PLN Ungkap 8 Cara Mengurangi Emisi Karbon untuk Transisi Energi

Bertepatan dengan SOE International Conference, perusahaan listrik pelat merah itu akan menjelaskan kepada para delegasi langkah-langkah strategis perseroan dalam memaksimalkan teknologi dan inovasi dalam pengurangan emisi karbon dan mendorong transisi energi.

Ibeth Nurbaiti

17 Okt 2022 - 08.30
A-
A+
PLN Ungkap 8 Cara Mengurangi Emisi Karbon untuk Transisi Energi

Foto udara area Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di wilayah Tanjung Tiram, Kecamatan Moramo Utara, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin (19/9/2022). PLTU berkapasitas 2 x 50 megawatt yang dibangun PT Dian Swastika Sentosa Power Kendari dengan nilai investasi sekitar Rp2,6 triliun itu saat ini telah terkoneksi sampai di Sulawesi bagian barat dan Sulawesi selatan sementara untuk Sulawesi Tenggara wilayah kepulauan masih dalam tahap pembangunan menara tiang sutet. ANTARA FOTO/Jojon

Bisnis, NUSA DUA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) diketahui akan memamerkan delapan cara memangkas emisi karbon untuk mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 dalam acara State-owned Enterprises (SOE) International Conference yang diselenggarakan hari ini dan besok atau 17—18 Oktober.

Sebagai bagian dari komitmen global untuk mengurangi emisi karbon, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, seperti dikutip Bisnis.com, menjelaskan bahwa PLN telah memprakarsai delapan upaya.

Baca juga: Adu Strategi AKR, Shell, Vivo Berebut Pasar BBM Pertamina

Bertepatan dengan SOE International Conference, perusahaan listrik pelat merah itu akan menjelaskan kepada para delegasi langkah-langkah strategis perseroan dalam memaksimalkan teknologi dan inovasi dalam pengurangan emisi karbon dan mendorong transisi energi.

“Dengan berkolaborasi, kami juga memastikan akan terus menyediakan pasokan listrik yang andal dan bersih untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Darmawan.

Baca juga: Resah dan Gelisah Mengejar Target Lifting di Tengah Tuntutan EBT

Secara terperinci, setidaknya ada delapan cara yang akan ditempuh PLN untuk mengurangi emisi karbon, yakni pertama, PLN akan mempensiunkan PLTU secara bertahap. Langkah ini dinilai paling efektif untuk bisa mengurangi emisi karbon di sektor kelistrikan sekaligus mengurangi penggunaan batu bara sebagai energi fosil.

Kedua, PLN secara paralel juga mengimplementasikan teknologi co-firing biomassa di pembangkit berbasis fosil yang masih beroperasi guna mengurangi penggunaan energi fosil serta emisi yang dihasilkan,” tuturnya.


Gerakan ekonomi energi kerakyatan melalui co-firing yang sudah dilakukan badan usaha serta pemerintah daerah tersebut akan mendongkrak perekonomian masyarakat.

Ketiga, PLN juga akan mengakselerasi penambahan pembangkit listrik berbasis energi bersih.

Hingga 2025 mendatang PLN akan menambah 3 gigawatt (GW) pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) dengan total tambahan kapasitas terpasang 20,9 GW dari 2021—2030 mendatang.

Baca juga: Ketar-Ketir Industri Domestik Dibayangi Pasokan Ketat Batu Bara

Keempat, PLN memberikan layanan Renewable Energy Certificated (REC) sebagai salah satu fasilitas yang bisa digunakan baik oleh stakeholder BUMN, pemerintahan, retail, bisnis, maupun industri untuk bisa bersama-sama menggunakan energi listrik berbasis EBT.

Kelima, PLN juga mendukung ekosistem kendaraan listrik dengan gencar menciptakan skema kerja sama bersama mitra melalui franchise pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) bersama perbankan, mall-mall, kantor-kantor, swasta, operator jasa transportasi, dealer motor dan lain-lain sehingga akan ada ribuan SPKLU dan SPBKLU yang difasilitasi PLN.

Baca juga: LNG Tangguh Train 3 Dikebut, PLN Dibayangi Kenaikan Harga Gas

Keenam, PLN juga mengembangkan Carbon Capture and Storage (CCS) sehingga bisa menjadi teknologi penyerap emisi karbon dalam jumlah besar di PLTU dan PLTG.

Selanjutnya, PLN mengembangkan teknologi hidrogen untuk menurunkan emisi dari pembangkit berbahan bakar fosil melalui implementasi co-firing hidrogen dan amonia.

Terakhir, PLN mengembangkan teknologi Smart Grid & Control System. Penerapan tersebut bakal meningkatkan efisiensi sistem sekaligus mengurangi emisi melalui digitalisasi pada tiap lini proses bisnis.

“Perkembangan teknologi dan inovasi mampu menekan harga dari pengembangan EBT. Ini menjawab dilema antara energi bersih tapi mahal atau energi kotor tapi murah. Ini bisa dijawab, bahwa ke depannya energi bersih dan murah bisa dicapai,” kata Darmawan.

Baca juga: PLN Ungkap Kriteria PLTU Batu Bara yang akan Ditutup demi EBT

Sementara itu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I, Pahala N. Mansury menyebutkan langkah PLN dalam mencapai NZE pada 2060 merupakan wujud aktif perseroan sebagai jantung perekonomian dan motor penggerak transisi energi Indonesia.

Upaya tersebut juga untuk mendukung pembangunan rendah karbon sejalan dengan Paris Agreement dan target pengurangan emisi gas rumah kaca Indonesia hingga 31.89 persen pada 2030.

Baca juga: Lonjakan Subsidi dan Kompensasi BBM di Depan Mata

“Komitmen PLN dalam mewujudkan dekarbonisasi dan menggerakkan transisi energi di antaranya dengan mengakselerasi pengurangan penggunaan aset PLTU batu bara serta percepatan pembangunan EBT untuk meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi,” jelas Pahala.

Hal tersebut juga sesuai dengan Updated National Determined Contribution (NDC) yang dirilis pemerintah pada September lalu menjelang COP27 bulan depan.

Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.