PLN Segera Terbitkan RUPTL Baru, Tidak Ada PLTU Batu Bara Anyar

Dalam waktu dekat, PLN segera menerbitkan RUPTL baru. PLN merencanakan porsi penambahan pembangkit listrik EBT mencapai 75 persen dari total rencana penambahan pembangkit hingga 2040.

Ibeth Nurbaiti

12 Sep 2023 - 06.31
A-
A+
PLN Segera Terbitkan RUPTL Baru, Tidak Ada PLTU Batu Bara Anyar

Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dalam RUPTL PLN terbaru nantinya penambahan pembangkit listrik berbasis EBT direncanakan mencapai 60 gigawatt (GW) atau 75 persen dari total penambahan pembangkit listrik sampai dengan 2040, tanpa ada PLTU batu bara baru. Bisnis-Dok. PLN

Bisnis, JAKARTA—PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berencana memperbesar porsi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) menjadi 75 persen dalam rencana penyediaan tenaga listrik (RUPTL). Dalam waktu dekat, PLN segera menerbitkan RUPTL baru tersebut. 

Saat ini, perseroan diketahui tengah membahas revisi RUPTL 2021—2030 bersama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam rancangan revisi RUPTL tersebut, PLN merencanakan porsi penambahan pembangkit listrik EBT mencapai 75 persen dari total rencana penambahan pembangkit hingga 2040.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan bahwa pembahasan revisi RUPTL tersebut cenderung lebih cepat lantaran berkas RUPTL telah selaras dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dari Kementerian ESDM.

Baca juga: Ambisi PLN Membangun Interkoneksi Listrik Lintas Negara Asean

“Tapi ternyata kok [selaras dengan] RUKN dari tempatnya Pak Jisman [Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM] yang dilaporkan ke kami. Kami begitu dipaparkan plong legane karena RKUN yang dipaparkan Pak Jisman dengan rencana RUPTL yang kami bawa sama plek,” kata Darmawan dalam acara Nusantara Power Connect 2023, Senin (11/9/2023).

Selama ini, imbuhnya, RUKN dan RUPTL tidak pernah selaras dan cenderung bertolak belakang. “Selama ini RUKN entah ke mana, RUPTL entah ke mana lagi. Rencana kerja anggaran perusahaan entah ke mana. Baru tahun ini RUKN dan RUPTL apa namanya, kompak,” tuturnya.

Sebagai gambaran, Darmawan menyebutkan bahwa dalam RUPTL terbaru nantinya penambahan pembangkit listrik berbasis EBT direncanakan mencapai 60 gigawatt (GW) atau 75 persen dari total penambahan pembangkit listrik sampai dengan 2040. 

Baca juga: Langkah Maju PLN 'Menghijaukan' Pembangkit Listrik

Dia juga mengungkapkan bahwa untuk penambahan pembangkit di luar EBT nantinya direncanakan berasal dari pembangkit listrik berbasis gas, mengingat pengurang emisi pada gas 60 persen lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit listrik berbasis batu bara.

Artinya, sekitar 25 persen penambahan pembangkit PLN akan berbasis gas sehingga tidak ada penambahan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dalam RUPTL PLN terbaru nantinya. 


Dalam rencana perubahan RUPTL ini, PLN juga akan membangun green enabling transmission line. Pembangunan transmisi jaringan listrik ini diperlukan untuk mengatasi mismatch antara ketersediaan sumber EBT baseload dengan pusat permintaan listrik. 

Hal itu dikarenakan sumber-sumber EBT baseload skala besar terletak di daerah yang jauh dan berpencar dari lokasi permintaan listrik. Selain itu, PLN juga akan membangun smart grid untuk dapat memperbesar porsi penambahan pembangkit EBT berjenis intermittent atau variable EBT menjadi 28 GW sampai dengan 2040, dari sebelumnya yang hanya bisa mencapai maksimal 5 GW. 

“Dengan adanya penambahan green enabling transmission line dan juga smart grid, maka kita akan mampu membangun EBT dari semua potensi yang ada di Nusantara, dari hidro, geothermal, angin, surya, ombak,” ujar Darmawan.

Baca juga: Ancang-ancang Kuat Jepang Keluar dari Bisnis PLTU Batu Bara RI

Untuk diketahui, dalam RUPTL 2021—2030 PLN mencanangkan porsi pengembangan pembangkit listrik berbasis EBT sebesar 51,6 persen dan energi fosil 48,4 persen.  Adapun, kapasitas pembangkit EBT akan ditambah hingga 20.923 megawatt (MW). 

Kapasitas ini terbagi atas pembangkit listrik tenaga air (PLTA/M/MH) mencapai 10.391 MW, PLTB 597 MW, PLT Bio 590 MW, PLTP 3.355 MW, PLTS 4.680 MW. PLT EBT Base 1.010 MW, dan battery energy storage system (BESS) 300 MW.

Sementara itu, tambahan kapasitas pembangkit energi fosil didominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU/MT) 13.819 MW, PLTG/GU/MG 5.828 MW, serta PLTD sebesar 5 MW. Total penambahan kapasitas pembangkit fosil adalah 19.652 MW. Secara keseluruhan, penambahan kapasitas listrik direncanakan mencapai 40.575 MW sampai dengan 2030.  


Tak bisa dimungkiri, rencana PLN meningkatkan porsi penambahan pembangkit listrik berbasis EBT dalam perubahan RUPTL dinilai sudah sejalan dengan upaya pencapaian target nol emisi karbon (net zero emission/NZE) pada 2050.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa melihat bahwa apa yang dilakukan oleh PLN sesuai dengan ketentuan peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik atau Perpres EBT.

“Ketentuan Perpres 112/2022 membuat PLN tidak lagi menambah PLTU baru di luar yang sudah kontrak. Jadi pertumbuhan listrik mendatang harus dipenuhi dari pembangkit energi terbarukan dan gas,” kata Fabby kepada Bisnis, dikutip Selasa (12/9/2023).

Baca juga: Menguatkan Titik Tumpu Indonesia sebagai Gudang Karbon Asean

Terlebih dengan adanya target mencapai karbon netral pada 2050, Fabby melihat memang perlu adanya pengembangan pembangkit listrik EBT secara masif. “Di sektor listrik, NZE di 2050. Untuk itu, maka di tahun 2030 bauran energi terbarukan harus mencapai 38 persen sampai 42 persen. PLN harus meningkatkan energi terbarukan besar-besaran,” ujarnya.

Namun, dalam menggenjot pengembangan EBT, Fabby melihat sisi finansial PLN bisa menjadi salah satu penghambat dari terealisasikannya rencana ini. Untuk itu, PLN perlu mempertimbangkan teknologi EBT yang akan dikembangkan dan berinvestasi pada teknologi EBT yang sudah terbukti agar tak membebani finansial perseroan.


Fabby mencontohkan, pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) saat ini masih tergolong sangat mahal, termasuk pengembangan small modular reactor (SMR) yang sampai hari ini belum terbukti secara komersial. “Intinya, jangan sampai PLN mengeluarkan biaya untuk teknologi yang tidak proven,” ucap Fabby.

Adapun, berdasarkan catatan Kementerian ESDM, realisasi kapasitas terpasang dari sumber EBT telah mencapai 12,55 GW atau lebih dari target yang dipatok sepanjang 2022 di level 12,52 GW. 

Dari jumlah tersebut, 8,68 GW merupakan pembangkit listrik EBT ongrid atau tersambung dengan jaringan listrik PLN, dan selebihnya atau 3,87 GW adalah pembangkit listrik EBT offgrid. (Lukman Nur Hakim)

Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.