Potensi Melambatnya Inflasi di Awal Tahun

Responden survei Bank Indonesia meyakini bahwa penurunan penjualan eceran akan menurunkan tekanan inflasi pada Januari 2023.

Jaffry Prabu Prakoso

10 Des 2022 - 10.42
A-
A+
Potensi Melambatnya Inflasi di Awal Tahun

Pedagang pasar menawarkan sembako. Bisnis-Abdurachman

JAKARTA — Responden survei penjualan eceran oleh Bank Indonesia meyakini bahwa akan terjadi penurunan laju inflasi pada Januari 2023. Namun, tetap terdapat kekhawatiran kenaikan setelahnya.

Berdasarkan survei tersebut, indeks ekspektasi penjualan (IEP) Januari 2023 tercatat ada di 150,6. Angkanya lebih rendah dari IEP November 2022 di 152,0, yang menunjukkan adanya keyakinan penurunan penjualan eceran.

Responden meyakini bahwa penurunan penjualan eceran akan turun menurunkan tekanan inflasi. Sepanjang tahun berjalan, laju inflasi terus mengalami kenaikan, seiring tingginya harga komoditas dan energi, serta dampak tekanan ekonomi global.


Meskipun begitu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengatakan bahwa IEP April 2023 tercatat ada di 146,9, atau naik dari bulan sebelumnya di 144,0. Menurut BI, hal tersebut menunjukkan adanya keyakinan responden bahwa inflasi akan kembali meningkat.

“Dari sisi harga, responden memperkirakan bahwa tekanan inflasi pada Januari 2023 menurun dan April 2023 sedikit meningkat, sejalan dengan perkiraan penjualannya,” katanya dikutip dari laporan BI pada Jumat (9/12/2022).

Indeks ekspektasi harga umum (IEH) Januari 2023 tercatat di 138,0, turun dari 146,0 pada Desember 2022. Adapun IEH April 2023 tercatat di 140,8, sedikit meningkat dari 140,7 pada bulan sebelumnya.

Baca juga: Inflasi 2022 Mungkin di Bawah 6 Persen, Defisit APBN Menyempit

Peningkatan IEH itu didorong oleh kenaikan harga saat hari besar keagamaan nasional (HBKN) Idulfitri.

“Peningkatan pada IEP 2023 diprakirakan didorong HBKN idulfitri sehingga diprakirakan akan meningkatkan permintaan, di tengah keadaan cuaca/musim yang mendukung, kelancaran distribusi barang, dan program promosi yang dilakukan responden,” dikutip dari laporan BI. 

Penjualan Eceran November Tumbuh Positif

Sementara itu, kinerja penjualan eceran diprakirakan tumbuh positif pada November 2022. Itu bisa dilihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR)

Erwin mengatakan bahwa IPR November tercatat sebesar 204,2. Angka tersebut tumbuh positif 1,6 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu (YoY). 

Baca juga: Menghitung Ketahanan Ekonomi Indonesia dari Sisi Manufaktur

“Kinerja penjualan eceran yang tumbuh positif tersebut diprakirakan didorong oleh tetap kuatnya pertumbuhan subkelompok sandang; kelompok barang budaya dan rekreasi; serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” katanya.

Secara bulanan, Erwin menjelaskan bahwa penjualan eceran bulan diprakirakan tumbuh sebesar 0,7 persen dibandingkan bulan lalu (MtM). 

Kelompok bahan bakar kendaraan bermotor, makanan, minuman dan tembakau, serta peralatan informasi dan komunikasi diprakirakan mengalami perlambatan karena permintaan yang terbatas dan keadaan musim/cuaca yang kurang mendukung.

Pada Oktober, pertumbuhan penjualan eceran secara bulanan mengalami peningkatan. IPR di bulan tersebut tercatat tumbuh sebesar 2,3 persen (MtM). Realisasi tersebut membaik dari bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 1,8 persen (MtM). 


Karyawan di industri manufaktur. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meminta pemda memonitor penurunan di industri manufaktur, terutama sektor padat karya,/Bisnis-Abdullah Azzam 
Sementara itu, perbaikan terjadi pada seluruh kelompok, didukung membaiknya kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang didorong kelancaran distribusi. Lalu diikuti subkelompok sandang yang didorong oleh program diskon yang diterapkan sejumlah ritel, dan kelompok suku cadang dan aksesori sejalan dengan berkurangnya kontraksi. 

Apabila dilihat secara tahunan, kinerja penjualan eceran juga tercatat tumbuh positif yang tercermin dari IPR Oktober 2022 sebesar 202,7, atau tumbuh positif sebesar 3,7% (YoY). 

“Kinerja tersebut ditopang oleh perbaikan pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi, di tengah penurunan kinerja kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya dan suku cadang dan aksesoris serta perlambatan subkelompok sandang dan bahan bakar kendaraan bermotor,” jelas Erwin. (Wibi Pangestu Pratama)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.