Platform Tekfin Menjamah Aplikasi Serba Bisa

Platform teknologi finansial menjamah aplikasi serba bisa  sebagai langkah ekspansi. Simak penjelasannya.

Aziz Rahardyan
Oct 31, 2021 - 6:04 PM
A-
A+
Platform Tekfin Menjamah Aplikasi Serba Bisa

Platform teknologi finansial menjamah aplikasi serba bisa  sebagai langkah ekspansi. (Bisnis/Istimewa)

Bisnis, JAKARTA— Tren munculnya platform aplikasi serba bisa yang memiliki layanan finansial dalam ekosistemnya.

Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Imansyah menyebut tren maraknya teknologi finansial (tekfin) dalam aplikasi serba bisa merupakan keniscayaan, baik yang dikembangkan murni oleh pemain lembaga keuangan atau tekfin maupun dari platform sektor lain yang pada akhirnya merambah tekfin ekosistemnya.

"Sebagai contoh, super apps dari platform ride-hailing yang tadinya di sektor transportasi, sekarang bisa sampai memberikan layanan finansial, asuransi, sampai investasi. Jadi di era digital ini tampak perilaku konsumen sebegitu pentingnya, untuk meningkatkan kapasitas platform dalam berekspansi dan menempatkan dirinya di posisi bisnis yang lebih baik," jelasnya. 

OJK sendiri sebenarnya menyambut baik adanya tren ini. Pasalnya, platform pada akhirnya bisa menjadi portal dalam memberikan layanan yang luas dan beragam, termasuk ikut memperkenalkan produk-produk finansial yang sebelumnya belum terpikirkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. 

"Maka, competitive advantage dari para super apps ini saya melihat ternyata makin relevan untuk merangkul kalangan masyarakat yang belum sepenuhnya bankable. Super apps tampak bisa mengatasi berbagai hambatan mereka, supaya punya akses yang sama dalam memeroleh layanan finansial," katanya. 

Namun demikian, OJK memahami kemampuan yang mumpuni butuh dukungan infrastruktur digital yang besar. Terutama soal bagaimana kompetensi platform dalam mengelola big data dan komputasi awan sampai mengatasi bertambahnya risiko-risiko di dalam operasional bisnis. 

OJK mengingatkan agar super apps yang memiliki ekosistem tekfin di dalamnya, jangan sampai keluar dari tata kelola lembaga jasa keuangan yang baik dan kerangka umum manajemen risiko lembaga jasa keuangan. 

Selain itu, platform harus mempersiapkan diri dalam mengatasi risiko sistemik dan risiko siber, serta terus bersiap melengkapi ketentuan-ketentuan baru dari regulator berkaitan hal ini. 

Terakhir, Imansyah mengingatkan soal perlindungan data konsumen, serta bagaimana menjamin platform bersih dari aktivitas pencucian uang dan transaksi terorisme. 

"Apabila semua hal ini terjaga, harapannya fintech bisa memperbesar manfaat dan saling melengkapi perannya dengan lembaga jasa keuangan konvensional. Kami mencoba terus menjaga kualitas governance fintech yang lebih baik, sehat, dan berkelanjutan, dan semoga turut berdampak positif buat perekonomian nasional," tuturnya. 

Direktur Utama Moxa, Daniel Hartono mengatakan sebagai perwakilan aplikasi super besutan PT Sedaya Multi Investama (Astra Financial) yang merupakan perantara semua produk jasa keuangan Grup Astra pun sepakat bahwa mitigasi risiko siber harus kuat, karena data perilaku konsumen

Dia menyebut tugasnya kali ini yaitu mengantisipasi serangan siber. Sekadar informasi, aplikasi serba bisa ini mewadahi Maucash sebagai tekfin pemberi pinjaman konsumtif dan layanan bayar tunda (paylater), empat perusahaan pembiayaan sekaliber Astra Credit Companies (ACC), Toyota Astra Finance (TAF), FIF Group, dan Surya Artha Nusantara Finance (SANF) serta duo asuransi Astra Life dan Asuransi Astra.

Dia mengakui di balik tantangan keamanan siber, ada potensi kemitraan yang bisa dijajaki. Salah satunya merangkul Gojek.

Adapun, Gojek masih dalam portofolio Grup Astra karena sebelumnya sempat mendapat pendanaan US$250 juta.

"Kalau dilihat sekarang memang 90 persen layanan Moxa masih bagian dalam ekosistem internal Astra. Tapi kami terbuka terhadap kolaborasi. Kami juga tengah memulai proses integrasi dengan entitas digital yang Astra lakukan investasi," katanya.

Pasalnya, Daniel menilai pasar Indonesia sangat besar dengan beragam kebutuhan layanan finansial terkait. Fenomena ini pada akhirnya membawa peluang kolaborasi lebih luas, seiring perkembangan teknologi pemrograman aplikasi antarmuka (application programming interfaces/API) yang makin memudahkan pengembang platform.

Sebelumnya, perusahaan menggandeng layanan perbankan besutan PT Bank Permata Tbk. bertajuk Permata MoxaKu. Melalui kerja sama ini, pengguna dapat menggunakan tabungan terintegrasi ini untuk menerima pencairan dana dari berbagai jasa pembiayaan di Moxa, membayar cicilan kendaraan di multifinance terafiliasi Moxa, membayar premi asuransi, membayar jasa sewa kendaraan, dan isi saldo dompet digital Astra Pay.

"Karena pada akhirnya, terlalu besar market [Indonesia] ini bisa kami layani sendirian. Apalagi, super apps itu kan butuh satu kelengkapan produk yang 360 derajat which is kalau semua dikembangkan sendiri akan memakan waktu lama untuk suatu produk bisa tersaji ke konsumen," katanya.

Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar