai tukar dolar terhadap sejumlah mata uang global menguat dengan indikator Dollar Index menembus 104.

Sementara itu, harga tandan buah segar dan CPO diproyeksi kembali ke level sebelum larangan ekspor berlaku.

“Pencabutan larangan ekspor menjadi pendorong besar bagi semua pemain sawit. AALI menjadi yang paling diuntungkan karena memiliki porsi ekspor dan domestik sebesar 50:50 terhadap total volume penjualan,” tulisnya dalam risetnya dikutip Rabu (25/5/2022).

Sentimen tambahan, Kenny memaparkan produksi kedelai Amerika Serikat berisiko terpukul akibat La-Nina. Akibatnya harga komoditas bahan baku minyak nabati itu juga diestimasi merangkak naik.

Di sektor perkebunan kelapa sawit, analis Henan Putihrai Sekuritas Robertus Hardy dan Alroy Soeparto menyoroti tiga emiten, yakni PT Sumber Tani Agung Tbk (STAA,) DSNG, dan PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG).

Menurut Robertus dan Alroy, prospek STAA didorong oleh kenaikan produksi dan yield sawit. Selain itu, STAA juga sedang merampungkan refinery terintegrasi, tangki penyimpanan, dan pelabuhan di Lubuk Gaung.

“Kami juga menyukai STAA karena memiliki EBITDA per total area tertanam yang superior sebesar Rp39,1 juta. Posisi itu lebih tinggi dari AALI Rp15 juta dan LSIP Rp14,2 juta,” paparnya dalam riset.

Sementara itu, DSNG dinilai berpeluang untuk memulihkan volume produksi pada tahun ini. Perseroan juga disebut memiliki profil kebun berusia lebih muda dibanding kompetitornya, serta memiliki komitmen terhadap prinsip keberlanjutan dan ESG.

Robertus dan Alroy mengatakan TAPG memiliki katalis positif dari sisi potensi produksi yang lebih tinggi di masa mendatang setelah tanaman muda menjadi siap panen.

“Kami proyeksi pendapatan TAPG pada 2022 dapat tumbuh 11,2 persen dan EBITDA naik 12,4 persen secara tahunan didorong oleh harga CPO dan volume produksi yang lebih tinggi, serta antisipasi operasionala dua tambahan pabrik,” paparnya.

Ketiga saham tersebut mendapat rekomendasi beli dari Henan Putihrai Sekuritas. Adapun, harga saham STAA ditargetkan ke level Rp1.000, DSNG Rp850, dan TAPG menuju Rp900 per saham.


EKSPANSI

Dengan prospek positif yang dimiliki emiten CPO, sejumlah emiten juga telah menyiapkan strategi ekspansi, misalnya TAPG, emiten perkebunan milik konglomerat TP Rachmat tersebut berencana  terus melebarkan sayap bisnis ke penghiliran sawit.

Presiden Direktur TAPG Tjandra Karya Hermanto mengatakan perseroan sedang mempertimbangkan untuk menambah fasilitas penyulingan (refinery).Rencana itu ditopang oleh usia mayoritas tanaman sawit perseroan yang berada pada umur produktif, yakni rata-rata 11,3 tahun per 31 Desember 2021.

“Kebun kami saat ini sudah mencukupi sehingga jika memiliki refinery, dapat memberikan nilai tambah hasil produksi perusahaan yang bisa dijual,” jelasnya dalam paparan publik, Selasa (24/5/2022)

TAPG tengah mengkaji dua opsi untuk menambah fasilitas tersebut. Opsi pertama, membangun pabrik penyulingan sendiri. Proses pembangunan membutuhkan waktu 1-1,5 tahun. Opsi kedua, bermitra dengan perusahaan lain. Jika perusahaan memilih jalan ini, pembangunan fasilitas tersebut akan lebih cepat dibandingkan dengan opsi pertama.

TAPG sedang membangun pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan Timur berkapasitas 30 ton per jam. Pabrik itu ditargetkan beroperasi pada kuartal II/2022. Perseroan juga tengah membangun satu unit pabrik PKO dengan Biogas di Kalimantan Tengah yang berkapasitas 300 ton per hari. Pabrik ini ditargetkan beroperasi paruh kedua tahun ini.

Tahun ini TAPG menganggarkan belanja modal Rp570 miliar yang sebagian besar digunakan untuk membangun infrastruktur di sekitar pabrik kelapa sawit.

Sebanyak 61 persen dari capital expenditure (capex) akan digunakan untuk pembuatan jalan dan perumahan pada fasilitas pendukung pabrik. Berikutnya, sebanyak 19 persen digunakan untuk pembangunan PKS di Kaltim.“Sebanyak 15 persen dialokasikan untuk replanting, dan keperluan lain-lain sebanyak 5 persen,” kata Tjandra.

Triputra Agro mengantongi laba bersih Rp1,19 triliun pada 2021, naik 29 persen dari tahun sebelumnya. Sebanyak Rp496,31 miliar di antaranya akan dibagikan kepada pemegang saham.

Pekerja mengumpulkan buah kelapa sawit di salah satu tempat pengepul kelapa sawit di Jalan Mahir Mahar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara/Makna Zaezar

Sementara emiten perkebunan sawit lainnya,  PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS)memproduksi 444.720 metrik ton CPO sepanjang 2021 turun sebesar 0,77 persen dibandingkan produksi 2020 sebanyak 448.185 metrik ton. 

Sebagai informasi, hasil tersebut berada di bawah target produksi yang dicanangkan sebesar 527.425 metrik ton. Manajemen perseroan mengakui   penurunan ini terjadi  karena pembelian tandan buah segar dari luar yang cukup banyak, serta curah hujan yang tinggi. Hal itu berpengaruh terhadap proses pemupukan tanaman yang menganggu produktivitas. Produktivitas tanaman SSMS termasuk pada usia muda dengan rata-rata berusia 13 tahun. 

Meski demikian, Direktur Utama SSMS Nasarudin Bin Nasir menjelaskan masih mampu mempertahankan kinerja. “Seiring kondisi ekonomi global dan nasional yang mulai pulih dari dampak pandemi Covid-19, Perseroan tidak hanya berhasil mempertahankan kinerja yang positif, melainkan mampu memberikan pencapaian yang lebih. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan volume dari sisi penjualan tumbuh 29,72 persen yoy mencapai Rp5,20 triliun,” katanya.

Di sisi lain perusahaan juga bersiap membawa anak usahanya, PT Citra Borneo Utama (CBU) melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO Direktur SSMS Jap Hartono mengatakan, proses membawa CBU melantai di bursa masi terus berjalan.

Dia mengatakan, besaran nominal harga yang akan ditawarkan nantinya bergantung pada selera pasar. Selain itu, pihaknya akan membawa CBU melakukan IPO dengan menggunakan kinerja keuangan hingga kuartal I/2022, berubah dari rencana sebelumnya yakni dengan memakai kinerja keuangan tahun buku  Desember 2021.
 
 (Reporter: Ika F. Ramadhansari, Ana Noviani, Lorenzo Anugrah Mahardhika)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Pilah-Pilah Saham CPO Dari Emiten Grup Astra Hingga TP Rachmat

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ