Free

PLN Bangun SUTT 150 kV Selat Sebuku di Kalimantan Selatan

SUTT 150 kV Selaru-Sebuku dengan investasi sebesar Rp175,64 miliar tersebut memiliki panjang lintasan sekitar 76,04 kilometer sirkuit (kms) dan ditopang oleh 114 tower.

Ibeth Nurbaiti

21 Nov 2022 - 12.00
A-
A+
PLN Bangun SUTT 150 kV Selat Sebuku di Kalimantan Selatan

Jaringan transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) berkapasitas 150 kilovolt (kV) Selaru-Sebuku di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Bisnis/Dok. PLN

Bisnis JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT) berhasil membangunan jaringan transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) berkapasitas 150 kilovolt (kV) Selaru-Sebuku di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.

Josua Simanungkalit, General Manager PLN UIP KLT, menjelaskan bahwa SUTT 150 kV Selaru-Sebuku dengan investasi sebesar Rp175,64 miliar tersebut memiliki panjang lintasan sekitar 76,04 kilometer sirkuit (kms) dan ditopang oleh 114 tower.

Baca juga: Tenaga Baru PLN Mengejar Target Rasio Elektrifikasi Daerah 3T

Sebanyak enam tower dibangun tepat di atas perairan Selat Sebuku, dan tiga tower di antaranya merupakan tower spesial yang memiliki ketinggian lebih dibandingkan dengan tower standar. 

Tinggi tower yang tidak biasa tersebut untuk mengakomodir lalu lintas kapal yang berada di perairan Selat Sebuku. “Kehadiran infrastruktur ini bakal meningkatkan keandalan listrik di Pulau Sebuku, di mana 1.981 pelanggan yang sebelumnya hanya bisa menikmati listrik 12 jam, nantinya bisa menikmati listrik 24 jam,” ujar Josua dalam keterangannya dikutip Senin (21/11/2022).

Baca juga: Ironi di Negeri Kaya Sumber Energi, Surplus Gas tetapi Impor

Selain itu, dengan adanya jaringan transmisi SUTT 150 kV yang memanfaatkan 86,7 persen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan mampu menyerap tenaga kerja lokal hingga 539 orang tersebut juga dapat mendukung kebutuhan industri PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO).

“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang mendukung kemajuan Provinsi Kalsel melalui pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan,” tuturnya. 

Menurut Josua, dengan penyelesaian dan pengoperasian transmisi SUTT 150 kV tersebut membuat perusahaan listrik pelat merah itu kian siap melistriki kebutuhan pelanggan, termasuk pelanggan tegangan tinggi. 

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Kotabaru Said Akhmad menyebutkan bahwa pihaknya turut mengawal proyek tersebut karena nantinya akan mendukung program perencanaan dan pengembangan daerah.

Baca juga: Krisis Batu Bara PLTU Membuat BPP Listrik PLN Membengkak

“Alhamdulillah dengan keberhasilan penyaluran tegangan tinggi ini, masyarakat di Kecamatan Pulau Sebuku dapat menikmati listrik 24 jam, dan tentu kawasan industri Sebuku akan lebih cepat berkembang,” kata Said.

Sebagaimana diketahui, PLN terus berupaya meningkatkan keandalan sistem kelistrikan nasional, salah satunya dengan mempercepat pembangunan jaringan transmisi di berbagai wilayah.

Sebelumnya, PLN Unit Induk Pembangunan Sulawesi mempercepat pembangunan jaringan transmisi SUTT berkapasitas 150 kV ruas Raha–Baubau, yang menjadi jaringan transmisi 150 kV antarpulau pertama di Sulawesi.

Baca juga: Kucuran Deras Pembiayaan Hijau untuk Transisi Energi PLN

Jaringan transmisi SUTT 150 kV Raha-Baubau menghubungkan Pulau Muna dan Pulau Buton sejauh 99,625 kilometer route (kmr) mulai dari Gardu Induk (GI) 150 kV Raha sampai GI 150 kV Baubau dengan total jumlah tower sebanyak 278 unit.

Di sisi lain, dengan masih adanya sejumlah daerah yang belum teraliri listrik, khususnya di wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan atau 3T menjadi tantangan bagi PLN untuk memenuhi target 100 persen rasio elektrifikasi nasional.


Berdasarkan catatan perusahaan listrik pelat merah itu, rasio elektrifikasi nasional per Juni 2022 masih 97,4 persen lantaran masih ada sejumlah daerah seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang rasio elektrifikasinya di bawah 95 persen. Sementara itu, wilayah lainnya kecuali Jakarta dan Bali yang sudah 100 persen, rasio elektrifikasinya masih di bawah 100 persen.

Rasio elektrifikasi merupakan parameter untuk melihat perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan jumlah total penduduk di suatu wilayah atau negara.

Baca juga: Daftar ‘Donor’ untuk Transisi Energi dan ‘Suntik Mati’ PLTU RI

Berdasarkan perhitungan PLN, perseroan itu membutuhkan suntikan modal mencapai sekitar Rp20 triliun untuk mencapai rasio elektrifikasi dan rasio desa berlistrik 100 persen selama kurun waktu 2023—2024 mendatang.

Dana elektrifikasi itu bakal dialokasikan untuk kawasan Jawa, Madura, dan Bali sebesar Rp2,03 triliun, regional Sumatra dan Kalimantan sebesar Rp9,93 triliun, dan Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara mencapai Rp6 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.